Warga Mimika Abaikan Primaquine, Malaria Berulang Jadi Ancaman Obat malaria jenis Primaquine berwarna coklat (Salampapua.com/Dokumen Warga)

Warga Mimika Abaikan Primaquine, Malaria Berulang Jadi Ancaman

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kasus malaria berulang masih menjadi persoalan di Kabupaten Mimika. Sejumlah warga mengaku tidak menuntaskan konsumsi obat Primaquine atau yang biasa disebut obat coklat, sehingga pengobatan malaria tidak dijalani sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Warga Jalan Nawaripi, Kelurahan Wania, Lince, mengaku sudah lima kali terserang malaria sejak Januari hingga Oktober 2026. Ia mengatakan selama ini hanya menghabiskan obat Dihydroartemisinin-piperaquine (DHP) atau obat biru, sedangkan Primaquine kerap tidak dihabiskan karena harus dikonsumsi selama 14 hari.

Namun, pada pengobatan terakhir, Lince mengaku berkomitmen menghabiskan seluruh obat yang diberikan hingga tuntas. Obat terakhir berhasil dikonsumsinya pada 11 Oktober 2026.

“Awal tahun itu saya kena malaria, kemudian di bulan Maret kena lagi, bulan Juli malaria lagi, September kena lagi. Terakhir bulan Oktober ini saya habiskan obat coklatnya. Saya sudah tidak mau malaria lagi, jadi saya habiskan semua obat,” ungkapnya kepada Salampapua.com, Jumat (16/10/2026).

Hal serupa dialami warga Jalan Yos Sudarso, Mama Dince. Ia mengatakan anaknya yang baru saja terserang malaria hanya mau mengonsumsi obat biru, sementara obat coklat tidak dihabiskan karena merasa sudah sembuh.

“Bulan Maret lalu anak saya terkena malaria, obat coklatnya diminum hanya sampai tujuh hari. Tapi semoga tidak kena malaria lagi,” katanya.

Sementara itu, warga Pasar Sentral, Antonius, mengaku bahkan tidak pernah mengonsumsi obat coklat yang diberikan setelah pengobatan malaria.

“Kalau obat biru saja sudah sembuh, baru obat coklat ini buat apa diminum sampai 14 hari,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Marcelino Mameyau, menegaskan obat malaria harus dikonsumsi dan dihabiskan sesuai aturan yang diberikan tenaga kesehatan.

Ia mengingatkan bahwa ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan dapat membuat parasit malaria yang masih tersisa tidak tertangani secara optimal sehingga meningkatkan risiko penyakit kembali muncul.

“Obat harus dihabiskan agar parasit tidak berkembang lagi,” tegasnya.

Fenomena warga yang tidak menuntaskan konsumsi obat malaria menunjukkan perlunya edukasi yang lebih intensif mengenai pentingnya kepatuhan pengobatan. Masyarakat juga diimbau mengikuti petunjuk tenaga kesehatan dan tidak menghentikan obat hanya karena gejala sudah membaik.

Kepatuhan pengobatan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pengendalian malaria di Mimika, terlebih pemerintah menargetkan eliminasi malaria pada 2030.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi