SALAM PAPUA (NABIRE) – Di tengah masih tingginya
ketergantungan Papua Tengah terhadap pasokan pangan dari luar daerah,
sekelompok petani lokal bersama Komunitas Korowa Membaca (Ko’Membaca)
menunjukkan bahwa kedaulatan pangan bisa dimulai dari kebun sendiri.
Hal tersebut ditunjukkan melalui panen raya kangkung di
Kampung Samabusa, Distrik Korowa, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Selasa
(4/2/2026) pagi.
Panen yang berlangsung di lahan seluas 30 x 40 meter itu
dihadiri Ibu Gubernur Papua Tengah sekaligus Ketua TP-PKK Provinsi Papua
Tengah, Nurhaidah Meki Nawipa, SE.
Lebih dari sekadar panen, kegiatan ini menjadi simbol
perlawanan sunyi terhadap ketergantungan pangan dan lemahnya keberpihakan
kebijakan terhadap petani kecil di Papua Tengah.
Dalam sambutannya, Nurhaidah menegaskan bahwa orang Papua
tidak seharusnya terus menggantungkan hidup pada bahan pangan impor seperti
beras dan mi instan.
“Orang Papua harus kembali berkebun dan bertani. Kita tidak
bisa terus bergantung pada bahan-bahan dari luar. Kita bisa hidup lebih sehat
dengan pangan lokal seperti ubi, keladi, dan hasil kebun Papua lainnya,”
ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi terhadap arah
kebijakan pangan yang selama ini lebih menekankan distribusi pangan dari luar
daerah ketimbang memperkuat produksi lokal berbasis komunitas.
Pendamping petani lokal, Melani Pigai, mengatakan bahwa
bertani masih sering dipandang sebagai pilihan terakhir, bukan profesi yang
didukung secara serius oleh negara.
“Orang Papua tidak harus semua jadi ASN. Bertani juga
pekerjaan yang bermartabat. Dari kebun, kita bisa hidup dan menafkahi
keluarga,” kata Melani.
Ia menambahkan, minimnya fasilitas dan pendampingan membuat
petani lokal masih bekerja secara manual dengan risiko tinggi, sementara
bantuan alat pertanian modern sangat terbatas.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Ko’Membaca, Apaxe
Tabuni, S.Pd., menjelaskan seluruh proses pertanian mulai dari persemaian,
pembukaan lahan, pembangunan bendungan, hingga panen dilakukan secara swadaya
oleh kelompok tani.
“Ini program pertama hasil dorongan Ko’Membaca yang akhirnya
didukung TP-PKK Papua Tengah. Kami bangun rumah persemaian sendiri, buka lahan
sendiri, rawat tanaman sendiri,” ungkapnya.
Pada panen perdana ini, tiga bedengan kangkung menghasilkan
67 ikat dengan nilai jual sekitar Rp670 ribu. Nilai tersebut mungkin kecil
secara ekonomi, namun besar secara politik dan sosial karena menunjukkan
potensi pangan lokal jika dikelola dan didukung secara serius.
Tabuni menilai, kebijakan pangan selama ini masih
menempatkan petani lokal sebagai objek, bukan subjek pembangunan.
“Kami belajar disiplin, sabar, dan fokus dari bertani. Tapi
tanpa alat dan dukungan kebijakan yang jelas, petani akan terus tertinggal,”
katanya.
Ko’Membaca menegaskan bahwa pertanian bukan sekadar soal
produksi pangan, tetapi juga menyangkut eksistensi orang asli Papua (OAP) dan
kemandirian hidup di atas tanah sendiri.
“Anak-anak muda Papua harus kembali ke kebun. Tidak bisa
terus berharap pada pemerintah. Mandiri adalah kunci,” tegas Tabuni.
Usai panen, kelompok tani menyampaikan harapan agar
Pemerintah Provinsi Papua Tengah tidak berhenti pada seremoni, tetapi
memberikan dukungan konkret berupa alat produksi seperti traktor dan fasilitas
pertanian lainnya.
“Kalau pemerintah serius bicara ketahanan pangan, maka
petani lokal harus diperlengkapi, bukan hanya difoto saat panen,” tutup Mis
Murib, perwakilan kelompok tani.
Penulis: Elias Douw
Editor: Sianturi


