SALAM PAPUA (TIMIKA)- Selat Hormuz merupakan salah satu
jalur laut paling strategis di dunia. Letaknya berada di antara Iran di sisi
utara, serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan. Selat sempit ini
menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, yang kemudian
menjadi pintu keluar menuju Samudra Hindia. Meski ukurannya tidak terlalu
lebar, peran Selat Hormuz sangat besar dalam sistem perdagangan global,
khususnya perdagangan energi seperti minyak mentah dan gas alam cair (LNG).
Banyak orang bertanya, Selat Hormuz milik negara mana?
Secara geografis, wilayah perairan di sekitar selat ini berbatasan langsung
dengan Iran dan Oman. Namun, berdasarkan hukum laut internasional, Selat Hormuz
bukan milik eksklusif satu negara. Jalur ini dikategorikan sebagai selat
internasional yang digunakan untuk pelayaran global. Artinya, kapal dagang dari
berbagai negara memiliki hak melintas selama mengikuti aturan pelayaran
internasional. Karena itulah Selat Hormuz bukan sekadar wilayah regional Timur
Tengah, tetapi juga kepentingan ekonomi dunia.
Sejarah Selat Hormuz sudah berlangsung sejak ribuan tahun
lalu. Pada masa kuno, jalur ini menjadi bagian penting perdagangan antara
Persia, India, Mesopotamia, dan Afrika Timur. Kapal-kapal dagang melintasi
perairan ini membawa rempah-rempah, mutiara, kain sutra, logam mulia, dan
berbagai komoditas bernilai tinggi. Posisi geografisnya menjadikan Hormuz
sebagai titik temu perdagangan antarperadaban.
Pada abad ke-16, kekuatan kolonial Portugis datang dan
berusaha menguasai kawasan ini. Tahun 1507, Portugis merebut Pulau Hormuz dan
membangun benteng pertahanan untuk mengendalikan lalu lintas perdagangan laut
antara Asia dan Eropa. Saat itu, siapa yang menguasai Hormuz berarti memiliki
pengaruh besar terhadap perdagangan samudra. Namun dominasi Portugis tidak
bertahan selamanya. Pada tahun 1622, Kekaisaran Persia dengan bantuan Inggris
berhasil merebut kembali kawasan tersebut. Sejak saat itu, pengaruh Persia
kembali menguat di sekitar selat.
Memasuki abad ke-20, arti penting Selat Hormuz meningkat
drastis setelah ditemukannya cadangan minyak raksasa di kawasan Teluk Persia.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat
Arab menjadi produsen energi utama dunia. Sebagian besar ekspor minyak mereka
harus melewati Selat Hormuz sebelum dikirim ke pasar internasional di Asia,
Eropa, dan Amerika. Inilah yang membuat selat ini disebut sebagai urat nadi
energi global.
Menurut data International Energy Agency (IEA) dan U.S.
Energy Information Administration (EIA), sekitar seperlima konsumsi minyak
dunia melewati Selat Hormuz setiap hari. Selain minyak mentah, sekitar 20
persen perdagangan LNG dunia juga melalui jalur ini, terutama dari Qatar yang
merupakan salah satu eksportir gas terbesar dunia. Negara-negara di Asia
seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan China sangat bergantung pada pasokan
energi yang melewati selat ini.
Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, dampaknya bisa
langsung terasa di seluruh dunia. Ketegangan politik, konflik militer, ancaman
penutupan jalur, atau serangan terhadap kapal tanker sering memicu lonjakan
harga minyak global. Ketika harga minyak naik, biaya transportasi meningkat,
harga bahan bakar melonjak, dan inflasi di banyak negara ikut terdorong naik.
Bahkan negara yang jauh dari Timur Tengah seperti Indonesia tetap bisa
merasakan dampaknya melalui kenaikan harga BBM, ongkos logistik, dan harga barang
kebutuhan pokok.
Karena pentingnya posisi tersebut, Selat Hormuz juga sering
menjadi pusat perhatian geopolitik dunia. Hubungan tegang antara Iran dengan
Amerika Serikat maupun beberapa negara Teluk kerap memunculkan kekhawatiran
terhadap keamanan pelayaran di kawasan itu. Setiap kali konflik meningkat,
pasar energi global langsung bereaksi.
Dengan demikian, Selat Hormuz bukan milik satu negara,
melainkan jalur laut internasional yang berada di kawasan strategis antara Iran
dan Oman. Sejak zaman kuno hingga era modern, selat ini terus memainkan peran
penting dalam perdagangan dunia. Kini, nilainya semakin vital karena menjadi
pintu utama distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai belahan
dunia. Selama dunia masih bergantung pada energi fosil, Selat Hormuz akan tetap
menjadi salah satu titik terpenting dalam peta ekonomi global. Sumber:
International Energy Agency (IEA), U.S. Energy Information Administration
(EIA), Reuters, UNCTAD.
Editor: Sianturi


