SALAM PAPUA (TIMIKA)- Bandar Udara Internasional Sentani yang terletak di wilayah Jayapura menyimpan jejak sejarah panjang yang berakar dari masa perang hingga menjadi gerbang utama sekaligus simpul penghubung bagi seluruh Tanah Papua saat ini. Kisah berdirinya bandara ini bermula pada masa Perang Dunia II, ketika kawasan tersebut masih dikenal sebagai Hollandia dan berada di bawah kekuasaan Belanda.

Pada sekitar tahun 1943, ketika Perang Pasifik sedang berkecamuk, wilayah Hollandia direbut oleh Jepang. Dalam upaya memperkuat posisi militernya, Jepang membangun sebuah lapangan terbang di kawasan datar di sekitar Danau Sentani. Lokasi ini dipilih karena strategis dan memungkinkan untuk dijadikan pangkalan udara yang mendukung pergerakan pesawat tempur maupun logistik militer di kawasan Pasifik.

Namun, kekuasaan Jepang di wilayah ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1944, pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat melancarkan operasi besar untuk merebut kembali Hollandia. Dalam pertempuran tersebut, lapangan terbang di Sentani berhasil dikuasai dan kemudian dikembangkan secara besar-besaran oleh Sekutu. Bandara ini bahkan menjadi salah satu basis militer dan logistik terpenting di Pasifik Barat, digunakan untuk mendukung operasi lanjutan menuju wilayah lain seperti Filipina.

Setelah Perang Dunia II berakhir, wilayah Papua kembali berada di bawah administrasi Belanda. Bandara Sentani pun beralih fungsi, tidak lagi semata sebagai pangkalan militer, tetapi mulai digunakan untuk keperluan sipil meskipun masih terbatas. Seiring waktu, bandara ini menjadi simpul penting transportasi udara di kawasan tersebut.

Perubahan besar terjadi ketika Papua akhirnya bergabung dengan Indonesia melalui proses Penentuan Pendapat Rakyat 1969. Sejak saat itu, pengelolaan dan pengembangan Bandara Sentani sepenuhnya berada di tangan pemerintah Indonesia. Infrastruktur yang sebelumnya dibangun oleh Jepang dan Sekutu kemudian terus diperbaiki dan diperluas untuk memenuhi kebutuhan transportasi yang semakin meningkat.

Memasuki dekade 1970-an hingga 1990-an, pemerintah Indonesia mulai melakukan berbagai pembenahan secara bertahap. Landasan pacu diperpanjang agar mampu didarati pesawat berbadan lebih besar, fasilitas navigasi diperbarui, serta terminal penumpang mulai dibangun lebih representatif. Pada masa ini, Bandara Sentani semakin berperan penting sebagai penghubung utama Papua dengan wilayah lain di Indonesia.

Transformasi besar semakin terlihat memasuki era 2000-an. Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan kebutuhan logistik, pengelolaan bandara dilakukan secara lebih profesional oleh Angkasa Pura I. Berbagai proyek modernisasi pun dilakukan, termasuk pembangunan terminal baru dengan kapasitas lebih besar, penataan apron (area parkir pesawat), serta peningkatan sistem keamanan dan keselamatan penerbangan sesuai standar internasional.

Puncak pembenahan terjadi menjelang dan setelah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XX 2021 di Papua. Bandara Sentani menjadi salah satu infrastruktur vital yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan atlet, ofisial, dan tamu dari seluruh Indonesia. Terminal diperluas dan dipercantik dengan sentuhan ornamen budaya Papua, fasilitas penumpang ditingkatkan, serta aksesibilitas menuju dan dari bandara diperbaiki. Modernisasi ini menjadikan Bandara Sentani tampil lebih representatif sebagai wajah Papua di mata nasional maupun internasional.

Kini, peran Bandara Sentani tidak hanya sebagai pintu masuk ke Jayapura, tetapi telah berkembang menjadi hub utama transportasi udara bagi seluruh Tanah Papua. Dari bandara inilah konektivitas ke berbagai wilayah di Papua dijalin, mulai dari kota-kota besar hingga daerah pedalaman yang hanya bisa dijangkau melalui jalur udara. Penerbangan dari dan ke wilayah seperti pegunungan tengah, pesisir selatan, hingga wilayah perbatasan sangat bergantung pada koneksi melalui Sentani.

Sebagai hub, Bandara Sentani menjadi titik transit strategis bagi distribusi logistik, bahan pokok, obat-obatan, hingga dukungan layanan pemerintahan dan kemanusiaan. Banyak penerbangan perintis yang berangkat dari Sentani menuju daerah-daerah terpencil, menjadikannya pusat koordinasi mobilitas udara di kawasan timur Indonesia. Peran ini sangat krusial mengingat kondisi geografis Papua yang didominasi pegunungan, hutan lebat, dan wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Selain itu, Bandara Sentani juga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi regional. Aktivitas perdagangan, pariwisata, serta mobilitas tenaga kerja sangat bergantung pada keberadaan bandara ini. Bagi masyarakat Papua, Sentani bukan sekadar bandara, tetapi simpul kehidupan yang menghubungkan berbagai wilayah yang tersebar luas.

Dengan perjalanan panjang dari sebuah pangkalan militer di masa perang menjadi bandara modern dan pusat konektivitas udara, Bandara Sentani berdiri sebagai saksi bisu perubahan zaman menghubungkan masa lalu yang penuh konflik dengan masa kini yang terus bergerak menuju kemajuan, sekaligus menjadi urat nadi yang menyatukan seluruh Tanah Papua. (Sumber: Wikipedia)

Editor: Sianturi