SALAM PAPUA (KENYAM) – Bupati Kabupaten Nduga, Yoas Beon menegaskan bahwa pendidikan generasi muda di Kabupaten Nduga tidak boleh terputus meski masyarakat menghadapi berbagai tantangan akibat konflik keamanan dan pengungsian dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara syukuran kelulusan siswa SD Gabungan Dari Distrik 14 Sekolah di Kenyam, Senin (18/5/2026).

Dalam sambutannya, Yoas mengungkapkan bahwa banyak anak-anak Nduga sempat terlantar dan kehilangan akses pendidikan akibat situasi keamanan yang tidak stabil sejak 2019. Bahkan dirinya beberapa kali turun langsung ke lokasi pengungsian dan menemukan banyak siswa berada dalam kondisi memprihatinkan, termasuk di Timika.

“Kami berpikir keras bagaimana menyelamatkan generasi muda yang sedang menempuh pendidikan. Sebab kalau pendidikan mereka terputus, maka rantai kemajuan suatu daerah dan suku juga akan ikut terputus,” ujarnya.

“Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada para orang tua, guru, dan semua pihak yang telah mendukung pendidikan anak-anak di sini. Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua,” imbuh Bupati Beon.

Bupati juga mengungkapkan bahwa perjuangan dunia pendidikan di Kabupaten Nduga dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan berat akibat situasi keamanan dan pengungsian masyarakat.

Menurut Yoas, sekolah-sekolah yang tergabung dalam Distrik 14 berasal dari berbagai wilayah di Nduga, baik dari timur, barat, utara maupun selatan, dengan sebagian besar berada di wilayah utara. Ia bahkan mengenang salah satu SD tertua di Nduga yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an dan menjadi bagian dari perjalanan pendidikannya.

“Kami semua bersyukur kepada Tuhan karena di tengah situasi yang berat, anak-anak kita masih bisa menyelesaikan pendidikan mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak konflik dan gangguan keamanan terjadi pada 2019, banyak masyarakat terpaksa mengungsi demi menyelamatkan diri. Kondisi itu berdampak besar terhadap dunia pendidikan karena banyak anak-anak kehilangan akses belajar, bahkan terlantar di berbagai daerah pengungsian, termasuk di Timika.

“Saya sendiri sampai tiga kali turun ke daerah pengungsian dan menemukan banyak anak-anak sekolah yang terlantar. Ini yang menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” katanya.

Menurutnya, jika pendidikan generasi muda terputus, maka kemajuan suatu daerah dan suku juga akan ikut terhambat. Karena itu pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi agar anak-anak tetap mendapatkan pendidikan meski di tengah keterbatasan.

“Bukan berarti pemerintah tidak mampu membuat program atau rencana pendidikan, tetapi tantangan terbesar yang dihadapi adalah kondisi keamanan dan situasi di lapangan. Namun kita tidak boleh kehilangan harapan untuk masa depan anak-anak Nduga,” tegasnya.

Penulis: Elea Worom

Editor: Sianturi