SALAM PAPUA (TIMIKA)- Papeda dan ikan kuah kuning merupakan salah satu hidangan tradisional yang sangat lekat dengan masyarakat Papua, termasuk di wilayah Papua Tengah. Perpaduan bubur sagu yang lembut dengan kuah ikan berbumbu rempah menghadirkan rasa hangat, segar, dan menyehatkan cocok disantap saat berbuka puasa maupun dalam keseharian.

Papeda terbuat dari tepung sagu yang dimasak hingga bertekstur kenyal dan bening. Rasanya yang tawar justru menjadi kekuatan utama, karena mampu menyerap dan menonjolkan cita rasa kuah ikan kuning yang gurih dan segar.

Pada menu ini, digunakan 300 gram fillet ikan kakap yang dipotong dadu sekitar 3 cm. Ikan terlebih dahulu dilumuri air jeruk nipis dan garam agar tidak amis dan rasanya lebih meresap. Sementara itu, bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, kemiri sangrai, kunyit bakar, jahe, garam, dan gula ditumis hingga harum bersama serai dan daun jeruk.

Setelah bumbu matang, ditambahkan air dan dimasak hingga mendidih sebelum potongan ikan dimasukkan. Daun bawang dan tomat merah turut ditambahkan untuk memberikan kesegaran rasa. Sentuhan akhir air jeruk nipis membuat kuah terasa lebih segar dan khas.

Untuk membuat papeda, tepung sagu terlebih dahulu dicairkan dengan sebagian air, lalu dituangkan sedikit demi sedikit ke dalam air mendidih sambil terus diaduk hingga mengental, matang, dan berwarna putih bening. Proses pengadukan ini penting untuk menghasilkan tekstur kenyal yang sempurna.

Saat penyajian, papeda dan ikan kuah kuning sebaiknya dinikmati dalam keadaan hangat. Tekstur papeda cenderung mengeras ketika sudah dingin, sehingga sensasi kenyal dan lembutnya akan berkurang.

Kini, papeda tak hanya menjadi hidangan rumahan, tetapi juga kerap dijajakan sebagai kuliner kaki lima di berbagai kota besar di Indonesia. Popularitasnya semakin meningkat karena dianggap sebagai makanan tradisional yang sehat, rendah lemak, dan kaya rempah alami.

Perpaduan sederhana antara sagu dan ikan berbumbu kuning ini membuktikan bahwa kuliner khas Papua tidak hanya sarat nilai budaya, tetapi juga memiliki cita rasa yang mampu bersaing di tingkat nasional. Selamat mencoba! (Sumber: Kontan.co.id)

Editor: Sianturi