SALAM PAPUA (TIMIKA)- Film dokumenter Pesta Babi menjadi salah satu karya yang ramai diperbincangkan publik Indonesia pada 2026 karena mengangkat isu konflik agraria, deforestasi, dan kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan. Film ini bukan sekadar tontonan dokumenter biasa, tetapi sebuah karya investigatif yang mencoba membuka sisi lain pembangunan di Papua yang selama ini jarang muncul dalam ruang publik nasional.

Film ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Dale. Produksinya merupakan hasil kolaborasi antara WatchDoc, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Ekspedisi Indonesia Baru, serta Greenpeace Indonesia. Produser film ini adalah Victor Mambor, seorang jurnalis senior Papua yang dikenal aktif mengangkat isu hak asasi manusia dan masyarakat adat di Papua.

Film Pesta Babi pertama kali dikenal luas melalui pemutaran diskusi di berbagai kota dan kampus di Indonesia. Namun, di beberapa tempat pemutarannya menuai kontroversi hingga dibubarkan aparat atau mendapat penolakan kelompok tertentu. Hal itu justru membuat film ini semakin menarik perhatian publik dan menjadi bahan diskusi tentang kebebasan berekspresi, demokrasi, serta isu Papua di Indonesia.

Judul Pesta Babi memiliki makna simbolik yang kuat. Dalam budaya Papua, babi bukan hanya hewan ternak biasa, tetapi simbol sosial, adat, kehormatan, dan hubungan antar komunitas. Pesta babi dalam tradisi Papua sering dilakukan dalam upacara adat, perdamaian, pernikahan, hingga ritual penting masyarakat.

Namun dalam film ini, istilah “Pesta Babi” digunakan secara metaforis untuk menggambarkan situasi ketika tanah Papua seolah menjadi arena perebutan kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan. Film ini menyiratkan bahwa ada pihak-pihak yang “berpesta” menikmati kekayaan alam Papua, sementara masyarakat adat justru kehilangan tanah, hutan, dan ruang hidup mereka.

Karena itu, judul film ini mengandung kritik sosial yang tajam terhadap praktik pembangunan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat asli Papua.

Film Pesta Babi berfokus pada kondisi masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Film ini mengangkat dampak Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk food estate, perkebunan sawit, dan proyek bioetanol tebu yang membuka jutaan hektare hutan Papua.

Sumber cerita film berasal dari hasil investigasi lapangan, wawancara dengan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, serta dokumentasi kondisi lingkungan yang mengalami perubahan akibat pembukaan lahan besar-besaran. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adat merasa kehilangan tanah leluhur, hutan sagu, sumber makanan, dan identitas budaya mereka akibat ekspansi industri dan proyek negara.

Selain itu, film juga memotret kehadiran aparat keamanan dan konflik sosial yang muncul di sekitar proyek pembangunan tersebut. Dalam beberapa bagian, film menunjukkan bagaimana masyarakat adat merasa tertekan dan kesulitan mempertahankan wilayah adat mereka.

Melalui pendekatan dokumenter investigatif, film ini mencoba menghadirkan suara masyarakat Papua yang selama ini dianggap kurang mendapat ruang dalam narasi pembangunan nasional.

Pesan paling utama dari Pesta Babi adalah kritik terhadap pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat adat secara adil. Film ini mempertanyakan: apakah pembangunan benar-benar membawa kesejahteraan jika masyarakat lokal justru kehilangan tanah, budaya, dan sumber penghidupan mereka?

Dalam banyak adegan, masyarakat Papua digambarkan hidup sangat dekat dengan alam. Hutan bukan hanya tempat mencari makan, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan spiritual mereka. Ketika hutan dibuka menjadi kawasan industri, masyarakat adat merasa bukan hanya kehilangan pohon, tetapi juga kehilangan sejarah dan masa depan mereka.

Film ini juga menyampaikan pesan tentang ketimpangan kekuasaan. Negara dan perusahaan digambarkan memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah pembangunan, sementara masyarakat adat sering berada dalam posisi lemah.

Selain isu lingkungan dan tanah adat, Pesta Babi juga berbicara tentang trauma konflik dan militerisasi di Papua. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat sipil sering hidup dalam ketakutan akibat situasi keamanan yang tidak stabil.

Namun demikian, film ini tidak hanya menghadirkan kesedihan. Di dalamnya juga terdapat semangat perlawanan masyarakat adat untuk mempertahankan tanah dan identitas mereka. Film ini memperlihatkan bahwa masyarakat Papua bukan sekadar korban, tetapi juga komunitas yang terus berjuang menjaga martabat dan hak hidup mereka.

Film Pesta Babi menuai perdebatan luas di masyarakat. Sebagian pihak menilai film ini penting sebagai kritik sosial dan bentuk kebebasan berekspresi. Mereka melihat dokumenter ini sebagai upaya membuka diskusi tentang persoalan Papua yang selama ini sensitif dibicarakan.

Namun ada juga pihak yang menganggap film ini terlalu provokatif dan berpotensi memperkeruh situasi politik maupun keamanan di Papua. Kontroversi semakin besar ketika sejumlah acara nonton bareng dibubarkan aparat di beberapa daerah.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, film ini berhasil memunculkan diskusi nasional tentang Papua, lingkungan, masyarakat adat, dan model pembangunan di Indonesia. Pada akhirnya, Pesta Babi bukan hanya film tentang Papua. Film ini adalah refleksi tentang hubungan negara, pembangunan, lingkungan, dan hak masyarakat adat.

Film ini mengajak penonton melihat Papua bukan hanya dari sudut keamanan atau politik, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Bahwa di balik hutan yang dibuka, proyek besar yang dibangun, dan angka investasi yang dibanggakan, ada masyarakat yang hidup, bermimpi, dan berjuang mempertahankan tanah mereka.

Kekuatan utama film ini terletak pada keberaniannya menghadirkan suara-suara kecil yang selama ini jarang terdengar. Dan mungkin di situlah pesan paling penting dari Pesta Babi: pembangunan seharusnya tidak mengorbankan manusia, budaya, dan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Papua. (Berbagai Sumber)

Editor: Sianturi