SALAM PAPUA (TIMIKA)- Pekabaran Injil di Tanah Papua tidak dapat dilepaskan dari nama Carl Wilhelm Ottow (1827–1862) dan Johann Gottlob Geissler, dua misionaris asal Jerman yang pada 5 Februari 1855 menginjakkan kaki di Pulau Mansinam. Kedatangan mereka menjadi tonggak sejarah lahirnya Kekristenan di Papua, sebuah peristiwa iman yang hingga kini diperingati setiap tahun oleh gereja dan masyarakat Papua.

Ottow dan Geissler datang bukan hanya membawa Injil sebagai berita rohani, tetapi juga menghadirkannya sebagai kekuatan yang memanusiakan. Mereka menyadari bahwa Injil tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari orang Papua. Karena itu, pelayanan mereka menyentuh seluruh aspek hidup: pendidikan, keterampilan, bahasa, dan budaya.

Geissler, dengan keterampilannya sebagai tukang kayu, mengajarkan masyarakat Biak cara membangun rumah yang lebih layak. Ottow, yang memiliki kemampuan menenun, memperkenalkan keterampilan membuat pakaian. Perlahan, masyarakat mulai mengenal pakaian dan meninggalkan cawat dan koteka bukan karena paksaan, tetapi melalui proses pendampingan dan pembelajaran yang penuh kesabaran.

Lebih dari itu, Ottow dan Geissler dengan rendah hati belajar bahasa lokal, menerjemahkan doa-doa, dan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar agar Injil dapat dipahami secara luas. Mereka juga mengajarkan membaca dan menulis kepada masyarakat Biak di Pulau Mansinam. Pada awalnya, memegang pensil pun menjadi hal yang sulit, tetapi ketekunan masyarakat yang didampingi kesabaran para misionaris membuka jalan bagi lahirnya tradisi literasi di Papua.

Injil yang mereka beritakan bukan Injil yang merendahkan budaya, melainkan Injil yang menerangi dan membangkitkan martabat manusia. Dari Mansinam, benih iman dan pengetahuan itu menyebar ke Biak, Serui, Nabire, Wasior, dan wilayah Papua lainnya. Inilah cikal bakal masyarakat Papua mengenal pendidikan dan ilmu pengetahuan secara lebih luas.

Warisan Ottow dan Geissler masih hidup hingga hari ini. Gereja-gereja yang bertumbuh menjadi pusat kehidupan rohani, pendidikan, dan sosial. Nilai-nilai Kristiani seperti kasih, pengorbanan, keadilan, dan penghargaan terhadap sesama telah menjadi bagian dari identitas orang Papua.

Di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi, refleksi atas Pekabaran Injil mengingatkan gereja bahwa Injil sejati tidak hanya diberitakan dari mimbar, tetapi dihidupi dalam tindakan nyata. Ottow dan Geissler mengajarkan bahwa Injil menjadi kabar baik ketika ia membebaskan, mencerdaskan, dan memulihkan kehidupan.

Karena itu, HUT Pekabaran Injil bukan hanya perayaan sejarah, melainkan panggilan iman: agar gereja di Papua terus setia menghadirkan Injil yang membumi, menghormati martabat manusia, dan menjadi berkat bagi Tanah Papua hari ini dan seterusnya. (Wikipedia)

Editor: Sianturi