SALAM PAPUA (TIMIKA) – Ketua Tim Percepatan Penurunan
Stunting (TPPS) Kabupaten Mimika, Emanuel Kemong, menegaskan komitmennya untuk
melakukan pengawasan langsung di setiap distrik dan kampung guna memastikan
program percepatan penurunan stunting berjalan efektif, berbasis data, dan
tepat sasaran.
Menurut Emanuel, upaya penanganan stunting harus dilakukan
secara terpadu melalui koordinasi lintas sektor dengan fokus pada peningkatan
layanan dasar, seperti pemenuhan gizi, pelayanan kesehatan, sanitasi, serta
akses air bersih bagi keluarga berisiko stunting.
“Stunting ini memang harus kita tindak lanjuti dengan baik.
Kita harus melakukan pertemuan lintas sektor dan menyepakati terlebih dahulu
wilayah yang menjadi fokus intervensi. Kita kerjakan bersama-sama selama enam
bulan di satu wilayah, misalnya di Distrik Mimika Baru atau Mimika Timur
terlebih dahulu,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, sebelum menetapkan wilayah prioritas, TPPS
akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penurunan Stunting yang bertugas
menyatukan persepsi dan langkah kerja seluruh Organisasi Perangkat Daerah
(OPD), lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta berbagai mitra pembangunan yang
selama ini menjalankan program secara terpisah.
Menurutnya, keberadaan Satgas sangat penting untuk
memastikan seluruh pihak menggunakan data yang sama, memiliki target yang
jelas, serta menjalankan program yang saling mendukung.
“Antara OPD yang satu dengan yang lain, termasuk mitra dan
LSM, kita belum memiliki data yang sama dan belum duduk bersama untuk membuat
satu kesepakatan. Ini menjadi salah satu kendala karena masing-masing berjalan
dengan perencanaan sendiri,” jelasnya.
Emanuel yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Mimika
mengatakan, Satgas nantinya akan mengoordinasikan seluruh perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program penurunan stunting sehingga
sistem kontrol dapat berjalan lebih efektif.
Ia menambahkan, meskipun data menunjukkan angka stunting di
Kabupaten Mimika mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, masih
terdapat sejumlah kasus yang belum terjangkau oleh program intervensi
pemerintah.
Karena itu, menurutnya, penanganan stunting tidak boleh
hanya berfokus pada aspek pemenuhan gizi, tetapi juga harus menyentuh
faktor-faktor lain yang memengaruhi tumbuh kembang anak.
“Stunting bukan hanya bicara soal gizi, tetapi juga pola
hidup, sanitasi, kebersihan lingkungan, kondisi rumah, hingga ketersediaan air
bersih. Banyak faktor yang terlibat sehingga jika tidak dikoordinasikan dengan
baik, kita akan kesulitan menanganinya,” tutupnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi

