SALAM PAPUA (TIMIKA)– Bendera Merah Putih resmi berkibar di atas KRI Sriwijaya-100 pada Kamis (24/9/2026). Kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi-551 milik Angkatan Laut Italia tersebut resmi menjadi bagian dari kekuatan TNI Angkatan Laut setelah melalui prosesi pergantian bendera, penggantian nama, dan pengukuhan sebagai kapal perang Indonesia.
Momentum tersebut menandai babak baru dalam sejarah pertahanan maritim Indonesia. KRI Sriwijaya-100 menjadi kapal induk pertama dalam jajaran TNI AL, sekaligus kapal pertama yang memberikan TNI AL kemampuan mengoperasikan platform penerbangan laut berukuran besar dengan fasilitas untuk helikopter dan drone.
Namun, KRI Sriwijaya-100 bukan kapal induk raksasa seperti yang dimiliki sejumlah negara besar. Kapal ini lebih tepat dipahami sebagai kapal induk ringan atau through-deck aviation cruiser, yang kemampuan utamanya berada pada pengoperasian unsur udara, mobilitas, dukungan operasi laut, serta misi kemanusiaan.
Giuseppe Garibaldi dibangun oleh industri galangan Italia dan mulai beroperasi pada 1980-an. Setelah puluhan tahun menjadi bagian dari Angkatan Laut Italia, kapal tersebut kemudian dihibahkan kepada Indonesia.
Kapal ini berangkat dari Italia pada akhir Agustus 2026 dan menempuh perjalanan sekitar 25 hari dengan jarak sekitar 6.870 mil laut menuju Indonesia. Dalam perjalanan, kapal melewati Terusan Suez, Laut Merah, dan Samudra Hindia serta melakukan persinggahan untuk kebutuhan logistik, bahan bakar, dan layanan teknis.
Kapal tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 18 September 2026. Setelah menjalani persiapan dan pengecatan ulang sesuai standar TNI AL, proses serah terima dan penggantian nama dilakukan pada 24 September 2026.
Dengan penggantian nama menjadi KRI Sriwijaya-100, kapal tersebut kini menjadi bagian dari Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL.
KRI Sriwijaya-100 memiliki panjang sekitar 180,2 meter, lebar 33,4 meter, draft 6,7 meter, serta bobot sekitar 13.850 ton. Ukuran tersebut membuatnya jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar kapal kombatan permukaan yang saat ini dioperasikan TNI AL.
Untuk penggerak, kapal menggunakan sistem Combined Gas Turbine and Gas Turbine (COGAG) yang terdiri atas empat turbin gas General Electric/Avio LM2500. Sistem tersebut menghasilkan daya sekitar 81.000 tenaga kuda dan memungkinkan kapal mencapai kecepatan maksimum sekitar 30 knot.
Untuk operasi jarak jauh, kapal memiliki jarak jelajah sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot. Kemampuan ini memungkinkan KRI Sriwijaya-100 melakukan pelayaran lintas wilayah tanpa harus terlalu sering kembali ke pangkalan untuk kebutuhan bahan bakar.
Perjalanan dari Italia menuju Indonesia sendiri menjadi gambaran kemampuan endurance kapal. Dalam pelayaran tersebut, kapal menempuh ribuan mil laut melewati beberapa kawasan strategis sebelum memasuki perairan Indonesia.
Keunggulan utama KRI Sriwijaya-100 terletak pada fasilitas penerbangannya. TNI AL menyebut kapal ini memiliki fasilitas untuk mengoperasikan helikopter dan drone. Kapasitas angkutnya dapat mencapai lebih dari 10 hingga sekitar 18 helikopter kelas menengah atau berat, tergantung konfigurasi misi. Kapal juga dirancang untuk mengakomodasi unsur drone.
Kemampuan tersebut membuka pilihan baru bagi operasi TNI AL. Helikopter yang beroperasi dari kapal dapat digunakan untuk pengawasan laut, pencarian dan pertolongan, transportasi personel, evakuasi medis, dukungan operasi antikapal selam, hingga pengiriman bantuan ke wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Sementara itu, drone dapat memberikan kemampuan pengamatan dari udara tanpa harus mempertaruhkan awak pesawat dalam setiap misi.
Dengan demikian, nilai strategis KRI Sriwijaya-100 bukan semata-mata terletak pada ukuran kapalnya, tetapi pada kemampuan membawa dan mengoperasikan unsur udara dari tengah laut.
Salah satu aspek penting dari pengadaan KRI Sriwijaya-100 adalah penggunaannya tidak hanya diarahkan untuk operasi tempur. TNI AL menyatakan kapal ini juga dipersiapkan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama dalam penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Bagi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan menghadapi berbagai potensi bencana, kemampuan tersebut memiliki arti penting.
Ketika terjadi gempa bumi, tsunami, banjir besar, erupsi gunung api, atau bencana lain yang memutus akses jalan dan bandara, kapal berukuran besar dengan fasilitas penerbangan dapat menjadi salah satu pusat dukungan bergerak.
Helikopter dapat digunakan untuk menjangkau daerah yang terisolasi, sementara kapal dapat membawa personel, peralatan, kendaraan, logistik, obat-obatan, dan kebutuhan kemanusiaan dalam jumlah besar.
Dalam konteks ini, kapal induk bukan hanya instrumen pertahanan, tetapi juga dapat menjadi pangkalan bergerak di laut.
Bagaimana dengan Daya Tahannya? Berbicara mengenai daya tahan kapal perang, terdapat dua aspek yang perlu dibedakan: ketahanan pelayaran dan ketahanan tempur.
Dari sisi pelayaran, kemampuan menempuh sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot menunjukkan bahwa kapal dirancang untuk operasi jarak jauh. Sistem propulsi turbin gas juga memberikan kemampuan menghasilkan tenaga besar ketika kapal membutuhkan kecepatan tinggi.
Namun, usia kapal juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Giuseppe Garibaldi telah beroperasi selama puluhan tahun sehingga Indonesia tidak hanya menerima kapal, tetapi juga harus melakukan pembaruan dan perawatan.
Karena itu, setelah proses serah terima, kapal akan menjalani pembenahan fisik, mesin, serta peningkatan sistem melalui kerja sama PT PAL Indonesia dan Fincantieri, perusahaan pertahanan dan galangan kapal asal Italia yang membangun kapal tersebut.
Artinya, kemampuan KRI Sriwijaya-100 ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kualitas modernisasi, pemeliharaan, ketersediaan suku cadang, kesiapan awak, serta dukungan infrastruktur pangkalan.
Mengoperasikan kapal induk bukan hanya persoalan memiliki kapal berukuran besar. TNI AL harus memiliki personel yang mampu mengoperasikan sistem navigasi, propulsi, komunikasi, penerbangan, keselamatan, pemeliharaan, hingga pengendalian operasi kapal.
Untuk mempersiapkan hal tersebut, personel TNI AL telah menjalani pelatihan di Italia. Sekitar 100 personel sebelumnya direncanakan mengikuti pelatihan teori dan praktik, termasuk pengalaman langsung selama pelayaran kapal menuju Indonesia.
TNI AL juga menyiapkan ratusan personel untuk menjadi bagian dari awak kapal. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengoperasian kapal induk membutuhkan struktur organisasi dan sumber daya manusia yang jauh lebih besar dibandingkan kapal perang biasa.
Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Wilayahnya membentang di antara Samudra Hindia dan Pasifik serta berada di persilangan sejumlah jalur pelayaran internasional.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan mengoperasikan kapal dengan fasilitas penerbangan dari laut memberikan tambahan fleksibilitas bagi TNI AL.
KRI Sriwijaya-100 dapat menjadi bagian dari operasi pengawasan wilayah laut, dukungan operasi armada, pengamanan kepentingan nasional di laut, serta operasi kemanusiaan.
Kapal ini juga dapat mendukung konsep fleet support, terutama ketika unsur udara harus bergerak bersama armada dalam wilayah operasi yang jauh dari pangkalan darat.
Namun, kehadiran satu kapal induk tidak dengan sendirinya mengubah seluruh postur pertahanan Indonesia. Kapal induk membutuhkan kapal pengawal, unsur udara, sistem logistik, pangkalan, jaringan komunikasi, serta dukungan pemeliharaan.
Karena itu, nilai strategis KRI Sriwijaya-100 akan sangat bergantung pada bagaimana kapal tersebut diintegrasikan dengan kapal perang lain, pesawat, helikopter, drone, sistem komando, serta unsur pertahanan lainnya.
Masuknya KRI Sriwijaya-100 menjadi tonggak penting bagi TNI AL karena untuk pertama kalinya Indonesia memiliki kapal induk dalam struktur kekuatan lautnya. Tetapi tantangan berikutnya justru dimulai setelah seremoni pengibaran Merah Putih berakhir.
Indonesia perlu memastikan kapal tersebut mendapatkan modernisasi yang tepat, awak yang terlatih, infrastruktur pendukung yang memadai, serta sistem pemeliharaan yang mampu menjaga kesiapan operasionalnya dalam jangka panjang.
Dengan panjang lebih dari 180 meter, bobot sekitar 13.850 ton, kecepatan hingga 30 knot, jarak jelajah 7.000 mil laut, serta kemampuan membawa helikopter dan drone, KRI Sriwijaya-100 memberikan kemampuan baru yang sebelumnya tidak dimiliki TNI AL.
Lebih jauh, kapal tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan pertahanan modern tidak hanya ditentukan oleh persenjataan, tetapi juga kemampuan membawa sensor, pesawat, helikopter, drone, personel, dan logistik dalam satu platform yang dapat bergerak jauh.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, kemampuan seperti itu memiliki relevansi strategis, baik untuk menjaga kepentingan nasional di laut maupun untuk memberikan respons cepat ketika masyarakat membutuhkan bantuan dari laut.
KRI Sriwijaya-100 dengan demikian bukan sekadar simbol baru dalam armada TNI AL. Kapal ini menjadi bagian dari proses panjang Indonesia membangun kemampuan pertahanan maritim yang lebih terintegrasi, sekaligus menguji sejauh mana Indonesia mampu mengoperasikan dan mempertahankan kapal induk secara mandiri dalam menghadapi kebutuhan pertahanan dan kemanusiaan di masa depan. (Sumber: Wikipedia Indonesia/AI)
Editor: Sianturi