SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes)
Mimika, Reynold Rizal Ubra, menjelaskan bahwa kasus malaria di Kabupaten Mimika
pada tahun 2025 mengalami peningkatan. Namun, peningkatan tersebut telah
diperkirakan sebelumnya, yakni berada pada kisaran 150 ribu hingga 200 ribu
kasus per tahun.
“Memang pada tahun 2025 kasus malaria meningkat, namun
setiap tahun kami juga sudah memperkirakan kasus malaria berada pada kisaran
150 ribu sampai 200 ribu kasus,” ujar Reynold, Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, meningkatnya jumlah kasus malaria tersebut
dipengaruhi oleh meningkatnya cakupan pemeriksaan malaria. Pada tahun 2025,
Dinkes Mimika melakukan pemeriksaan terhadap sekitar 1 juta orang, menggunakan
prosedur diagnostik untuk mendeteksi parasit Plasmodium dalam darah, baik
melalui pemeriksaan mikroskop (gold standard) maupun Rapid Diagnostic Test
(RDT).
Jumlah pemeriksaan ini meningkat signifikan dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, pemeriksaan malaria hanya dilakukan
terhadap sekitar 700 ribu orang, sementara pada tahun 2023 sebanyak 500 ribu
orang.
“Karena itu, kami juga akan melakukan evaluasi terhadap
penyelenggaraan pelayanan kesehatan sepanjang tahun 2025,” jelasnya.
Dalam upaya penanganan malaria, Dinkes Mimika terus
melakukan deteksi dini dan pengobatan, serta melanjutkan program pengendalian
vektor yang telah dimulai sejak tahun lalu.
“Tahun lalu kami mencoba pengendalian vektor, dan tahun ini
program tersebut kembali dilanjutkan. Fokusnya adalah mengendalikan tempat
perindukan nyamuk dengan melibatkan partisipasi masyarakat,” jelas Reynold.
Untuk pengendalian vektor, Dinkes Mimika bekerja sama dengan
Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (HAKLI) Cabang Mimika. Program ini
dilaksanakan di beberapa RT di Kelurahan Kamoro Jaya dan terintegrasi dengan
kegiatan Clean Friday atau Jumat Bersih, yang dinilai memberikan dampak
positif.
Selain itu, Dinkes Mimika juga menjalankan program terapi
pencegahan malaria bagi ibu hamil. Program ini terbukti efektif dalam
menurunkan risiko ibu hamil terserang malaria.
“Ibu-ibu hamil yang mengikuti terapi pencegahan ini terbukti
dapat terlindungi delapan hingga sembilan kali lebih baik dibandingkan yang
tidak mengikuti program, sehingga terhindar dari sakit malaria,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

