SALAM PAPUA (TIMIKA) – Tokoh Amungme, Menuel Jhon Magal menegaskan bahwa konflik yang terjadi di Kwamki Narama bukan merupakan perang adat. Karena itu, pemerintah diminta tidak mengajarkan atau mendorong penyelesaian konflik melalui mekanisme pembayaran denda adat.

Menurut Menuel, penyelesaian dengan bayar denda justru berpotensi memperkuat budaya impunitas dan memberi kesan bahwa tindakan kekerasan dapat ditebus dengan uang.

“Solusinya semua pemangku kepentingan harus duduk bersama dan mencari jalan keluar. Jangan sampai tidak ada reaksi dari pemerintah, karena itu tentu akan menimbulkan kritik. Tapi saya tekankan, pemerintah tidak boleh membiasakan penyelesaian dengan bayar denda,” ujarnya saat dihubungi Salampapua.com, Selasa (6/1/2026).

Ia menilai, praktik bayar denda dalam konflik kekerasan justru menghambat kemajuan masyarakat. Pemerintah, kata dia, seharusnya tidak mengajarkan cara penyelesaian konflik yang bertentangan dengan prinsip penegakan hukum.

“Kita harus menegakkan hukum positif. Harus ada kesepakatan sosial yang jelas terkait konflik ini, supaya kejadian serupa tidak terus berulang,” jelasnya.

Menuel juga menekankan pentingnya peran bersama antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan tokoh lembaga adat dalam mencari solusi yang adil dan berkelanjutan.

“Ketiga unsur ini harus duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Masyarakat juga perlu diedukasi bahwa Mimika adalah tempat hidup dan mencari makan banyak orang, sehingga kita harus hidup berdampingan secara damai,” tutupnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi