SALAM PAPUA (OPINI)- Musim kemarau sedang berlangsung. Kebakaran hutan dan rawa-rawa mulai terjadi di sejumlah wilayah Tanah Papua. Asap mengepul, api merambat, dan yang terbakar bukan sekadar rumput atau pepohonan, melainkan bagian penting dari kehidupan kita.
Papua merupakan salah satu wilayah dengan kekayaan hutan dan keanekaragaman hayati yang sangat besar. Hutan menyimpan kekayaan hayati, sementara rawa dan lahan gambut berperan penting dalam menyimpan air dan karbon serta menjaga keseimbangan lingkungan.
Namun, ketika kemarau berlangsung lebih panjang dan kondisi semakin panas serta kering, ekosistem tersebut menjadi semakin rentan terhadap kebakaran. Sebagian kebakaran juga terjadi akibat aktivitas manusia.
Banyak orang mungkin berpikir, “Saya hanya membakar sebagian kecil lahan, tidak akan merusak apa-apa.” Pemikiran seperti ini perlu kita tinggalkan. Api yang awalnya kecil dapat merambat ke hutan, rawa maupun lahan di sekitarnya, terutama ketika kondisi kering dan angin bertiup.
Ketika lingkungan terus rusak, berbagai dampak dapat kita rasakan, mulai dari kualitas udara yang menurun, berkurangnya sumber pangan, terganggunya ketersediaan air hingga rusaknya habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Hal-hal yang tidak boleh lagi kita lakukan
1. Jangan lagi membakar lahan untuk membuka kebun
Membakar lahan mungkin terlihat sebagai cara yang mudah dan cepat, tetapi risikonya besar. Api dapat merambat ke hutan, rawa atau lahan milik masyarakat lainnya.
Kondisi lingkungan saat ini sudah berubah. Hutan semakin tertekan, lahan semakin mudah kering dan risiko kebakaran semakin besar.
Karena itu, pembukaan lahan sebaiknya dilakukan tanpa menggunakan api, misalnya dengan menebas dan membersihkan lahan secara bertahap. Memang membutuhkan tenaga lebih besar, tetapi jauh lebih aman bagi lingkungan.
2. Jangan lagi mengeringkan rawa dan lahan gambut
Rawa bukan sekadar tanah yang tergenang air. Ekosistem rawa memiliki fungsi penting dalam menyimpan dan mengatur air.
Ketika rawa dan lahan gambut dikeringkan, tanah menjadi lebih mudah terbakar. Kebakaran di lahan gambut juga dapat sulit dikendalikan karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah.
Karena itu, rawa perlu dijaga agar tetap memiliki fungsi hidrologisnya. Pemanfaatan lahan di sekitar rawa juga harus dilakukan tanpa menghilangkan fungsi ekologisnya.
3. Jangan membiarkan api menyala tanpa pengawasan
Membakar sampah, menyalakan api unggun atau menggunakan api untuk keperluan tertentu tanpa memastikan api benar-benar padam dapat menjadi awal kebakaran.
Pada musim kemarau, api kecil sekalipun dapat menjadi ancaman. Angin dapat mengubah arah dan membuat api menyebar dalam waktu singkat.
Jika terpaksa menggunakan api, pastikan api selalu diawasi dan benar-benar dipadamkan sebelum meninggalkan lokasi. Gunakan air atau tutup sisa bara dengan tanah dan pastikan tidak ada lagi bagian yang masih menyala.
4. Jangan berpikir bahwa kebakaran bukan urusan kita
Asap tidak mengenal batas wilayah. Kebakaran di satu tempat dapat berdampak terhadap masyarakat di tempat lain.
Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama. Ingatkan keluarga, kerabat dan tetangga mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
Jika melihat kebakaran, segera laporkan kepada pihak yang berwenang dan, apabila kondisi memungkinkan serta aman untuk dilakukan, ikut membantu penanganannya.
5. Jangan merusak hutan di sekitar sungai dan perbukitan
Hutan di sekitar sungai dan kawasan perbukitan memiliki fungsi penting dalam menjaga tanah dan tata air.
Ketika tutupan hutan hilang, risiko erosi, banjir dan longsor dapat meningkat. Dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kebun, rumah dan keselamatan masyarakat.
Karena itu, hutan di sekitar sungai dan perbukitan harus dijaga. Pepohonan yang tumbuh di sana merupakan bagian dari benteng alami yang melindungi kehidupan kita.
Jika kita tetap membiarkannya
Jika kerusakan lingkungan terus berlangsung, dampaknya akan semakin besar. Kualitas udara dapat menurun, sumber air dan pangan dapat terganggu, tanah menjadi semakin rentan dan habitat berbagai jenis tumbuhan serta satwa dapat hilang.
Yang paling penting, kita sedang mempertaruhkan warisan untuk anak cucu. Generasi mendatang berhak menikmati Tanah Papua yang hijau, sejuk, memiliki air yang cukup dan mampu menyediakan sumber kehidupan.
Mari berubah sekarang
Tuhan menitipkan Tanah Papua kepada kita bukan untuk dihancurkan, melainkan untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang baik.
Kita adalah penjaga alam, bukan pemilik mutlaknya.
Karena itu, mari berhenti menggunakan api secara sembarangan. Jagalah rawa dan hutan yang masih tersisa. Ingatkan satu sama lain dengan cara yang baik, tetapi tetap teguh. Tanam kembali kawasan yang telah gundul dan rawat pohon yang sudah tumbuh.
Setiap pohon yang tumbuh adalah harapan bagi masa depan.
Jangan menunggu sampai hutan habis, sungai mengering dan tanah tidak lagi mampu memberikan kehidupan. Perubahan harus dimulai sekarang, dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar.
Tanah Papua bukan hanya tempat kita hidup. Tanah Papua adalah rumah, sumber kehidupan dan warisan yang harus dijaga bersama. Jika alam terjaga, kehidupan masyarakat juga akan lebih terjamin. Semoga kita diberi kesadaran dan kekuatan untuk menjaga rumah kita bersama.
Penulis: Yudas Degei
Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai
Editor: Sianturi