SALAM PAPUA (TIMIKA)- Pesawat ATR 42-500 merupakan salah
satu jenis pesawat turboprop penumpang yang hingga kini masih menjadi andalan
penerbangan regional di berbagai negara. Pesawat ini dirancang untuk melayani
rute jarak pendek hingga menengah dengan kapasitas maksimal 42 penumpang, serta
mampu beroperasi di bandara dengan landasan terbatas.
ATR 42-500 merupakan produk kerja sama industri dirgantara
Prancis dan Italia melalui perusahaan Aérospatiale dan Aeritalia (kini Alenia).
Seri ATR (Avions de Transport Régional) dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan
penerbangan lokal yang efisien, ekonomis, dan adaptif terhadap berbagai kondisi
geografis.
Dari sisi performa, ATR 42-500 ditenagai dua mesin turboprop
Pratt & Whitney PW127E dengan daya masing-masing sekitar 1.610 kW. Pesawat
ini dilengkapi baling-baling enam bilah yang mampu menghasilkan kecepatan
jelajah hingga 563 kilometer per jam, dengan jarak tempuh maksimum mencapai
1.850 kilometer.
Secara dimensi, pesawat ini memiliki rentang sayap 24,57
meter, panjang 22,67 meter, dan tinggi 7,59 meter. Bobot kosong pesawat
tercatat sekitar 11.250 kilogram, sementara berat maksimum saat lepas landas
mencapai 18.600 kilogram.
Pengembangan seri ATR 42 dimulai pada Oktober 1981, dengan
penerbangan perdana prototipe pertama pada 16 Agustus 1984. Sertifikasi
kelaikan udara diperoleh dari otoritas penerbangan Prancis dan Italia pada
September 1984, dan pesawat mulai beroperasi secara komersial pada Desember
1984.
Seiring meningkatnya kebutuhan dan perkembangan teknologi,
ATR meluncurkan varian ATR 42-500 pada tahun 1995. Varian ini membawa sejumlah
penyempurnaan dibanding generasi sebelumnya, di antaranya mesin yang lebih
bertenaga, penggunaan propeler enam bilah, serta kokpit digital yang telah
terkomputerisasi.
Secara global, ATR 42 telah mencatat total pesanan sebanyak
343 unit, dengan 336 unit telah dikirimkan ke berbagai maskapai penerbangan.
Pesawat ini banyak digunakan untuk melayani rute perintis, penerbangan
kepulauan, serta daerah dengan medan dan cuaca menantang.
Dengan efisiensi bahan bakar, kemampuan lepas landas di
landasan pendek, serta biaya operasional yang relatif rendah, ATR 42-500 hingga
kini tetap menjadi salah satu tulang punggung penerbangan regional di dunia.
Insiden kecelakaan yang terjadi di Kabupaten Maros, Sulawesi
Selatan pada 17 Januari 2026 melibatkan sebuah pesawat turboprop ATR 42-500
yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT). Pesawat ini hilang kontak
saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar, dan kemudian diduga menabrak
lereng gunung di kawasan Bulusaraung setelah hilang kontak di area Maros.
Sejumlah serpihan pesawat telah ditemukan di lokasi, dan
operasi SAR gabungan masih berlangsung untuk menemukan korban yang belum
berhasil dievakuasi. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah
mengklasifikasikan kecelakaan ini sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT)
yaitu pesawat yang menabrak lereng gunung meskipun masih dalam kendali. (Wikipedia)
Editor: Sianturi

