Harapan Kemandirian Bangsa: Dari Pemulihan Tambang Grasberg Hingga Masa Depan Tambang Kucing Liar Freeport Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, saat menyampaikan paparannya dalam RDP Komisi XII DPR RI dengan Dirut MIND ID beserta seluruh Dirut Subholding, di Jakarta, Selasa (15/9/2026) (salampapua.com/Foto: Tangkapan layar TV Parlemen DPR RI)

Harapan Kemandirian Bangsa: Dari Pemulihan Tambang Grasberg Hingga Masa Depan Tambang Kucing Liar Freeport

SALAM PAPUA (TIMIKA) - Dari ruang rapat yang penuh keagungan di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (15/9/2026), suara membawa harapan dari lembah-lembah pegunungan Mimika bergema lantang. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI dengan Dirut MIND ID beserta seluruh Dirut Subholding, menyampaikan laporan yang bukan sekadar angka, melainkan denyut nadi kekayaan bumi Papua yang perlahan kembali berdetak kencang demi kedaulatan negeri.

Pemulihan Tambang Grasberg Pasca Insiden September 2025

Dengan penuh kejujuran, Tony mengawali laporannya dengan mengungkapkan bahwa proyeksi penambangan PTFI di tahun 2026 ini adalah 124.000 ton bijih per hari. Angka itu, dibandingkan kapasitas normal yang mencapai 200.000 ton per hari, berarti baru sekitar 65 persen dari potensi sesungguhnya.

Belum pulih sepenuhnya, semua mata tahu alasannya. Longsoran material basah pada September tahun lalu bagai mimpi buruk yang menyisakan luka, aliran terhenti, peralatan harus disesuaikan, penampung bijih dimodifikasi agar kelak lebih kokoh. Namun itu adalah masa lalu yang kini menjadi pelajaran untuk masa depan yang lebih tangguh.

“Jadi untuk tahun ini, kita masih dalam kapasitas sekitar 65 persen dari kapasitas normal. Ini disebabkan oleh adanya longsoran material basah pada bulan September tahun yang lalu,” ujarnya.

Langkah demi langkah, pemulihan itu datang. Tahun depan, pada tahun 2027, produksi diproyeksikan menyentuh 170.000 ton bijih per hari, atau sekitar 75 persen dari kapasitas normal.

Kemudian pada tahun 2028 menjadi titik balik gemilang, dimana diproyeksikan mencapai 208.000 ton per hari, atau mendekati 100 persen dari kapasitas normal.

Dan di tahun-tahun setelahnya, pada tahun 2029 hingga tahun 2030, angkanya diproyeksikan melesat melampaui 220.000 ton bijih per hari. Sungguh aliran kekayaan yang tak lagi terhambat, mengalir deras dari perut bumi untuk seluruh bangsa.

Angka bijih itu bukan sekadar batu dan tanah. Di dalamnya tersimpan logam yang menjadi tulang punggung kemakmuran.

Di tahun 2026, di tengah masa pemulihan, PTFI akan bisa memproduksi 800 juta pounds tembaga dan 700 ribu ounces emas, setara 21 ton emas.

Pada tahun 2027, langit akan semakin cerah, di mana diproyeksikan PTFI akan menghasilkan 1,3 miliar pon tembaga dan 1 juta ons emas, atau sekitar 31 ton emas.

Sedangkan mulai tahun 2028 dan seterusnya, diproyeksikan PTFI akan memproduksi tembaga menyentuh 1,6 miliar pon dan emas mencapai 1,3 juta ons, atau sekitar 40 ton emas yang tiada henti diberikan bumi Mimika kepada anak-anak bangsa.

Semua ini seiring bangkitnya kembali Grasberg Block Caving yang sempat terpuruk, kini berdiri tegak kembali.

Cerita pemulihan itu juga terukir di kilau logam yang dibawa ke permukaan. Pabrik Smelter baru PTFI yang sempat terhenti pasokan konsentratnya, kini kembali bernapas.

Pada Agustus 2026 menjadi awal yang dinanti, dan pada September 2026 ini, pabrik Smelter baru PTFI itu akhirnya memberikan hasil pertamanya, yakni 5.000 ton katoda tembaga. Dan di bulan Oktober 2026, angkanya melonjak menjadi 35.000 ton, bukti bahwa roda kemakmuran berputar semakin kencang. Emas pun tak kalah bersinar, produksinya akan melonjak tajam di tahun 2027, seiring akan mulai beroperasinya Blok 1 Grasberg Block Caving.

“Jadi total di tahun 2026 ini, ada 800 juta pounds tembaga yang dihasilkan dari 2 Smelter yaitu PT Smelting sebesar 600 juta pounds tembaga dan juga di Smelter PTFI sebesar 200 juta pounds tembaga, dan akan dihasilkan juga emas sebesar kira-kira 700.000 ounces, yang kalau ditonasekan menjadi 21 ton. Dan juga ada perak batangan yang akan dihasilkan di dalam Smelter PTFI itu sebesar 103 ton. Juga ada produk lainnya yaitu asam sulfat, total dari PT Smelting dan Smelter PTFI itu akan menghasilkan 1,4 juta ton dan juga ada perak tembaga yang jumlahnya kira-kira 900.000 ton,” ungkap Tony memperjelas laporannya.

Tony kemudian mengungkapkan dampaknya bagi penerimaan negara, di mana untuk proyeksi tahun 2026 ini, rencana penerimaan negara adalah 2,6 Miliar dolar atau sekitar Rp 40 Triliun, yang terdiri dari pajak, dividen dan PNBP lainnya.

“Ini dengan asumsi harga tembaga 4,75 dollar per pound dan harga emas 4000 dolar per ounce. Sementara harga per hari ini untuk tembaga itu 6,5 dolar per pound dan emas kira-kira 4.500 dolar per ounce,” tuturnya.

Pada tahun 2027, angka itu kemudian diproyeksikan akan melonjak menjadi 4,6 miliar dolar. Dan mulai pada tahun 2028, 2029, dan seterusnya, penerimaan negara diproyeksi menyentuh 8 miliar dolar per tahun, atau lebih dari Rp 120 Triliun yang masuk ke kas negara setiap tahunnya.

Tambang Kucing Liar Freeport: Babak Baru Harapan Kemandirian Bangsa

Sementara itu, ada kabar yang lebih menyejukkan hati, sebuah janji masa depan yang kini mulai diwujudkan. Tambang Kucing Liar, tambang penerus, harapan baru, yang sudah memasuki tahap pembangunan. Mulai ditambang pada 2029, tambang Kucing Liar akan menjadi tonggak perjalanan panjang setelah tambang Grasberg.

“Dan juga saya informasikan di sini bahwa tambang kucing liar yang merupakan tambang masa depan kami, itu sudah mulai kami kerjakan dari sekarang dan sudah memasuki tahap development dan akan bisa mulai ditambang tahun 2029,” ungkap Tony.

Tony menambahkan bahwa dana yang telah digelontorkan PTFI hingga saat ini untuk pengembangan tambang baru ini adalah Rp 25 Triliun.

“Kalau kita lihat proyeksi 2029 di grafik yang sebelah kiri paling atas itu ada warna biru, ini adalah hasil dari kucing liar yang sudah mulai di tambang, dan kami telah menghabiskan Rp 25 Triliun kira-kira untuk pengembangan tambang kucing liar ini, dari totalnya sebesar Rp 72 Triliun sampai dengan 2033,” tambahnya.

Di balik deretan angka produksi dan proyeksi penerimaan negara, tersimpan pula manfaat yang mengalir deras ke tanah tempat kekayaan itu diambil, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, dan masyarakat asli yang sejak dulu menjaga puncak-puncaknya. Kehadiran PTFI bukan sekadar aktivitas pertambangan, ia menjadi nadi ekonomi yang mengubah wajah wilayah ini selangkah demi selangkah.

Manfaat Bagi Kabupaten Mimika: Tulang Punggung Ekonomi Daerah

Kabupaten Mimika adalah wilayah yang paling langsung merasakan denyut nadi ekonomi dari keberadaan PTFI. Data Badan Pusat Statistik mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Mimika pada tahun 2025 menembus Rp 131,07 Triliun, di mana sektor pertambangan dan penggalian menyumbang Rp 114,48 Triliun atau sekitar 85 persen dari total perekonomian daerah.

Kontribusi fiskal pun mengalir nyata. Sepanjang tahun 2025, bagian keuntungan bersih perusahaan yang diterima Kabupaten Mimika mencapai Rp 1,2 Triliun, porsi terbesar dibandingkan daerah lainnya di wilayah ini.

Jika dijumlahkan dari berbagai sumber, royalti, dana bagi hasil, PNBP, dan pembagian keuntungan, total kontribusi PTFI kepada Kabupaten Mimika dalam satu tahun terakhir menyentuh angka Rp 4,8 Triliun hingga Rp 6 Triliun. Angka-angka inilah yang menjadi fondasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Mimika untuk membangun jalan, sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur publik lainnya.

Untuk lapangan pekerjaan, ekosistem PTFI pada tahun 2025 menyerap sekitar 34.000 tenaga kerja, terdiri dari 6.630 karyawan langsung dan 27.707 tenaga kerja kontraktor. Hal ini menggerakkan roda perekonomian keluarga-keluarga di Mimika, menciptakan permintaan barang dan jasa lokal, serta mendorong tumbuhnya ribuan usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar wilayah operasional.

Manfaat Bagi Provinsi Papua Tengah: Kesejahteraan yang Merata

Manfaat keberadaan PTFI tidak berhenti di batas wilayah Kabupaten Mimika. Ia menjangkau seluruh Provinsi Papua Tengah yang lahir sebagai entitas baru, daerah otonomi baru Papua, yang membawa harapan pemerataan pembangunan.

Dari pembagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025, Provinsi Papua Tengah menerima Rp 720,5 Miliar, sementara tujuh kabupaten lainnya di wilayah ini, Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya, masing-masing menerima Rp 137,2 Miliar, sehingga total yang diterima wilayah Papua Tengah mencapai Rp 2,4 Triliun. Dana-dana ini menjadi modal pembangunan di daerah-daerah yang selama ini membutuhkan sentuhan infrastruktur yang lebih kuat.

Sepanjang periode 2019-2024, total kontribusi ekonomi PTFI kepada wilayah Papua telah menembus Rp 22 Triliun, dan angka ini terus bertambah setiap tahun seiring naiknya harga komoditas dan pulihnya produksi.

Manfaat Bagi Masyarakat Adat: Hasil Bumi Kembali ke Anak Negeri

Bagi masyarakat pemilik hak ulayat di Kabupaten Mimika, Suku Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan, manfaat keberadaan PTFI disalurkan melalui Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), yang mengelola dana kemitraan PTFI.

Komitmen pendanaan ini sangat nyata, untuk periode 2026-2030, PTFI menyalurkan dana sekitar Rp 706 Miliar hingga Rp 830 Miliar per tahun, dan dalam lima tahun ke depan totalnya direncanakan mencapai Rp 4 Triliun. Dana ini difokuskan pada tiga pilar utama, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Di bidang pendidikan, ribuan anak asli Mimika telah menerima beasiswa, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Hingga kini tercatat lebih dari 1.500 pelajar tinggal di asrama yang disediakan, lebih dari 1.400 penerima beasiswa belajar di luar Mimika, dan 902 penerima di dalam daerah.

Program beasiswa berprestasi khusus anak Amungme dan Kamoro kini juga telah melahirkan lulusan-lulusan sarjana yang mulai kembali melayani tanah kelahirannya. Institut Pertambangan Nemangkawi pun didirikan khusus untuk mencetak tenaga kerja terampil putra-putri Papua di sektor industri pertambangan.

Di bidang kesehatan, masyarakat tujuh suku mendapatkan akses pengobatan gratis di Rumah Sakit Mitra Masyarakat dan lima klinik yang dikelola, dengan lebih dari 3 juta kunjungan pasien sejak berdirinya. Program Kampung Sehat menjangkau warga di pedalaman, menurunkan angka kesakitan malaria, menekan angka stunting, serta membangun fasilitas air bersih dan pengolahan air minum di kampung-kampung adat.

Di bidang ekonomi, pemberdayaan masyarakat berjalan melalui pengembangan komoditas kopi, pembinaan koperasi, kemitraan dengan pengusaha lokal, serta pelatihan keterampilan yang memungkinkan warga ikut berpartisipasi dalam rantai pasok perusahaan. Lebih dari 400 pengusaha lokal telah bermitra dengan PTFI, memperkuat kemandirian ekonomi rumah tangga di kampung-kampung.

Bukan sekadar tambang, bukan sekadar logam, melainkan bukti bahwa dari gunung di Tembagapura, di Kabupaten Mimika ini, mampu menopang kemandirian bangsa, menjadikan Indonesia tuan di negerinya sendiri, dan memastikan bahwa hasil bumi kembali kepada anak-anak bangsa, kini dan selamanya.

Penulis: Jimmy