SALAM PAPUA (TIMIKA)- Gangguan jaringan saraf umumnya dialami oleh
lansia, tetapi siapa saja bisa mengalami kondisi ini. Oleh karena itu,
mengenali penyebab serta cara mencegahnya perlu untuk dilakukan guna
meminimalkan risiko terkena gangguan jaringan saraf.
Otak merupakan salah satu organ yang paling penting bagi
manusia karena berperan sebagai pusat kendali tubuh. Dalam menjalankan
fungsinya, otak bekerja sama dengan jaringan saraf yang bertugas mengirimkan
pesan berupa rangsangan dari otak ke seluruh anggota tubuh melalui saraf tulang
belakang.Waspadai Gangguan Jaringan Saraf sejak Dini - Alodokter
Kerja sama sistem saraf tersebut membuat manusia mampu
melakukan berbagai aktivitas, seperti mendengar, melihat, berpikir, berjalan,
hingga bernapas.
Mengenal Penyebab Gangguan Jaringan Saraf
Karena peranan jaringan saraf begitu penting, waspadai
gangguan jaringan saraf karena kondisi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan
serius. Gangguan jaringan saraf bisa terjadi karena banyak hal, diantaranya
adalah:
1. Gangguan pembuluh darah otak
Gangguan pada pembuluh darah otak, seperti stroke ringan
(TIA), stroke, dan perdarahan subarachnoid, dapat menghambat aliran darah ke
jaringan saraf. Kondisi ini menyebabkan sel saraf kekurangan oksigen dan
nutrisi, sehingga dapat rusak atau mati.
Dampaknya bisa berupa kelemahan anggota tubuh, gangguan
bicara, hingga penurunan kesadaran.
2. Infeksi pada sistem saraf
Infeksi oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit, seperti
meningitis dan polio, dapat menyerang jaringan saraf dan menyebabkan
peradangan. Peradangan ini bisa merusak sel saraf dan mengganggu fungsi otak
maupun saraf tepi, tergantung pada lokasi infeksi.
3. Gangguan struktural
Gangguan struktural, seperti Bell’s palsy, tumor otak dan
saraf tulang belakang, carpal tunnel syndrome, serta neuropati perifer, terjadi
akibat adanya tekanan atau kerusakan langsung pada saraf. Kondisi ini dapat
mengganggu penghantaran sinyal saraf sehingga menimbulkan gejala seperti nyeri,
kesemutan, atau kelemahan otot.
4. Kelainan bawaan pada sistem sarafKelainan bawaan, seperti
distrofi otot dan penyakit Huntington, disebabkan oleh faktor genetik yang
memengaruhi perkembangan atau fungsi sistem saraf sejak lahir. Kondisi ini
biasanya bersifat progresif dan dapat menyebabkan gangguan gerak, koordinasi, atau
fungsi kognitif.
5. Gangguan autoimun
Pada gangguan autoimun, seperti sindrom Guillain-Barré,
sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan saraf sendiri. Hal ini dapat merusak
selubung pelindung saraf (mielin) dan mengganggu transmisi sinyal, sehingga
menimbulkan kelemahan otot hingga kelumpuhan.
6. Gangguan kesehatan mental
Beberapa gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan
psikosis, berkaitan dengan ketidakseimbangan zat kimia di otak yang memengaruhi
fungsi saraf. Meskipun tidak selalu menyebabkan kerusakan struktural, kondisi
ini dapat mengganggu cara otak memproses informasi dan merespons rangsangan.
7. Gangguan fungsional
Gangguan fungsional, seperti sakit kepala, epilepsi, dan
neuralgia, terjadi ketika fungsi saraf terganggu tanpa adanya kerusakan
struktural yang jelas. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan sinyal listrik di
otak atau saraf, yang menimbulkan nyeri, kejang, atau sensasi tidak normal.
8. Penyakit degeneratif
Penyakit degeneratif, seperti penyakit Parkinson, Alzheimer,
multiple sclerosis, dan amyotrophic lateral sclerosis (ALS), menyebabkan
kerusakan sel saraf secara bertahap. Seiring waktu, kondisi ini dapat
mengganggu fungsi gerak, ingatan, hingga kemampuan berpikir.
9. Kekurangan nutrisi
Kekurangan nutrisi tertentu dapat memengaruhi kesehatan
saraf, terutama defisiensi vitamin B1 (tiamin), vitamin B6, vitamin B12,
vitamin E, dan asam folat. Nutrisi ini berperan penting dalam menjaga fungsi
dan struktur saraf, sehingga kekurangannya dapat menyebabkan neuropati,
kesemutan, atau kelemahan otot.
10. Paparan zat
beracun
Paparan zat beracun, seperti merkuri, timbal, pestisida,
alkohol berlebihan, serta bahan kimia industri tertentu, dapat merusak jaringan
saraf. Zat-zat ini dapat mengganggu fungsi sel saraf atau bahkan menyebabkan
kematian sel saraf jika paparan berlangsung lama.
11. Efek samping obat-obatanBeberapa obat tertentu, seperti
obat antibiotik atau obat antikejang, dapat menimbulkan efek samping berupa
gangguan saraf. Efek ini bisa berupa kesemutan, mati rasa, atau gangguan
koordinasi, tergantung jenis dan dosis obat yang digunakan.
12. Paparan suhu ekstrem
Paparan suhu ekstrem, seperti pada frostbite (radang
dingin), dapat merusak jaringan saraf akibat pembekuan dan berkurangnya aliran
darah ke area tersebut. Selain itu, suhu panas yang berlebihan juga dapat
mengganggu fungsi saraf jika menyebabkan cedera jaringan.
Selain karena berbagai macam penyakit di atas, gangguan
jaringan saraf juga bisa disebabkan oleh cedera saraf tulang belakang dan otak.
Kedua kondisi ini bisa terjadi akibat kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan
saat berolahraga, atau kecelakaan lainnya.
Cara Mencegah Gangguan Jaringan Saraf
Untuk mengurangi risiko terjadinya penyakit penyebab
gangguan jaringan saraf, Anda dapat melakukan beberapa langkah pencegahan di
bawah ini:
Mengonsumsi makanan sehat dengan nutrisi yang baik untuk
kesehatan otak dan jaringan saraf, seperti asam lemak omega-3, vitamin B1,
vitamin B6, dan vitamin B12. Mencukupi kebutuhan air minum sebanyak 8 gelas
setiap hari
Olahraga secara teratur, setidaknya 30 menit setiap hari,
sebanyak 5 kali dalam seminggu. Mencukupi waktu tidur setidaknya selama 7–9 jam
per hari. Meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang dapat mendukung
kesehatan otak, seperti yoga dan senam otak dan menghindari stress.
Selain cara di atas, Anda juga disarankan untuk menghentikan
kebiasaan merokok dan minum alkohol karena dapat meningkatkan risiko terjadinya
penyakit penyebab gangguan jaringan saraf. (Sumber: Alodokter)
Editor: Sianturi


