SALAM PAPUA (TIMIKA)- Tahun 2026 belum tiba, namun kabar
tentang turunnya APBD Mimika sudah lebih dulu mengetuk telinga masyarakat.
Angka penurunan itu tidak kecil sekitar Rp1,7 triliun dari DBH, DAK, dan Dana
Otsus yang berkurang. Alhasil, APBD Mimika akhirnya ditetapkan sebesar Rp5,6
triliun.
Di kantor pemerintah, suasana perdebatan mungkin mulai
terasa. Para kepala OPD membawa tumpukan program yang dianggap penting, tetapi
tak semua bisa diakomodasi. Bupati Mimika, Johannes Rettob, tampil dengan sikap
tegas namun tetap tenang. Ia tahu bahwa anggaran bukan soal angka semata di
baliknya ada harapan masyarakat, kebutuhan mendasar, dan masa depan pembangunan
daerah.
Pemkab Mimika memilih menunda program-program yang belum
mendesak. Tidak semua proposal OPD yang selama ini dianggap penting akan lolos.
Hanya program prioritas terutama pekerjaan yang sudah berjalan dan harus
dilanjutkan yang tetap mendapat ruang. Bupati ingin memastikan bahwa tidak ada
proyek mangkrak, dan tidak ada anggaran terbuang percuma.
Namun perubahan paling terasa adalah cara pemerintah menata
ulang pola pikir anggaran. Salah satu arah baru adalah menggerakkan semua
sektor pembangunan menuju penguatan pariwisata. Bukan hanya Dinas Pariwisata,
tetapi seluruh OPD diarahkan untuk melihat potensi wisata sebagai sumber
pertumbuhan ekonomi baru.
Di ruang-ruang rapat pemerintahan, diskusi hangat muncul:
bagaimana menjembatani sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan
pelayanan publik dengan pariwisata? Meski terdengar ambisius, arah ini
menunjukkan keinginan Pemkab Mimika untuk mencari cara kreatif meningkatkan PAD
di tengah keterbatasan anggaran pusat.
Namun di balik semua rencana itu, ada satu visi yang tetap
menjadi kompas: membangun dari kampung ke kota. Sebuah prinsip yang selalu
diulang Bupati JR dalam banyak kesempatan. Ia percaya bahwa Mimika tidak boleh
hanya berkembang di pusat kota sementara kampung-kampung tertinggal. Visi itu
tetap berdiri tegak, meski anggaran dipangkas.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga Mimika kini menunggu.
Mereka ingin tahu apakah efisiensi anggaran ini benar-benar akan menjaga
kebutuhan dasar tetap terpenuhi mulai dari air bersih, kesehatan, pendidikan,
hingga dukungan ekonomi untuk keluarga di kampung.
Turunnya anggaran mungkin membuat banyak rencana harus
ditata ulang, tetapi bagi masyarakat Mimika, satu hal tetap diharapkan:
pemerintah harus tetap berpihak pada rakyat, bukan pada program-program yang
hanya terlihat indah di atas kertas.
Dan perjalanan APBD 2026 ini baru dimulai. Bagaimana
hasilnya kelak? Waktu dan ketegasan kebijakan akan menjawabnya. Yang jelas, di
tengah pengetatan anggaran, Mimika kini berdiri di persimpangan: memilih
menjadi lebih efisien, atau kembali terjerat dalam pola lama yang boros dan
tidak menyentuh kebutuhan masyarakat.
Di Mimika, roda ekonomi daerah selama puluhan tahun bergerak
seiring denyut produksi PT Freeport Indonesia. Hampir semua sendi fiskal
pemerintah daerah mulai dari besaran Dana Bagi Hasil (DBH), royalti, hingga
dividen bertumpu pada stabilnya produksi tambang. Karena itu, ketika produksi
Freeport mengalami penurunan, dampaknya tidak berhenti di area industri saja,
tetapi merambat langsung ke meja perencanaan anggaran pemerintah daerah.
Penurunan produksi berarti berkurangnya tonase mineral yang
dijual, yang pada akhirnya menurunkan penerimaan negara. Dari titik inilah efek
domino mulai terjadi. Porsi bagi hasil untuk daerah yang menjadi salah satu
sumber pendapatan terbesar dalam APBD Mimika ikut menyusut. Tahun berikutnya,
pemerintah daerah langsung merasakan tekanan fiskal: APBD mengecil, ruang
belanja menyempit, dan program pembangunan harus dipangkas satu per satu.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah Mimika biasanya
menghadapi dilema. Di satu sisi, kebutuhan masyarakat justru meningkat. Di sisi
lain, kemampuan fiskal melemah karena aliran dana dari tambang berkurang.
Pemangkasan anggaran terpaksa dilakukan: program non-prioritas ditunda,
pembangunan baru dikurangi, bahkan beberapa layanan publik dijalankan dengan
efisiensi ketat. Sektor-sektor yang sebelumnya digadang-gadang sebagai motor
pertumbuhan alternatif pertanian, UMKM, pariwisata mendadak membutuhkan perhatian
lebih besar, sebab hanya dengan diversifikasi ekonomi daerah bisa bertahan.
Di luar itu, masyarakat juga merasakan denyut perlambatan
ekonomi. Aktivitas bisnis yang bergantung pada pekerja tambang ikut menurun.
Pendapatan sebagian rumah tangga melemah. Rasa cemas muncul terutama ketika
belum ada kepastian kapan produksi tambang kembali normal.
Bagi Mimika, penurunan produksi Freeport bukan sekadar kabar
industri; ia adalah sinyal bahwa fondasi ekonomi daerah yang terlalu bertumpu
pada tambang sangat rentan guncangan. APBD tahun berikutnya menjadi cerminan
langsung dari gejolak itu menegaskan bahwa diversifikasi dan pembangunan
ekonomi yang lebih merata adalah kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan.
Tahun 2026 akan menjadi titik krusial bagi Papua Tengah,
terutama Mimika, yang sepanjang 2025 diwarnai berbagai dinamika: persoalan
tenaga kerja lokal, ketimpangan pembangunan layanan dasar, tantangan keamanan
sporadis, hingga melambatnya kualitas pelayanan publik. Di tengah situasi ini,
publik berharap pemerintah tidak lagi terjebak dalam pola lama, tetapi berani
mengambil langkah pemulihan yang lebih terukur dan berpihak pada masyarakat.
Pertama, pemerintah perlu melakukan konsolidasi tata kelola,
memastikan seluruh OPD bekerja dalam satu arah yang sama. Ini berarti
perencanaan yang berbasis data, realisasi anggaran yang disiplin, serta
evaluasi yang transparan. Publik sudah muak dengan program yang dicanangkan
besar-besaran tetapi tidak pernah terlihat dampaknya di lapangan.
Kedua, pemulihan 2026 harus menempatkan kesehatan dan
pendidikan sebagai prioritas absolut. Banyak fasilitas yang operasionalnya
tersendat karena kurang tenaga kesehatan, sistem rujukan yang tidak tertata,
dan koordinasi yang lemah. Pemerintah harus berani menata ulang: memperkuat
puskesmas, mengawasi faskes swasta, dan memastikan tidak ada warga yang ditolak
layanan hanya karena urusan administrasi.
Ketiga, persoalan ketenagakerjaan dan investasi tidak boleh
dibiarkan menjadi polemik tanpa ujung. Kasus-kasus penelantaran pencari kerja,
rekrutmen tidak terbuka, hingga minimnya keberpihakan pada OAP telah
menimbulkan kekecewaan yang besar. Pemerintah perlu menetapkan aturan main yang
adil: investasi boleh masuk, tapi hak-hak masyarakat lokal tidak boleh
ditabrak.
Keempat, pemerintah perlu mempercepat pemulihan ekonomi
rakyat melalui dukungan UMKM, pertanian, perikanan, dan ekonomi kampung. Tanpa
intervensi pada ekonomi berbasis rumah tangga, pemulihan daerah hanya akan
menjadi slogan. Program padat karya, revitalisasi pasar, hingga akses modal
murah harus dipastikan berjalan.
Kelima, stabilitas keamanan menjadi pondasi penting.
Pemerintah daerah bersama aparat harus menjaga agar berbagai potensi konflik
baik politik, sosial, maupun keamanan tidak berkembang menjadi gangguan serius.
Pendekatan dialog, bukan kekerasan, harus menjadi orientasi utama demi
membangun rasa percaya masyarakat.
Pada akhirnya, publik menaruh harapan besar bahwa 2026
menjadi tahun ketika pemerintah benar-benar mendengar dan bekerja. Pemulihan
bukan hanya soal anggaran, tetapi keberanian membuat keputusan yang adil,
manusiawi, dan berpihak pada warga. Karena ketika pemerintahan kuat berpihak
pada rakyat, maka kepercayaan masyarakat akan pulih, dan masa depan Papua
Tengah dan Kabupaten Mimika dapat dibangun di atas dasar yang kokoh.
Penulis: Sianturi

