SALAM PAPUA (TIMIKA)- Cuaca ekstrem bisa terjadi secara tiba-tiba dan berdampak pada kesehatan, terutama saat suhu udara sangat panas, hujan turun deras, atau terjadi banjir. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi, infeksi, gangguan pernapasan, hingga memicu kambuhnya penyakit tertentu.
Cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca yang tidak biasa dan bisa berlangsung dalam waktu tertentu, seperti suhu yang sangat panas, kemarau berkepanjangan, kekeringan, hujan deras, atau angin kencang. Di Indonesia, kondisi ini dapat terjadi saat musim kemarau maupun musim hujan, serta pancaroba.
Cuaca ekstrem bisa berdampak pada siapa saja. Namun, anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja di luar ruangan, serta orang yang memiliki penyakit jantung, asma, diabetes, atau tekanan darah tinggi lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Dengan mengenali dampaknya, Anda dapat lebih siap menjaga kesehatan dan melindungi diri serta keluarga.
Dampak Cuaca Ekstrem pada Kesehatan
Cuaca ekstrem dapat memengaruhi kesehatan dengan berbagai cara. Suhu yang terlalu panas dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan, sedangkan hujan deras, banjir, dan lingkungan yang lembap dapat meningkatkan risiko infeksi.
Selain itu, perubahan cuaca dan kualitas udara yang buruk juga dapat memperburuk beberapa gangguan pernapasan.
Berikut ini beberapa dampak cuaca ekstrem yang perlu diperhatikan:
1. Dehidrasi
Saat cuaca sangat panas, tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat untuk menjaga suhu tetap normal. Jika cairan yang hilang tidak segera diganti, Anda dapat mengalami dehidrasi. Kondisi ini biasanya ditandai dengan rasa haus, lemas, pusing, mulut kering, urine berwarna lebih pekat, atau lebih jarang buang air kecil.
2. Heat exhaustion dan heatstroke
Terlalu lama berada di tempat yang panas juga dapat menyebabkan heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Gejalanya dapat berupa banyak berkeringat, lemas, pusing, sakit kepala, mual, dan kram otot.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heatstroke, yaitu saat suhu tubuh meningkat sangat tinggi dan kemampuan tubuh mengatur suhu mulai terganggu. Gejalanya dapat berupa kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, atau kulit yang terasa sangat panas.
Perlu diingat bahwa heatstroke merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera di IGD.
3. Gangguan saluran pernapasan
Perubahan cuaca, udara yang lembap, atau kualitas udara yang buruk dapat membuat saluran pernapasan lebih mudah teriritasi. Akibatnya, beberapa orang bisa mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau sesak napas.
Keluhan ini umumnya lebih mudah muncul atau memburuk pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru-paru tertentu.
4. Asma atau alergi kambuh
Perubahan cuaca ekstrem, udara dingin, debu, asap, atau jamur yang muncul di lingkungan lembap setelah hujan dapat memicu kambuhnya asma atau alergi pada orang yang sensitif.
Gejala yang muncul bisa berbeda-beda, mulai dari bersin, hidung tersumbat, dan batuk hingga mengi, dada terasa berat, atau sesak napas. Jika sesak napas terasa berat atau tidak membaik, segera cari pertolongan medis.
5. Penyakit akibat banjir
Air banjir dapat tercampur dengan kotoran, sampah, dan limbah, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Kontak dengan air banjir yang tercemar dapat menyebabkan diare, infeksi kulit, leptospirosis, hepatitis A, atau demam tifoid. Luka atau goresan pada kulit juga lebih mudah terinfeksi jika terkena air banjir.
Sebisa mungkin, hindari kontak langsung dengan air banjir dan segera bersihkan tubuh dengan air bersih dan sabun jika terpapar.
6. Risiko air tidak layak minum saat kekeringan
Kekeringan berkepanjangan dapat mengurangi ketersediaan air bersih dan mengubah kualitas sumber air. Di beberapa daerah, air tawar bahkan bisa menjadi lebih payau atau asin.
Air yang tercemar kuman dapat meningkatkan risiko diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui air. Sementara itu, kadar garam atau sodium yang tinggi dapat menambah asupan sodium dan kurang baik jika dikonsumsi terus-menerus, terutama bagi orang dengan tekanan darah tinggi.
Saat kekeringan, pastikan air minum berasal dari sumber yang aman. Hindari meminum air yang terasa asin, berubah warna, atau berbau jika kualitasnya belum dipastikan.
7. Penyakit yang ditularkan nyamuk
Setelah hujan deras atau banjir, genangan air dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya.
Di daerah yang masih memiliki kasus malaria, genangan air juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit tersebut.
8. Penyakit kronis dapat memburuk
Cuaca ekstrem juga dapat membuat gejala atau kondisi penyakit tertentu menjadi lebih sulit dikendalikan. Misalnya, cuaca yang sangat panas dapat membuat jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko dehidrasi.
Sementara itu, udara dingin dapat memperburuk keluhan pada penderita asma atau penyakit paru-paru lainnya. Pada penderita diabetes, dehidrasi juga dapat memengaruhi kadar gula darah dan membuat tubuh terasa lebih lemas.
9. Malnutrisi dan kekurangan gizi
Cuaca ekstrem yang berlangsung lama dapat mengganggu produksi dan ketersediaan pangan. Banjir, hujan deras, maupun kekeringan parah dapat menyebabkan gagal panen dan mengganggu peternakan serta perikanan. Akibatnya, makanan bergizi seperti sayur, buah, dan sumber protein bisa menjadi lebih sulit didapat atau harganya meningkat.
Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi, terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Dampaknya juga dapat bertahan setelah cuaca kembali normal karena produksi dan pasokan makanan membutuhkan waktu untuk pulih.
Cara Menjaga Kesehatan saat Cuaca Ekstrem
Setiap jenis cuaca ekstrem membutuhkan langkah pencegahan yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan:
Cukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih secara rutin tanpa menunggu haus, terutama saat cuaca panas atau tubuh banyak berkeringat. Kurangi aktivitas berat saat cuaca terik dan gunakan topi, payung, pakaian longgar, serta sunscreen jika harus keluar.
Jaga kebersihan makanan dan air minum. Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet. Hindari kontak langsung dengan air banjir dengan menggunakan sepatu bot atau alas kaki tertutup, menutup luka dengan perban tahan air, dan segera membersihkan tubuh dengan air bersih dan sabun setelah terpapar.
Bersihkan genangan air di sekitar rumah dengan mengosongkan wadah penampung air, menutup tempat penyimpanan air, dan membersihkan selokan secara rutin untuk mencegah nyamuk berkembang biak.
Gunakan masker saat kualitas udara buruk, terutama ketika udara berasap atau berdebu. Siapkan obat rutin dan pastikan stoknya tidak habis.
Jika wilayah Anda berpotensi mengalami kemarau panjang atau kekeringan, manfaatkan kesempatan saat akses air bersih masih tersedia untuk menyiapkan cadangan air. Simpan air dalam wadah yang bersih dan tertutup agar tetap aman digunakan ketika persediaan mulai berkurang.
Selama kemarau atau kekeringan, gunakan air secara hemat dan bijak. Prioritaskan air untuk kebutuhan penting, seperti minum, memasak, dan mandi, serta hindari penggunaan air secara berlebihan.
Cuaca ekstrem memang tidak selalu bisa dihindari, tetapi dampaknya terhadap kesehatan dapat dikurangi dengan persiapan yang tepat. Perhatikan kondisi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis, karena mereka lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.
Jika muncul gejala, segera lakukan penanganan dan jangan menunggu sampai kondisi memburuk. Segera cari pertolongan medis jika mengalami sesak napas hebat, nyeri dada, pingsan, kejang, demam tinggi yang tidak membaik, tanda dehidrasi berat, diare terus-menerus, atau luka yang bengkak dan bernanah setelah terkena air banjir. (Sumber: Alodokter)
Editor: Sianturi