SALAM PAPUA (TIMIKA)- Australia dinilai perlu menyebut
krisis biaya hidup dengan istilah yang lebih tepat, yakni kesenjangan kekayaan
yang semakin melebar di masyarakat. Salah satu solusi yang dinilai dapat
mengatasinya adalah penerapan pendapatan dasar universal (Universal Basic
Income/UBI) disertai reformasi pajak yang lebih adil.
Sejumlah analis menilai kebijakan bantuan pemerintah yang
selama ini diberikan untuk mengatasi kenaikan biaya hidup belum menyentuh akar
masalah, yakni ketimpangan distribusi kekayaan dalam sistem ekonomi.
Dalam beberapa dekade terakhir, kelompok kaya semakin
mengakumulasi kekayaan, sementara sebagian besar masyarakat mengalami kesulitan
ekonomi. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memperparah ketidakstabilan sosial,
terutama ketika perkembangan teknologi mulai menggantikan banyak pekerjaan
manusia.
Apa itu pendapatan dasar universal?
Pendapatan dasar universal adalah pembayaran rutin dari
pemerintah kepada seluruh warga negara tanpa syarat, terlepas dari status
pekerjaan, pendapatan, atau kekayaan.
Tujuannya adalah memastikan setiap orang memiliki tingkat
keamanan finansial minimum, sekaligus mengurangi kemiskinan dan ketimpangan
sosial.
Sebagian pendukung konsep ini mengusulkan jumlah pendapatan
dasar sekitar 50 persen dari pendapatan median masyarakat. Di Australia, nilai
tersebut diperkirakan sekitar 549 dolar Australia per minggu setelah pajak
untuk setiap individu.
Tantangan pembiayaan
Penerapan kebijakan ini membutuhkan reformasi perpajakan
besar, termasuk memastikan perusahaan multinasional membayar pajak secara adil.
Data menunjukkan sekitar 31 persen perusahaan multinasional
hampir tidak membayar pajak di Australia pada 2022–2023, meskipun memiliki
pendapatan besar.
Jika perusahaan-perusahaan tersebut dikenakan pajak dengan
tarif yang sama seperti individu berpenghasilan tinggi, potensi penerimaan
negara dinilai cukup untuk mendanai program pendapatan dasar universal.
Contoh dari negara lain
Beberapa negara telah melakukan uji coba pendapatan dasar
universal, antara lain Finlandia, Kanada, Spanyol, Namibia, Kenya, India,
Uganda, dan Swiss.
Hasil eksperimen tersebut menunjukkan bahwa penerima bantuan
tetap bekerja, tetapi mengalami penurunan tingkat stres serta peningkatan
kesehatan mental dan kesejahteraan.
Contoh lain adalah Norwegia, yang menerapkan pajak tinggi
pada sektor pertambangan hingga 78 persen dan mengelola pendapatan tersebut
melalui dana kekayaan negara untuk membiayai layanan publik seperti pendidikan
dan kesehatan.
Potensi manfaat sosial
Pendukung kebijakan ini menilai pendapatan dasar universal
dapat: mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, meningkatkan kesehatan
mental masyarakat, membantu korban kekerasan dalam rumah tangga yang terjebak
karena keterbatasan finansial dan menurunkan tingkat kejahatan dan masalah
sosial lainnya.
Di Australia sendiri, setidaknya 3,3 juta orang masih hidup
di bawah garis kemiskinan, termasuk sekitar 761 ribu anak-anak.
Tantangan politik
Meski dinilai memiliki potensi besar, penerapan pendapatan
dasar universal memerlukan keberanian politik karena berkaitan dengan kenaikan
pajak dan perubahan sistem ekonomi.
Hingga kini, partai politik utama di Australia masih
mempertahankan kebijakan pasar tenaga kerja tradisional dan belum mengadopsi
konsep pendapatan dasar universal secara nasional.
Namun para peneliti menilai kebijakan tersebut dapat menjadi langkah penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan stabil di masa depan. (Sumber: 360info.id)
Editor: Sianturi

