Lomba Yospan HLH PTFI, 5 Gerakan Dasar Jadi Penilaian Utama
Salah satu peserta Lomba Yospan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar PTFI dan Pemkab Mimika di halaman Graha Eme Neme Yauware Timika, Sabtu (6/6/2026)(Salampapua.com/Sianturi)
SALAM PAPUA (TIMIKA) – Lomba Tari Yosim Pancar (Yospan) yang digelar dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi ajang pelestarian budaya Papua, sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai dasar dalam tarian tradisional tersebut.
Ketua Dewan Juri Lomba Yospan, Justin Mambrasar, menegaskan bahwa berbagai inovasi dan kreasi yang ditampilkan peserta tetap harus berpedoman pada lima gerakan dasar Yospan sebagai identitas utama tarian tersebut.
“Dari beberapa tim memang ada inovasi dan gerakan tambahan yang dikreasikan. Namun intinya tidak boleh lepas dari lima gerakan dasar Yospan,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026)
Menurut Justin, lima gerakan dasar Yospan terdiri dari Pancar, Gale-Gale, Jef, Pacul Tiga, dan Seka. Kelima gerakan tersebut merupakan unsur utama yang membedakan Yospan dari jenis tarian Papua lainnya.
Ia mengapresiasi kualitas penampilan para peserta yang dinilai semakin berkembang dibandingkan lomba pada tahun-tahun sebelumnya, baik dari sisi koreografi maupun pengolahan musik pengiring.
“Penampilan peserta sudah sangat luar biasa. Sekarang sudah banyak kreasi, termasuk dari sisi musiknya. Namun Yospan tetap tidak boleh keluar dari lima gerakan dasar itu,” katanya.
Justin menjelaskan, Yospan merupakan tarian pergaulan yang awalnya berkembang di wilayah Papua Kepulauan, khususnya Biak, sebelum kemudian dikenal luas di seluruh Papua, Indonesia, bahkan mancanegara.
“Sekarang Yospan sudah dikenal luas, bahkan sampai ke Belanda. Karena itu, identitas dan nilai dasarnya harus tetap dijaga,” ujarnya.
Selain gerakan, Justin juga menyoroti penggunaan kostum oleh sejumlah peserta. Menurutnya, masih ada kelompok yang belum memahami perbedaan antara kostum Yospan dan kostum tarian adat tertentu.
“Kalau tarian ada yang menggunakan Yospan tetapi memakai atribut tarian seperti mahkota dan rok rumput, itu sebenarnya kurang tepat. Atribut tersebut identik dengan tarian adat tertentu, bukan Yospan. Jika ingin menampilkan nuansa budaya Papua, bisa dikreasikan dengan bahan daur ulang sesuai tema lomba,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Lingkungan Hidup Sedunia PTFI, Ronalda Upuya, mengatakan lomba Yospan digelar sebagai upaya menjaga keberlanjutan budaya Papua agar terus dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kami ingin generasi muda terus memperkenalkan bahwa Papua memiliki Yospan sebagai salah satu identitas budaya. Karena itu, lomba ini melibatkan peserta dari internal PTFI maupun dari luar, seperti sanggar seni dan sekolah-sekolah,” katanya.
Ronalda menjelaskan, lomba Yospan menjadi salah satu kegiatan yang baru pertama kali diselenggarakan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di lingkungan PTFI.
Menurutnya, Yospan dipilih karena merupakan tarian yang dekat dengan masyarakat Papua dan mampu menghadirkan semangat kebersamaan dalam setiap penampilannya.
“Yospan adalah tarian masyarakat yang mampu melibatkan banyak orang dan menjadi sarana yang baik untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026,” pungkasnya.
Penulis/Editor: Sianturi