SALAM PAPUA (EDITORIAL) - Tanah Papua bukan sekadar daratan hijau di ujung timur Indonesia. Ia adalah kitab terbuka yang lembar-lembarnya tertulis oleh gunung, lempeng, sungai, dan mineral selama lebih dari ratusan juta tahun.
Di peringatan Hari Keanekaragaman Geologi Internasional 6 Oktober 2026 bertajuk "Keanekaragaman Geologi di Depan Pintu Kita," kita diajak menengok bahwa kekayaan ini bukan milik jauh, melainkan berakar tepat di bawah langkah kaki kita.
Papua Tanah yang Dahsyat
Papua lahir dari pertemuan dahsyat antara Lempeng Benua Australia yang bergerak ke utara dan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke barat, tabrakan yang berlangsung dalam rentang waktu 2-8 juta tahun terakhir, mengangkat dasar laut menjadi pegunungan tertinggi di Indonesia.
Hasilnya, terbentuklah Sabuk Lipatan Naik Papua sepanjang lebih dari 1.300 kilometer dengan lebar 100 kilometer, struktur geologi raksasa yang menjadi jantung kekayaan alam negeri ini.
Proses ini menjadikan Papua bagian dari Papua Copper (Gold Province), jalur mineralisasi porfiri dan epitermal yang menghasilkan salah satu sistem endapan tembaga, emas paling produktif di dunia.
Di sini, panas dan cairan magmatik dari kedalaman bumi membawa mineral berharga naik perlahan, mengendap selama jutaan tahun hingga terbentuklah kawasan mineral Grasberg di Mimika, tambang emas terbesar dan ketiga cadangan tembaga dunia.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat bahwa Papua menyumbang sekitar 30 persen dari total sumber daya tembaga nasional, yaitu sebesar 19.832.923 ton dari total 66,1 juta ton di seluruh Indonesia. Cadangan ini disertai emas dalam jumlah yang menjadikan Papua sebagai salah satu lumbung logam mulia global.
Namun keanekaragaman geologi Papua tak berhenti pada emas dan tembaga. Di bagian selatan dan barat, Bintuni, Kaimana, Fakfak, tersimpan potensi bauksit hasil pelapukan tropis batuan kaya alumina. Di Raja Ampat dan wilayah sekitarnya, terdapat sumber daya nikel yang kian penting bagi transisi energi dunia. Di perairan Papua, terdapat 11 Wilayah Kerja migas yang mencakup tahap produksi, pengembangan, hingga eksplorasi, dengan Cekungan Akimeugah saja tercatat memiliki sumber daya sekitar 263,75 juta barel minyak dan 1,1 triliun kaki kubik gas.
Jejak Waktu dan Wajah Bumi yang Unik
Keanekaragaman geologi bukan hanya soal tambang. Ia terukir di setiap pemandangan yang kita lihat. Danau Sentani, yang memeluk kaki Pegunungan Cyclops, menyimpan bukti bahwa wilayah ini dahulu adalah dasar laut, fosil hewan laut ditemukan di pegunungan sekitarnya, membuktikan daratan ini terangkat oleh kekuatan tektonik. Puncak Jaya dengan sisa saljunya yang menipis adalah monumen hidup dari proses pengangkatan yang belum usai; para ilmuwan memperkirakan pegunungan ini masih terus tumbuh beberapa milimeter setiap tahunnya.
"Geodiversitas adalah pasangan sunyi keanekaragaman hayati," demikian dinyatakan UNESCO . Tanpa keragaman batuan, tanah, air, dan bentang alam yang terbentuk selama jutaan tahun, hutan Papua yang kaya keanekaragaman hayati tidak akan bisa tumbuh. Setiap jenis tanah, setiap aliran sungai, setiap ketinggian lereng adalah warisan geologis yang memberi fondasi kehidupan.
Peluang di Depan Pintu Kita
Tema peringatan tahun ini "Geodiversitas di Depan Pintu Kita" mengingatkan bahwa kekayaan ini ada di sekitar kita, bukan di tempat jauh. Tantangannya kini bukan sekadar menambangnya, melainkan mengelolanya agar memberi manfaat berkelanjutan.
Pertama, pemetaan geologi dasar masih menjadi kebutuhan mendesak. Sebagian besar wilayah pedalaman Papua belum terpetakan secara rinci; banyak prospek seperti Wabu, wilayah Mamberamo, hingga perairan utara masih menyimpan teka-teki yang belum terungkap sepenuhnya. Pemetaan ini bukan hanya untuk mencari tambang baru, melainkan untuk memahami kerentanan bencana, gempa, longsor, yang mengancam ribuan keluarga di wilayah tektonik sangat aktif ini.
Kedua, diversifikasi potensi harus diperluas. Selain logam berharga, Papua memiliki cadangan bauksit, nikel, batugamping, pasir-batu, hingga batubara di beberapa kabupaten . Pengembangan ini harus disertai jaminan bahwa masyarakat adat, pemilik sah tanah tempat kekayaan itu berada, menjadi pihak pertama yang menerima manfaat, bukan sekadar penonton.
Ketiga, pengelolaan migas di Cekungan Akimeugah, Salawati, dan wilayah perairan utara memerlukan langkah hati-hati namun tegas. Sumber daya ini dapat menjadi pilar ketahanan energi nasional sekaligus pendorong kemandirian ekonomi daerah, asalkan dijalankan dengan transparansi penuh dan penghormatan terhadap lingkungan hidup.
Warisan Bagi Generasi yang Akan Datang
Bumi Papua telah menyimpan kekayaannya selama jutaan tahun. Ia menunggu bukan untuk diambil habis dalam satu masa, melainkan untuk dikelola dengan bijak, agar anak cucu Amungme, Kamoro, Dani, Asmat, Sentani, Biak, dan seluruh suku di tanah ini tetap dapat berdiri di atas tanah yang subur, bernapas di udara yang bersih, dan mewarisi kedaulatan dari apa yang dikandung bumi leluhur mereka.
Hari Keanekaragaman Geologi Internasional bukan perayaan untuk memuji kekayaan semata. Ia adalah peringatan: batuan yang kita pijak, sungai yang kita minum, gunung yang kita pandang, semuanya bukan ciptaan tangan manusia. Ia dipinjamkan untuk dijaga. Seperti dikatakan pendiri inisiatif ini, keanekaragaman geologi ada di ambang pintu kita. Maka marilah kita membukanya bukan dengan keserakahan, melainkan dengan rasa syukur, ilmu, dan tanggung jawab.
Dari kedalaman bumi Papua mengalir bukan hanya emas dan tembaga, melainkan harapan kedaulatan negeri. Harapan itu akan utuh hanya jika kita ingat, kekayaan terbesar bukanlah yang diambil dan dijual, melainkan yang dikelola agar tetap memberi kehidupan, hari ini, esok, dan sejauh mata rantai generasi berlanjut.
Penulis: Jimmy