Mengenal Tambelo, Pangan Tradisional Kaya Protein Yang Menjadi Warisan Masyarakat Papua Tambelo, makanan tinggi protein yang juga terdapat di Papua dan biasa disantap mentah atau direndam perasan jeruk nipis (Salampapua.com/RRI.co.id)

Mengenal Tambelo, Pangan Tradisional Kaya Protein Yang Menjadi Warisan Masyarakat Papua

SALAM PAPUA (TIMIKA)– Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tambelo mungkin terdengar asing. Bentuknya menyerupai cacing berwarna putih dengan tubuh memanjang dan hidup di batang bakau yang telah membusuk. Meski penampilannya kerap dianggap menjijikkan, tambelo justru menjadi salah satu pangan tradisional yang bernilai tinggi bagi masyarakat pesisir Papua, khususnya Suku Kamoro.

Secara ilmiah, tambelo memiliki nama Bactronophorus thoracites dan termasuk dalam famili Teredinidae. Hewan ini bukanlah cacing, melainkan moluska bivalvia atau kerabat kerang yang dikenal di dunia sebagai wood-boring shipworm atau pengerek kayu. Tambelo hidup dengan cara membuat liang di dalam kayu mangrove yang telah lapuk sekaligus membantu proses penguraian kayu di ekosistem hutan bakau.

Tubuh tambelo dapat mencapai panjang sekitar 30 sentimeter dengan warna putih bening. Pada bagian mulut terdapat struktur yang disebut palet, yang berfungsi menutup lubang tempat tinggalnya ketika merasa terancam.

Di Papua, khususnya di wilayah pesisir Mimika, tambelo telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Kamoro. Hewan ini biasa dikonsumsi pada berbagai acara adat, termasuk pesta budaya Karapao.

Cara memperolehnya pun masih dilakukan secara tradisional. Warga mencari batang mangrove yang telah lapuk, kemudian membelah kayu tersebut menggunakan kapak hingga tambelo terlihat di dalam lubang-lubang kayu. Setelah dikeluarkan, bagian kepala dipotong dan isi perut dibersihkan sebelum dikonsumsi.

Sebagian besar masyarakat memilih menyantap tambelo dalam keadaan mentah. Sebelum dimakan, tambelo biasanya direndam terlebih dahulu menggunakan air perasan jeruk nipis untuk mengurangi aroma amis. Banyak orang menggambarkan cita rasanya menyerupai kerang atau cumi mentah dengan tekstur lembut dan sedikit kenyal.

Selain menjadi makanan tradisional, tambelo juga dikenal memiliki kandungan gizi yang tinggi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tambelo kering mengandung protein sekitar 42,77 persen, lemak 14,27 persen, dan karbohidrat 30,45 persen.

Kandungan protein tersebut berperan penting dalam memperbaiki jaringan tubuh, menjaga daya tahan tubuh, membantu pertumbuhan, serta mendukung perkembangan anak. Karena nilai gizinya, tambelo kini mulai dikembangkan sebagai bahan baku pangan alternatif, seperti biskuit dan crackers, untuk membantu memenuhi kebutuhan protein masyarakat.

Sejumlah penelitian juga menemukan kandungan senyawa alkaloid dalam tambelo yang berpotensi menghambat perkembangan parasit penyebab malaria. Namun, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat dijadikan dasar dalam pengobatan.

Dalam kepercayaan masyarakat Papua, tambelo tidak hanya dipandang sebagai sumber pangan, tetapi juga dipercaya memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Tambelo diyakini dapat membantu mengatasi sakit pinggang, rematik, batuk, malaria, meningkatkan nafsu makan, memperlancar produksi air susu ibu (ASI), hingga meningkatkan stamina dan vitalitas pria.

Meski demikian, berbagai klaim tersebut berasal dari pengetahuan tradisional masyarakat dan belum seluruhnya dibuktikan melalui penelitian medis modern.

Di balik manfaatnya, keberadaan tambelo kini menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah dugaan pencemaran lingkungan di kawasan pesisir yang memengaruhi habitat mangrove. Beberapa penelitian melaporkan adanya kandungan logam berat pada tambelo di wilayah tertentu yang diduga terdampak aktivitas industri, sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat untuk mengonsumsinya.

Kerusakan hutan mangrove akibat alih fungsi lahan juga menjadi ancaman serius. Berkurangnya kawasan mangrove secara langsung akan mengurangi habitat alami tambelo, mengingat hewan ini bergantung pada batang bakau yang telah lapuk untuk hidup dan berkembang biak.

Bagi masyarakat Kamoro, tambelo bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Selain memiliki nilai ekonomi dan gizi, keberadaan tambelo juga mencerminkan hubungan erat masyarakat adat dengan ekosistem mangrove.

Pelestarian hutan mangrove, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, serta penelitian lebih lanjut mengenai kandungan gizi dan keamanan konsumsi tambelo menjadi langkah penting agar pangan tradisional khas Papua ini tetap lestari dan dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang. (Sumber: Wikipedia Indonesia)

Editor: Sianturi