SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kasus tragis seorang anak berusia 10 tahun di Mimika yang diduga melakukan gantung diri pada 16 Februari 2026 mendapat perhatian serius dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB). Anak berinisial DNRM sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia sehari kemudian.

Kepala DP3AP2KB Mimika, Johana Anatje Belandina Arwam, menegaskan bahwa peristiwa tersebut sangat memprihatinkan dan seharusnya tidak terjadi. Ia menyampaikan bahwa pihaknya siap memberikan pendampingan kepada keluarga korban apabila dibutuhkan.

“Kemarin kami sudah melakukan koordinasi dengan Kapolsek Kuala Kencana terkait kasus yang sangat kami sayangkan dapat terjadi. Sehingga kami juga masih menunggu informasi selanjutnya,” ujarnya saat ditemui, Kamis (19/2/2026).

Menurutnya, hingga kini belum ada laporan resmi yang masuk ke DP3AP2KB terkait permintaan pendampingan. Namun apabila pihak keluarga merasa perlu didampingi, terutama jika terdapat hal-hal yang belum jelas atau membutuhkan proses lanjutan, pihaknya siap memberikan bantuan sesuai kewenangan.

Ia menegaskan bahwa DP3AP2KB memiliki mandat untuk menangani berbagai kasus yang melibatkan anak dan perempuan, termasuk kekerasan, KDRT, maupun persoalan psikososial yang berujung pada peristiwa tragis.

“Kasus ini sangat miris sekali terjadi. Kita harus bisa menganalisis kenapa sampai anak kecil nekat melakukan hal tersebut, tapi kita juga tidak bisa menyimpulkan. Sehingga kita tunggu investigasi dari pihak kepolisian,” jelasnya.

Johana menekankan bahwa peristiwa ini harus menjadi perhatian bersama, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Ia berharap adanya pengawasan dan pendampingan yang lebih intens terhadap anak-anak agar kejadian serupa tidak terulang.

Selain itu, DP3AP2KB secara rutin melakukan sosialisasi peningkatan kapasitas layanan dan edukasi kepada masyarakat guna membangun kesadaran tentang pentingnya perlindungan anak serta pencegahan kekerasan di lingkungan rumah tangga dan sekitar.

“Saya harap ini menjadi perhatian kita semua. Di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar, hal ini bisa menjadi pembelajaran bersama agar lebih peduli. Tentunya kami dinas rutin melakukan sosialisasi agar dapat membangun kesadaran tentang kekerasan di rumah tangga maupun lingkungan sekitar,” tutupnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi