SALAM PAPUA (TIMIKA) – Seorang pendulang emas tradisional
dilaporkan tewas akibat tembakan di area pendulangan, Distrik Tembagapura, pada
2 Februari 2026.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke rumah duka di Distrik
Kwamki Narama pada 3 Februari 2026. Pihak keluarga membantah tudingan yang
menyebut korban merupakan bagian dari kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Mereka menegaskan korban adalah warga sipil yang sehari-hari bekerja sebagai
pendulang emas.
“Yang tewas ditembak aparat ini benar-benar warga sipil yang
memiliki area pendulangan. Ada oknum yang mengatakan korban bagian dari KKB,
itu tidak benar,” ujar perwakilan keluarga korban.
Sementara itu, Kapolsek Kwamki Narama, Ipda Yusak Sawaki,
menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh, korban sebelumnya
terlibat dalam konflik antar kelompok di Kwamki Narama yang terjadi pada
November 2025 hingga Januari 2026. Setelah konflik tersebut berakhir, korban
kembali beraktivitas di lokasi pendulangan di Distrik Tembagapura.
“Korban ikut dalam perang kelompok di Kwamki. Setelah
situasi selesai, korban kembali ke pendulangan di Tembagapura. Keluarganya ada
di kubu Dang di Kwamki Narama,” ujar Ipda Yusak, Rabu (4/3/2026).
Ia juga menjelaskan, saat jenazah tiba di rumah duka,
keluarga sempat menyampaikan kekecewaan karena korban diantar oleh aparat dalam
kantong jenazah dan belum dimasukkan ke dalam peti.
“Keluarga sempat marah karena tidak menerima jenazah diantar
tanpa peti yang layak,” katanya.
Pemerintah Distrik dan Polsek Kwamki Narama telah
menyalurkan bantuan bahan makanan kepada keluarga yang berduka. Selain itu,
pihak kepolisian akan berkoordinasi dengan Kodim 1710/Mimika, mengingat proses
evakuasi jenazah dari Tembagapura dilakukan oleh personel Kodim.
“Kami terus lakukan upaya mediasi dengan keluarga korban dan
berkoordinasi dengan Kodim karena mereka yang membawa jenazah dari
Tembagapura,” tutupnya.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi

