SALAM PAPUA (TIMIKA) – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos, OSA mengingatkan para pejabat tinggi Orang Asli Papua (OAP) agar tidak berkompromi atau “kongkalikong” dengan elite negara demi melancarkan wacana perluasan lahan perkebunan kelapa sawit di Tanah Papua.

Menurut Mgr. Bernardus, kepentingan jabatan dan politik yang hanya bersifat sementara tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan tanah adat, hutan, dan masa depan rakyat Papua.

“Jangan karena kepentingan politik dan jabatan lima tahunan, lalu merelakan tanah dan merusak kehidupan rakyat. Itu tidak boleh,” tegas Mgr. Bernardus saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (7/1/2026).

Ia menegaskan, mengizinkan perluasan lahan sawit berarti ikut mewariskan penderitaan bagi generasi anak cucu di masa depan. Tanah, hutan, dan seluruh kekayaan alam Papua merupakan ciptaan Tuhan yang paling indah dan harus dijaga serta diwariskan, bukan dieksploitasi demi kepentingan sesaat.

Uskup Timika juga mengajak masyarakat adat dan kalangan intelektual untuk aktif mengawasi setiap kebijakan dan langkah pejabat OAP yang berpotensi merugikan rakyat.

“Masyarakat adat harus mengontrol pergerakan pejabat yang hanya mementingkan politiknya sendiri, agar warisan generasi penerus bisa diselamatkan,” pesannya.

Ia menekankan, pejabat OAP sejatinya harus berdiri di garis terdepan dalam melindungi tanah adat dan memastikan setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kesejahteraan masyarakat Papua.

Penulis: Acik

Editor: Sianturi