SALAM PAPUA (TIMIKA) – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika, Dr. Jeffrey C. Hutagalung, M.Phil., menegaskan bahwa kerukunan dan toleransi bukan sekadar narasi maupun kegiatan seremonial menjelang Konferensi Kota Toleran (KKT) II Tahun 2026, tetapi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat yang harus terus dibangun dan dirawat.
Hal itu disampaikan Jeffrey saat memberikan sambutan dalam Konser Kerukunan bertajuk “Mimika Harmoni Simfoni Kita” yang digelar FKUB Kabupaten Mimika di Gedung Tongkonan, Jalan Sam Ratulangi, Timika, Jumat malam (16/10/2026).
“Kerukunan ini bukan panggung politik, tetapi sesuatu yang harus terus kita bangun. Toleransi juga bukan barang dagangan. Kerukunan bukan hanya tugas FKUB, tetapi tugas kita semua,” tegas Jeffrey.
Suasana penampilan Band Pengamen Elit pada Konser Kerukunan Mimika Simfoni Harmoni Kita oleh FKUB di Gedung Tongkonan Timika, Jumat malam (16/10/2026)(Salampapua.com/Acik) Menurutnya, kerukunan di Mimika telah tumbuh sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, FKUB mendapat amanah untuk menjaga, merawat, dan membina kerukunan antarumat beragama.
Ia mengatakan, Konser Kerukunan dan turnamen Mini Soccer FKUB Cup 2026 yang telah dilaksanakan sebelumnya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pra-KKT II untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menunjukkan bahwa Mimika mampu menjaga kerukunan melalui seni, budaya, dan olahraga.
“Kegiatan ini sudah diawali dengan mini soccer dan sekarang konser kerukunan. Di Mimika ini ada beragam agama yang harus kita jaga. Mari kita rawat bersama-sama,” ujarnya.
Jeffrey menilai KKT II yang akan berlangsung pada 14-17 November 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat semangat kebersamaan sekaligus memperkenalkan potensi kerukunan di Mimika. Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari KKT pertama yang dilaksanakan di Singkawang.
Ia menegaskan bahwa kerukunan tidak boleh hanya menjadi perhatian ketika ada momentum tertentu. Pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, komunitas, dan seluruh masyarakat harus terlibat aktif dalam menjaga hubungan yang harmonis.
“Tugas FKUB adalah menjaga, merawat dan membina kerukunan, serta memberikan rekomendasi pendirian rumah ibadah,” jelasnya.
Sementara itu, Wakapolres Mimika, Kompol Jaihot Limbong, menekankan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, bukan hanya kepolisian dan TNI.
“Keamanan tidak bisa sepenuhnya dijaga oleh kepolisian saja. Kami membutuhkan dukungan masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pihak sekolah, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Jaihot mengapresiasi kegiatan positif yang diselenggarakan FKUB karena dapat mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Namun, ia juga menyoroti sejumlah persoalan yang melibatkan anak-anak dan remaja, seperti penyalahgunaan lem aibon, tawuran antarpelajar, serta perilaku negatif lainnya.
Ia mengingatkan bahwa konflik antarkelompok dapat bermula dari persoalan sederhana, termasuk pernyataan provokatif di media sosial.
“Sekarang, untuk memprovokasi suatu kelompok atau wilayah, seseorang tidak perlu melakukan banyak hal. Cukup dengan satu kalimat atau status di media sosial, persoalan bisa berkembang menjadi konflik,” jelasnya.
Karena itu, Jaihot mengajak seluruh pihak meningkatkan pembinaan terhadap generasi muda, terutama dalam memberikan pemahaman mengenai tanggung jawab sosial, etika bermedia sosial, dan dampak tindakan kekerasan.
Ia juga mendorong lebih banyak kegiatan positif, seperti olahraga dan seni, sebagai wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan energi, membangun komunikasi, dan mempererat hubungan antarkelompok. Peran orang tua dalam mengawasi anak-anak juga dinilai penting.
Sedangkan Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Setda Mimika, Fransiskus Bokeyau, yang mewakili Bupati Mimika Johannes Rettob, mengatakan keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan tradisi harus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan, bukan sumber perpecahan.
“Mimika merupakan rumah bersama yang harus kita jaga agar tetap aman, damai, dan harmonis. Kerukunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah ataupun FKUB, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua,” ujarnya.
Fransiskus juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai pelopor toleransi, duta perdamaian, dan penggerak persatuan melalui kegiatan positif di bidang olahraga, seni, budaya, maupun karya kreatif.
Terkait pelaksanaan Mini Soccer FKUB Cup 2026, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, pelatih, dan panitia. Menurutnya, keberhasilan sebuah pertandingan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menjadi juara, tetapi juga oleh sportivitas dan kemampuan membangun komunikasi yang sehat.
Ia berharap FKUB terus menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun dialog antarumat beragama dan mencegah potensi konflik sosial.
“Pembangunan tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kuatnya persaudaraan masyarakat, tingginya toleransi, dan besarnya kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Konser Kerukunan yang mengusung tema “Harmoni Mimika: Simfoni Kita, Merayakan Karya” tersebut diawali dengan penyambutan Forkopimda dan penampilan Sanggar Tari Cycloop. Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Kerukunan serta doa berantai yang dipanjatkan oleh pemuka dari lima agama.
Suasana konser semakin meriah dengan penampilan sejumlah musisi dan seniman lokal, di antaranya Pengamen Elit, Qwertys, Papua Tone, Fomika Band, serta Sanggar Tari Cycloop.
Pengamen Elit Band membuka penampilan musik dengan membawakan sejumlah lagu secara beruntun, termasuk lagu bernuansa religi Kristen dan Islam serta lagu “Mimika Rumah Kita”. Penampilan tersebut turut menyemarakkan suasana konser yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Kegiatan tersebut dihadiri Fransiskus Bokeyau, jajaran Forkopimda Kabupaten Mimika, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Mimika, tokoh agama, Kelompok Cipayung, Kesbangpol Mimika, Hapak, KNPI, para musisi, wasit Askab PSSI Mimika, serta sejumlah undangan lainnya.
Pada kesempatan yang sama, panitia juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang turnamen Mini Soccer Kerukunan FKUB Cup 2026 sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan sportivitas peserta.
Melalui rangkaian kegiatan olahraga dan konser kerukunan ini, FKUB Mimika berharap toleransi tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau momentum menjelang KKT II, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh elemen masyarakat diharapkan semakin memperkuat persaudaraan, menghormati perbedaan, dan bersama-sama menjaga Kabupaten Mimika tetap aman, damai, dan harmonis.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi