SALAM PAPUA (OPINI)- Betapa ironi menyaksikan “orang tua” menadah darah dari anak-anaknya yang mengalir cuma-cuma. Tanah yang seharusnya memberikan kehidupan justru menampung darah manusia yang berakhir dengan cara tragis. Darah terkucur tanpa mengenal waktu, mengalir ke segala arah di atas tanah ini.
Dari sana, kita menyaksikan betapa manusia telah kehilangan moralitas dengan menghilangkan nyawa manusia lainnya. Harus kita akui bahwa seperti sedang menunggu giliran, tragedi pembunuhan membuat masyarakat rasanya sangat dekat dengan kematian. Silih berganti nyawa berjatuhan, menumpahkan darahnya di atas tanah yang telah memberikan kehidupan.
Manusia sebagai ciptaan yang mulia, nilai dirinya diruntuhkan oleh anak panah dan pedang yang dengan sangat mudah meneteskan darah, dan memisahkan bagian tubuh yang satu dengan bagian tubuh yang lain. Mereka sedang mengusahakan masa depannya sebagai pelajar, dua anak muda ditemukan meninggal dunia pada sebuah bengkel di SP3.
Beberapa kasus penyerangan panah di Kwamki Narama, dan betapa tragisnya seorang pria yang mencari nafkah untuk keluarga berakhir dengan anggota tubuh yang terpisah satu dengan yang lain di SP9. Tiga kasus ini setidaknya sebagai contoh dari sekian banyak peristiwa yang terjadi beberapa bulan terakhir.
Bagi masyarakat adat Amungme, tanah adalah orang tua yang menyediakan segala yang dibutuhkan. Sebagai “mama” dan “bapa,” makna filosofi adat ini memiliki nilai sakralitas yang tinggi sekaligus dasar bagi masyarakat adat untuk memaknai tanah sebagai sumber kehidupan.
Pemaknaan tersebut membuat kita menyadari bahwa masyarakat adat sangat mampu menempatkan tanah sebagai ruang yang menghidupkan. Kota Timika, selain memiliki batas teritorial kedaulatan masyarakat adat, tempat ini juga merupakan ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat lainnya. Namun, banyaknya peristiwa pembunuhan memunculkan sebuah paradoks bahwa tanah ini memberikan kehidupan namun juga sekaligus mematikan.
“Surga kecil yang jatuh ke bumi”, demikian kita menyebut tanah Papua yang penuh dengan keindahan dan kekayaan alamnya. Gunung, hutan, dan lautan dengan segala isinya membuat kita menyadari bahwa Papua adalah anugerah yang indah, menjadikannya seperti “surga kecil” yang nyata di bumi.
Tetapi bagaimana dengan manusia? Sepertinya tanah ini menjadi ruang aman hanya untuk sebagian orang, dan tidak sedikit yang justru merasakannya sebagai ruang yang memberikan luka. Untuk para korban yang darahnya mengalir cuma-cuma, tanah ini adalah “neraka kecil” yang menjemputnya menuju kematian. Seperti diperhadapkan dengan malaikat kematian, tanpa aba-aba, kejadiannya begitu cepat, mereka akhirnya kehilangan hidupnya dan membuat darah mereka menangis dari dalam tanah.
Hal ini perlu dilihat dalam sebuah kerangka refleksi bersama bahwa yang disebut anugerah bukan hanya tanah Papua, kehidupan manusia di tanah ini juga merupakan anugerah besar yang perlu kita hormati. Manusia adalah entitas yang paling sempurna dan mulia, tidak ada alasan apapun yang bisa mendukung penghilangan nyawa manusia lainnya. Menghilangkan nyawa orang lain berarti merenggut nilai dirinya sebagai manusia. Ini disebut dehumanisasi, di mana seseorang atau kelompok tertentu memandang dan memperlakukan orang lain dengan cara yang tidak manusiawi, menempatkannya pada posisi lebih rendah dari manusia, dilihat sebagai objek, dan tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri.
Demi tanah Papua yang kita cintai, demi “orang tua” kita-tanah Mimika; jika selama ini kita masih hening dalam berita duka, maka tulisan ini adalah ruang bersama untuk meratap kehilangan. Meratapi sesama kita yang darahnya telah mengalir di atas tanah ini, meratapi sesama kita yang telah kehilangan moralitas sebagai manusia, dan meratapi tanah kita “orang tua” yang telah memberikan kehidupan. Saatnya untuk merajut kasih, solidaritas, dan persatuan yang mengedepankan kemanusiaan di atas tanah ini. Biarkan tanah ini menyaksikan kehidupan manusia yang damai dan jadilah manusia dengan hati tulus untuk mengabdi.
Oleh: Meilina Simon Sariri
Penulis adalah warga Timika tinggal di SP1 Kamoro Jaya