Lorensius Imuaro: Generasi Kamoro Jangan Lupa Budaya Warisan Leluhur Lorensius Imuaro memperlihatkan ukiran yang dipamerkan di Sanggar Pokai dalam Festival Budaya yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) di Lapangan Pasar Lama, Timika, Selasa (6/10/2026)(Salampapua.com/Acik)

Lorensius Imuaro: Generasi Kamoro Jangan Lupa Budaya Warisan Leluhur

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Tokoh masyarakat Kampung Timika Pantai, Distrik Mimika Tengah, sekaligus Ketua Sanggar Pokai (Tongkat Komando), Lorensius Imuaro, mengingatkan generasi muda suku Kamoro agar tidak melupakan budaya warisan leluhur di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi.

Pria kelahiran 1960 itu mengaku prihatin karena sejumlah warisan budaya leluhur suku Kamoro mulai redup dan tidak lagi dikenal oleh generasi muda. Menurutnya, kemajuan zaman membuat sebagian anak muda menganggap budaya tradisional tidak lagi penting untuk dipelajari dan dilestarikan.

"Sekarang banyak anak Kamoro yang tidak mengenal budaya mereka, sehingga bingung kalau ada yang bertanya," ujar Lorensius saat menghadiri Festival Budaya yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) di Lapangan Pasar Lama, Selasa (6/10/2026).

Lorensius menuturkan, kecintaannya terhadap budaya telah tumbuh sejak usia 13 tahun. Saat itu, ia mulai belajar mengukir dan menganyam sebagai bagian dari materi yang diberikan guru di sekolah.

Namun, aktivitas tersebut kemudian tidak hanya dijalani sebagai tugas sekolah. Ia terus menekuninya sebagai bagian dari upaya menjaga dan melestarikan budaya leluhur Kamoro.

Menurutnya, warisan budaya tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki cerita sejarah yang perlu diketahui generasi saat ini. Ia mencontohkan sejumlah karya dan simbol budaya Kamoro, seperti ukiran rumah Karapau, motif buaya, tongkat ular, patung perisai manusia Kamoro pada masa dahulu, hingga patung manusia kepala buaya atau wenatatimako upaya, serta berbagai cerita rakyat lainnya.

Sayangnya, kata Lorensius, pengetahuan mengenai berbagai warisan budaya tersebut kini semakin berkurang dan tidak lagi dipelajari secara mendalam oleh generasi muda.

"Salah satu tujuan saya membentuk sanggar adalah untuk membina anak-anak muda supaya mereka tidak lupa sejarah. Kita semua dimulai dari sejarah, sehingga tidak boleh lupa dengan budaya kita," tegasnya.

Lorensius menilai festival budaya menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk belajar sekaligus menghidupkan kembali berbagai bentuk warisan budaya yang mulai dilupakan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Disbudparekraf yang telah menyelenggarakan festival tersebut. Menurutnya, kegiatan itu merupakan bentuk dukungan nyata bagi sanggar-sanggar seni untuk terus menghasilkan dan memperkenalkan karya yang memiliki nilai budaya.

"Saya sangat bersyukur dan ucapkan terima kasih kepada Disbudparekraf yang sudah menggelar kegiatan ini. Kita harapkan ini menjadi agenda tahunan," harapnya.

Penulis: Acik

Editor: Sianturi