SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kebiasaan sering berbohong tidak
hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga dapat menjadi indikasi
gangguan psikologis jika sulit dihentikan, seperti gangguan kepribadian ambang
dan gangguan kepribadian antisosial.
Secara umum, orang yang sering berbohong dapat dikenali
melalui perubahan perilaku, seperti menghindari kontak mata, terlihat gelisah,
nada suara tidak konsisten, hingga ekspresi wajah yang tidak selaras dengan
ucapan. Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak selalu menjadi indikator
pasti.
Dalam jangka panjang, kebiasaan berbohong dapat memicu stres
berkepanjangan yang berdampak pada kesehatan, seperti tekanan darah tinggi,
gangguan kecemasan, dan depresi. Bahkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi
mythomania atau kebiasaan berbohong kompulsif.
Selain itu, perilaku ini juga berpotensi merusak
kepercayaan, memicu kesepian, serta meningkatkan risiko penyebaran informasi
yang tidak benar atau hoaks.
Para ahli menekankan pentingnya kesadaran diri untuk
menghentikan kebiasaan tersebut, dengan mengenali pemicu, melatih kejujuran,
dan berani menghadapi konsekuensi. Kejujuran dinilai menjadi kunci penting
dalam menjaga kesehatan mental sekaligus membangun hubungan sosial yang sehat.
(Sumber: Alodokter)
Editor: Sianturi

