SALAM PAPUA (TIMIKA)– Umat Tionghoa di berbagai belahan
dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek pada 17 Februari 2026. Perayaan ini
merupakan momen terpenting dalam budaya Tionghoa yang menandai dimulainya tahun
baru berdasarkan kalender lunisolar tradisional.
Tahun Baru Imlek, yang juga dikenal sebagai Festival Musim
Semi (Chun Jie), dimulai pada hari pertama bulan pertama dalam kalender
Tionghoa dan berlangsung hingga hari ke-15 yang disebut Cap Go Meh atau
Festival Lentera.
Dalam kalender Gregorian, Imlek jatuh antara 21 Januari
hingga 20 Februari setiap tahunnya. Penentuan tanggal didasarkan pada
kemunculan bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin.
Perayaan ini memiliki makna penting sebagai simbol
berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi, sekaligus menjadi momentum
pembaruan, harapan, serta doa untuk keberuntungan di tahun yang baru.
Sejumlah tradisi khas turut mewarnai perayaan Imlek, seperti
makan malam reuni keluarga pada malam pergantian tahun (Chúxī), pembagian
angpao (hóngbāo), pertunjukan barongsai dan liang liong, penyalaan petasan dan
kembang api, hingga pemasangan lampion merah dan sajak musim semi (chunlian) di
rumah-rumah.
Tahun Baru Imlek dirayakan secara luas di berbagai negara
dengan populasi Tionghoa yang signifikan, seperti Tiongkok, Indonesia,
Singapura, dan Malaysia. Selain itu, tradisi ini juga memberi pengaruh budaya
di sejumlah negara Asia lainnya.
Pada 2024, Tahun Baru Imlek resmi diinskripsikan sebagai
Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, sebagai pengakuan atas nilai budaya dan
tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Perayaan Imlek tidak hanya menjadi momentum kebersamaan
keluarga, tetapi juga simbol harmoni dan keberagaman budaya di berbagai negara,
termasuk Indonesia. (Wikipedia)
Editor: Sianturi

