FGD Bela Negara: Anak Muda Papua Tengah Harus Menjadi Objek, Bukan Sekadar Subjek Pembangunan Daerah Suasana FGD yang diselenggarakan DPC BMP Papua dan Komunitas Gen-Z Papua Tengah di aula guest house jalan merdeka, Nabire, Papua Tengah, Jumat (23/10/2026) (salampapua.com/Elias)

FGD Bela Negara: Anak Muda Papua Tengah Harus Menjadi Objek, Bukan Sekadar Subjek Pembangunan Daerah

SALAM PAPUA (NABIRE) - Dewan Pimpinan Cabang Barisan Merah-Putih Papua Republik Indonesia (DPC BMP RI) dan Komunitas Generasi Z Papua Tengah mengajak kepada seluruh anak muda di Papua Tengah tidak hanya menjadi subjek pembangunan, tapi juga harus menjadi objek. Anak muda harus bergerak, anak muda harus aktif, anak muda harus membantu pemerintah dalam menekan angka stunting.

Hal tersebut disampaikan Marsel Asyerem kepada wartawan usai pembukaan Focus Group Discussioon (FGD) Gen-Z yang selenggarakan DPC BMP Papua dan Komunitas Generasi Z Papua Tengah di aula Guest House karang Mulia, Nabire, Papua Tengah, Jumat 23/10/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Generasi Z Papua Tengah aksi nyata sadar stunting, menyebarkan luaskan energi positif bela negara,” ini diikuti puluhan pelajar dan mahasiswa se-Kabupaten Nabire.

Marsel yang juga merupakan Ketua Panitia kegiatan mengatakan, pihaknya melaksanakan kegiatan FGD tersebut berfokus pada peran penting generasi Z dalam mengampanyekan stunting di Papua Tengah serta memberikan dampak positif melalui aksi-aksi nyata dalam bela negara.

"Stunting di Papua Tengah ini cukup tinggi dan kita butuh peran generasi baru, peran generasi muda untuk mengampanyekan isu-isu soal stunting kepada masyarakat," kata Marsel.

Menurut Marsel, anak muda harus tahu apa itu stunting agar nantinya ke depan akan melahirkan generasi baru, tidak melahirkan generasi yang stunting. Karena ketika generasi baru itu ada stunting, maka dia akan mempengaruhi SDM yang ada dan mempengaruhi arah pembangunan di daerah itu.

Di tengah banjirnya disinformasi, Marsel menegaskan peran generasi Z dalam menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi, gadget, handphone, kemudian media sosial.

"Semuanya ini harus dikontrol dengan baik, karena salah satu isu penyebaran informasi hoax terbesar itu dikelola oleh anak muda," katanya.

Dia berharap, generasi Z yang pada kegiatan tersebut dapat menjadi anak muda yang dapat menyebarluaskan energi positif, menyebarluaskan informasi yang positif, dan tidak turut mengampanyekan informasi hoax di media sosial.

Sebagai rencana tindak lanjut setelah kegiatan tersebut, seluruh gen-Z yang hadir akan membentuk satu gerakan yang positif dalam mengampanyekan peran stunting di sekolah-sekolah.

"Jadi kita akan turun ke sekolah-sekolah bekerja sama dengan osis serta memberikan edukasi bela negara ini kepada masyarakat untuk menyebarluaskan informasi yang positif," katanya.

Penulis: Elias

Editor: Jimmy