SALAM PAPUA (TIMIKA) – Para pimpinan daerah se-Tanah Papua
menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) guna memperkuat implementasi Otonomi Khusus
(Otsus), dengan fokus pada sinkronisasi program, penguatan kelembagaan, serta
penyaluran dana Otsus yang lebih berkualitas.
Rakor tersebut dibingkai dalam Forum Koordinasi Strategis
Percepatan Pembangunan dan Penguatan Implementasi Kebijakan Otonomi Khusus
Dalam Rangka Mewujudkan Papua yang Lebih Sejahtera, yang berlangsung di
Ballroom Hotel Horison Diana, Timika, selama dua hari, 11–12 Mei 2026.
Kegiatan dibuka oleh Staf Khusus Menteri Dalam Negeri Bidang
Pemerintahan Desa dan Pembangunan Perbatasan, Hoiruddin Hasibuan. Rakor turut
menghadirkan Anggota Komisi II DPR RI, Komarudin Watubun sebagai narasumber dan
diikuti enam gubernur serta 42 kepala daerah kabupaten/kota se-Tanah Papua.
Dalam sambutan Menteri Dalam Negeri yang dibacakan Hoiruddin
Hasibuan, forum ini disebut sebagai wujud komitmen bersama untuk memperkuat
koordinasi, menyamakan persepsi, dan membahas isu-isu strategis terkait
implementasi Otsus Papua.
“Dalam forum ini kami memiliki cita-cita besar agar
terwujudnya Papua mandiri, adil dan sejahtera melalui misi Papua sehat, Papua
cerdas dan Papua produktif sebagaimana tertuang dalam Rencana Induk Percepatan
Pembangunan Papua yang juga merupakan bagian dari visi Indonesia Emas 2045,”
ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan pembangunan di Tanah Papua masih
cukup kompleks. Selain kondisi geografis dan wilayah terisolir, persoalan
kemiskinan, ketimpangan pembangunan, dan keterbatasan akses pelayanan dasar
masih menjadi perhatian bersama.
Di sisi lain, efisiensi anggaran membuat pemerintah daerah
dituntut lebih cermat menentukan skala prioritas pembangunan agar program yang
dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Kemendagri juga menegaskan pentingnya percepatan
penyelesaian berbagai regulasi turunan Otsus Papua. Keberadaan regulasi ini
sangat penting sebagai instrumen implementasi kewenangan khusus di daerah,”
jelas Hoiruddin.
Ketua Asosiasi Kepala Daerah se-Tanah Papua, Meki Fritz
Nawipa mengatakan Otsus diibaratkan sebagai generasi yang siap melahirkan masa
depan baru, namun masih menghadapi berbagai tantangan implementasi.
“Kita ini telah memiliki enam provinsi tapi tetap satu
Papua. Forum ini merupakan hasil pertemuan kami bersama bapak Presiden,” kata
Meki.
Menurutnya, implementasi Otsus masih terkendala kurangnya
data, ego sektoral, dan lemahnya kerja sama antar daerah. Karena itu, ia
mengingatkan seluruh pimpinan daerah agar membangun kolaborasi demi
menghadirkan kesejahteraan nyata bagi Orang Asli Papua (OAP).
“Otsus harus hadir nyata dalam bentuk layanan pendidikan,
kesehatan, infrastruktur, dan penguatan ekonomi rakyat yang dirasakan langsung
oleh OAP,” ujarnya.
Sementara itu, Team Leader Program SKALA, Petrarca Karetji
menyoroti tiga hambatan utama implementasi Otsus, yakni rendahnya kepercayaan
masyarakat terhadap efektivitas dana Otsus, lemahnya data sosial ekonomi, dan
terbatasnya kolaborasi antar lembaga serta daerah.
“Setiap rupiah dana Otsus harus berdampak langsung pada
kesejahteraan Orang Asli Papua. Forum ini menjadi momentum menyatukan arah,
komitmen, dan langkah bersama untuk mempercepat pembangunan Papua yang
sejahtera, inklusif, dan berdaya,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

