SALAM PAPUA (TIMIKA) - Ketimpangan kesejahteraan tenaga
pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) Timika menjadi sorotan saat kunjungan
kerja Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, Yohanes Felix Helyanan, Rabu
(29/4/2026).
Guru honorer di sekolah tersebut hanya menerima gaji sebesar
Rp1,7 juta per bulan. Sementara itu, tiga guru berstatus Pegawai Pemerintah
dengan Perjanjian Kerja (P3K) hanya menerima gaji pokok tanpa Tunjangan
Tambahan Penghasilan (TPP).
Kepala SLB Timika, Sunardin menjelaskan, kondisi itu terjadi
karena sekolah berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Papua Tengah,
sedangkan tiga guru P3K tersebut masih berstatus aktif di Pemerintah Kabupaten
Mimika.
“Sudah kami urus, tetapi sampai sekarang berkas masih
tertahan di BKN. Sementara guru honorer yang digaji dari dana BOS juga terancam
tidak dibayarkan karena sesuai regulasi, penggunaan dana BOS hanya 20 persen
untuk pembayaran honor guru,” ujarnya.
Selain persoalan kesejahteraan, SLB Timika juga mengalami
kekurangan tenaga pendidik, khususnya guru yang memiliki keahlian menangani
anak tuna rungu.
Menurut Sunardin, keterbatasan tenaga ahli membuat proses
belajar mengajar tidak maksimal, terutama dalam berkomunikasi dengan siswa
berkebutuhan khusus dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
“Tenaga pendidik kami masih kurang, apalagi guru yang
benar-benar memiliki kemampuan mengajar anak tuna rungu. Padahal murid kami
membutuhkan perhatian khusus,” katanya.
Kondisi fasilitas yang terbatas juga membuat pihak sekolah
masih ragu membuka pendaftaran peserta didik baru tahun ajaran mendatang.
“Kami dilema. Kalau membuka pendaftaran, fasilitas belum
memadai. Tapi kalau tidak dibuka, kasihan anak-anak berkebutuhan khusus yang
ingin sekolah,” tambahnya.
Salah satu guru, Murni, mengatakan sekolah juga membutuhkan
alat bantu peraga untuk mendukung pembelajaran siswa tuna rungu.
“Kami sangat kesulitan karena belum memiliki fasilitas
peraga yang memadai. Kami berharap ada perhatian khusus untuk SLB Timika,”
ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Felix Helyanan menyayangkan kondisi
yang dialami para guru dan siswa di SLB Timika. Ia menilai persoalan tersebut
seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Ia berjanji akan mendorong Badan Kepegawaian dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) agar guru honorer di SLB
diprioritaskan dalam pengangkatan ASN maupun P3K.
“Ini menjadi perhatian kami. Saya akan dorong terkait
pengangkatan guru honorer, peningkatan kesejahteraan guru, serta penambahan
tenaga ahli di SLB Timika,” tegasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi


