SALAM PAPUA (TIMIKA) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Mimika menjelaskan bahwa kenaikan harga pakan ternak yang terjadi di pasaran bukan hanya dialami Mimika, melainkan dipengaruhi oleh kondisi nasional.

Kepala Disnakkeswan Mimika, drh. Sabelina Fitriani, mengatakan salah satu faktor utama penyebab kenaikan harga pakan adalah terbatasnya pasokan bahan baku, khususnya jagung yang menjadi komponen utama pembuatan pakan ternak.

“Sekitar 50 persen bahan baku pakan ternak berasal dari jagung. Saat ini stok jagung menipis, sehingga berdampak langsung pada kenaikan harga pakan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (28/1/2026).

Selain keterbatasan jagung, Sabelina menyebut melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut menekan harga pakan, mengingat sebagian bahan baku masih harus didatangkan dari luar negeri. Faktor lain yang mempengaruhi adalah meningkatnya biaya pengiriman dan ekspedisi.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026, harga pakan babi di pasaran mengalami kenaikan sekitar lima persen,” jelasnya.

Saat ini, lanjut Sabelina, harga pakan ternak di Mimika berada pada kisaran Rp470 ribu hingga Rp495 ribu per sak, tergantung jenis dan merek, meskipun masih terdapat sejumlah toko yang menjual pakan dengan harga lama.

Menyikapi kondisi tersebut, Disnakkeswan Mimika mengimbau para peternak untuk memanfaatkan pakan alternatif melalui teknik pencampuran (mixing) bahan baku lokal.

“Kami sudah melakukan sosialisasi pembuatan pakan mixing, dengan mencampur jagung, dedak, dan konsentrat yang ditambahkan asam amino serta mineral. Namun memang, keterbatasan stok jagung masih menjadi tantangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya saat ini juga menunggu kebijakan pemerintah pusat terkait rencana subsidi biaya ekspedisi atau pengiriman pakan dari luar daerah guna menekan harga di tingkat peternak.

“Kami berharap kebijakan dari pemerintah pusat dapat membantu menurunkan harga pakan di daerah. Kami juga mengimbau masyarakat dan peternak agar menyikapi kenaikan ini secara bijak, sembari kami terus memantau perkembangan kebijakan nasional,” tutup Sabelina.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi