SALAM PAPUA (TIMIKA) - Pemerintah Kabupaten Mimika tahun ini menerima Dana Bagi Hasil (DBH) dari PT Freeport Indonesia sebesar sekitar Rp1,2 triliun. Nilai tersebut mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,9 triliun.

Penurunan penerimaan itu mendorong pemerintah daerah melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Mimika menyiapkan strategi peningkatan pendapatan lain guna menopang target pendapatan daerah sebesar Rp5,6 triliun.

Kepala Bapenda Mimika, Dwi Cholifah mengatakan, target DBH tahun ini sebelumnya dipatok Rp1,8 triliun, namun realisasi yang diterima hanya Rp1,2 triliun.

“Jadi tahun lalu kita terima DBH Rp1,9 triliun, dan tahun ini keuntungan bersih PT Freeport Indonesia mengalami penurunan terkait adanya insiden longsor di tahun 2025. Keuntungan tahun 2025 diterima di tahun 2026 sebesar Rp1,2 triliun,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, DBH tersebut berasal dari ketentuan Undang-Undang Minerba yang mengatur divestasi saham pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), di mana 10 persen keuntungan bersih dibagikan, terdiri dari 4 persen untuk pemerintah pusat dan 6 persen untuk daerah.

Dari porsi 6 persen untuk daerah, sebanyak 2,5 persen diberikan kepada daerah penghasil, 1,5 persen untuk provinsi, dan 2 persen dibagi rata kepada kabupaten/kota dalam satu provinsi.

Untuk menutup kekurangan pendapatan, Bapenda Mimika akan mengoptimalkan sumber lain, termasuk pajak daerah seperti Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Dari target Rp85,952 miliar, realisasi saat ini telah mencapai Rp49,537 miliar atau sekitar 57,63 persen pada awal triwulan.

“Kita ada pendapatan lainnya, kemudian kita punya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) daerah yang masih cukup besar. Untuk nilainya saya belum ketahui,” jelasnya.

Terkait Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P), menurutnya belum dapat dipastikan apakah akan meningkat atau menurun.

“Untuk APBD-P belum bisa kita prediksi. Namanya APBD-P itu bisa saja meningkat bisa juga menurun. Kalau anggarannya kurang maka tentunya kegiatan-kegiatan yang tidak perlu tidak kita lakukan,” pungkasnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi