SALAM PAPUA (TIMIKA) – Fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla El Nino” diprediksi akan menurunkan curah hujan di Timika mulai April hingga Agustus 2026.

Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mozes Kilangin Timika, Stevan Yawan, menjelaskan bahwa berdasarkan data terkini, suhu permukaan laut di wilayah Timika cenderung lebih dingin. Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan menjadi kurang optimal.

“Meskipun biasanya April hingga Agustus merupakan puncak musim hujan di Timika, namun karena fenomena ini, curah hujan diperkirakan berkurang dan cuaca terasa lebih panas,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).

BMKG memperkirakan suhu udara siang hari berada di kisaran 32 hingga 34 derajat Celsius, sementara malam hari sekitar 24 hingga 25 derajat Celsius.

Fenomena “Godzilla El Nino” sendiri merupakan anomali iklim global akibat pemanasan ekstrem suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, yang berdampak luas termasuk ke wilayah Indonesia dengan potensi musim kemarau lebih panjang, bahkan bisa mencapai enam bulan.

Meski demikian, Stevan menyebut Timika masih memiliki peluang hujan karena faktor geografis lokal. Letak wilayah yang diapit laut di bagian selatan dan pegunungan di utara memungkinkan pembentukan awan tetap terjadi.

“Di Timika, biasanya siang hari panas, lalu sore atau malam berpotensi hujan. Angin juga cenderung lebih lemah sehingga terasa sepoi-sepoi,” jelasnya.

Masyarakat diimbau untuk mulai mengantisipasi perubahan pola cuaca ini, terutama terkait potensi berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara dalam beberapa bulan ke depan.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi