SALAM PAPUA (NABIRE) – Ketua Umum Dewan Kesenian Provinsi Papua Tengah (DKPT), Nofit Nawipa, menegaskan Papua Reggae Festival (PRF) XI bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang untuk merawat identitas budaya, memperkuat persatuan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat Papua Tengah.
Nofit menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan PRF XI yang mengusung tema Culture & Art atau Budaya dan Seni. Festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 di Area Bandara Lama Nabire, ibu kota Provinsi Papua Tengah.
“Tema yang diusung penuh makna yang mendalam, Culture and Art. Melalui pentas seni festival reggae, kita terus mempertahankan identitas budaya dan mewariskannya kepada generasi penerus,” ujar Nofit kepada Salam Papua melalui sambungan telepon, Rabu (14/10/2026), sekitar pukul 18.00 WIT.
Menurutnya, penyelenggaraan PRF XI di Nabire memiliki arti penting bagi perkembangan seni dan budaya di Papua Tengah. Festival ini diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat melalui seni dan budaya.
Nofit juga mengapresiasi Komunitas Rasta Kribo Papua (KORK) yang dinilainya telah memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial dan kreativitas masyarakat Nabire. Menurutnya, komunitas tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa pesan persatuan, kebersamaan, dan semangat kolaborasi untuk membangun daerah.
“Terima kasih juga kepada Komunitas Rasta Kribo Papua atau KORK yang telah memberikan dampak positif. Mereka bukan hanya memberikan hiburan di Kota Nabire, tetapi juga membawa pesan persatuan, kebersamaan, dan semangat kolaborasi membangun daerah,” jelasnya.
Sebagai Ketua Umum DKPT, Nofit menilai keberhasilan festival seni tidak cukup diukur dari kemeriahan panggung dan jumlah penonton. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus memberikan ruang keterlibatan bagi masyarakat serta manfaat nyata bagi pelaku ekonomi lokal.
Ia secara khusus menyoroti kedekatan komunitas seni dengan pelaku usaha kecil, termasuk mama-mama penjual noken, mama-mama penjual pinang, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Seni tidak bisa terpisah dari realitas hidup sosial masyarakat. KORK telah menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat luas, terutama mama-mama noken, mama-mama pinang, dan para pelaku UMKM,” katanya.
Nofit juga menegaskan bahwa reggae serta penampilan rambut gimbal dan kribo merupakan bagian dari ekspresi identitas yang tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan stigma negatif kepada seseorang atau kelompok.
“Ini adalah tempat bagi kita sebagai orang Papua untuk melepaskan segala beban pikiran dan tekanan dari mana pun, lalu berpadu dalam satu irama reggae yang mengangkat nilai identitas budaya. Gimbal dan kribo bukan berarti kriminal, tetapi itu adalah identitas, rambut keriting, sa Papua,” tegasnya.
Ia berharap PRF XI dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, membuka peluang usaha bagi UMKM lokal, serta memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Papua kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, festival ini juga menjadi kesempatan bagi Papua Tengah untuk menunjukkan potensi seni dan kreativitas generasi muda sekaligus membangun citra positif daerah di tingkat nasional maupun internasional.
Karena itu, Nofit mengajak pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas seni, dan generasi muda untuk berpartisipasi menyukseskan festival tersebut.
“Saya mengajak kita semua, mari kita sukseskan. Semoga kegiatan ini berjalan lancar, aman, serta memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan budaya dan ekonomi kreatif di Papua Tengah,” pintanya.
Ia turut mengingatkan seluruh pihak agar menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan selama festival berlangsung. Menurutnya, sebagai provinsi baru, Papua Tengah perlu menunjukkan bahwa kegiatan seni berskala besar dapat terselenggara dengan baik melalui tanggung jawab bersama.
“Kita provinsi yang baru dan baru pertama kali melakukan festival reggae ini. Untuk itu, kita harus menjaga keamanan dan ketertiban bersama serta kebersihan agar dari ibu kota Papua Tengah, dari Kota Nabire, kita bisa menjadi contoh bagi Tanah Papua, bahkan bagi daerah di luar Papua,” harapnya.
Dukungan DKPT diharapkan semakin memperkuat pelaksanaan Papua Reggae Festival XI sebagai ruang perjumpaan seni, budaya, dan persatuan, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di Papua Tengah.
Penulis: Elias
Editor: Sianturi