SALAM PAPUA (TIMIKA) – Forum Koordinasi Strategis Asosiasi Kepala Daerah se-Tanah Papua mengidentifikasi tiga persoalan utama dalam implementasi Otonomi Khusus (Otsus) di Papua, yakni rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap Otsus, lemahnya data sosial-ekonomi Orang Asli Papua (OAP), serta terbatasnya kolaborasi lintas daerah.

Menanggapi hal tersebut, Johannes Rettob menegaskan bahwa data kependudukan di Kabupaten Mimika sudah sangat lengkap sehingga siap mendukung kebijakan berbasis data.

Sebagai tuan rumah forum, Pemerintah Kabupaten Mimika juga mengaku telah menyiapkan seluruh kebutuhan kegiatan secara maksimal guna menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi acuan bersama bagi seluruh provinsi di Tanah Papua.

“Pertemuan ini sangat baik, kita harus konsisten satu suara dalam pengimplementasi Otsus, dan memang harus ada evaluasi atas penggunaan anggaran Otsus. Untuk data penduduk OAP pun kami Mimika paling baik dan lengkap,” ujar Johannes Rettob usai menghadiri forum di Ballroom Hotel Horison Diana, Senin (11/5/2026) malam.

Johannes menjelaskan, selain persoalan data, pengaturan peruntukan Dana Otsus juga menjadi tantangan karena mekanismenya telah diatur pemerintah pusat sehingga daerah harus mengikuti ketentuan yang ada, sementara kebutuhan tiap daerah berbeda-beda

“Untuk peruntukan Otsus ini pun sudah diatur pemerintah pusat, dan kita di daerah ini harus mengikuti aturan pusat. Sedangkan kebutuhan kita di daerah itu berbeda,” jelasnya.

Ia menambahkan, koordinasi lintas sektor di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika sebenarnya sudah berjalan baik, termasuk koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Namun, ia menyoroti keterlambatan penyaluran Dana Otsus dari pemerintah pusat yang dinilai berdampak terhadap efektivitas penggunaan anggaran.

“Dana ini dikurangi, kemudian tiap tahun anggaran diberikan di akhir tahun dan diarahkan untuk bidang pendidikan. Jadi kita gunakan juga tidak sesuai kebutuhan sehingga anggaran tiap tahun selalu menjadi SILPA,” tutupnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi