SALAM PAPUA (TIMIKA)- Kenaikan harga tiket pesawat di Indonesia bukan sekadar persoalan tarif transportasi yang naik musiman. Bagi sebagian daerah, terutama wilayah timur seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan kawasan kepulauan lainnya, lonjakan harga tiket pesawat adalah masalah serius yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, ekonomi daerah, akses layanan dasar, hingga rasa keadilan pembangunan nasional.

Ketika masyarakat di kota besar mengeluhkan mahalnya tiket untuk liburan atau perjalanan bisnis, masyarakat di Papua dan Indonesia Timur menghadapi kenyataan berbeda: pesawat adalah kebutuhan pokok mobilitas. Di banyak wilayah, transportasi udara bukan pilihan, melainkan satu-satunya jalur cepat dan aman. Jika harga tiket naik, maka bukan hanya perjalanan yang tertunda, tetapi pelayanan kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan urusan keluarga ikut terhambat.

Papua memiliki medan geografis berat, bergunung-gunung, hutan lebat, serta banyak wilayah yang belum terhubung jalan darat secara optimal. Karena itu pesawat kecil maupun penerbangan komersial menjadi urat nadi konektivitas. Hal serupa juga dirasakan di banyak pulau kecil di Maluku dan Nusa Tenggara. Saat tiket pesawat mahal, biaya hidup otomatis terdorong naik karena distribusi barang dan perpindahan orang ikut terganggu.

Selama ini masyarakat di timur Indonesia memang sudah hidup dengan biaya lebih mahal. Harga sembako, bahan bangunan, BBM, dan kebutuhan sehari-hari sering kali lebih tinggi dibanding Jakarta, Surabaya, atau kota besar lain. Jika tiket pesawat kembali melonjak, maka beban masyarakat menjadi berlapis. Pendapatan tidak naik signifikan, tetapi biaya hidup terus bergerak naik. Ketimpangan semakin nyata antara Indonesia Bagian Barat dan Timur. Fakta.

Di sektor pendidikan, banyak mahasiswa asal Papua dan Indonesia Timur menempuh studi di luar daerah. Ketika tiket mahal, mereka kesulitan pulang saat libur, keadaan darurat, atau wisuda keluarga. Begitu pula guru, tenaga kesehatan, dan pekerja pelayanan publik yang bertugas di daerah terpencil. Mahalnya transportasi dapat menurunkan minat tenaga profesional untuk mengabdi di kawasan timur Indonesia.

Di bidang kesehatan, dampaknya jauh lebih berat. Banyak pasien dari daerah pedalaman Papua harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap di Timika, Jayapura, Sorong, atau ke luar Papua seperti Makassar. Jika tiket mahal dan penerbangan terbatas, maka keselamatan pasien bisa terancam. Dalam konteks ini, tiket pesawat bukan sekadar harga pasar, tetapi menyangkut hak dasar warga negara.

Karena itu, pemerintah daerah dan DPR seharusnya tidak diam melihat kondisi ini. Ada sejumlah langkah nyata yang perlu segera diperjuangkan untuk meringankan beban masyarakat.

Pertama, pemerintah daerah harus aktif memperjuangkan subsidi tiket untuk rute strategis dan pelayanan publik. Pemda di Papua dan Indonesia Timur bisa berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar tersedia skema subsidi khusus bagi pelajar, mahasiswa, pasien rujukan, guru, tenaga kesehatan, dan ASN yang bertugas di wilayah terpencil. Kebijakan seperti ini jauh lebih tepat sasaran dibanding subsidi umum yang tidak terkontrol.

Kedua, DPR RI dan DPRD harus mendorong evaluasi tarif penerbangan di kawasan timur Indonesia. Wakil rakyat perlu memanggil kementerian terkait, otoritas bandara, dan maskapai untuk meminta penjelasan mengenai struktur harga tiket, biaya avtur, hingga potensi kartel atau minimnya persaingan di rute tertentu. Pengawasan politik penting agar masyarakat tidak terus menjadi korban harga tinggi tanpa transparansi.

Ketiga, Pemda perlu menyiapkan anggaran bantuan transportasi sosial. Misalnya bantuan tiket bagi pasien miskin, mahasiswa berprestasi, atlet daerah, atau keluarga yang menghadapi keadaan darurat. Banyak pemerintah daerah mengalokasikan anggaran seremonial yang besar, sementara kebutuhan transportasi masyarakat sering terabaikan. Saatnya prioritas anggaran diarahkan pada kebutuhan riil warga.

Keempat, pembangunan infrastruktur darat dan laut harus dipercepat. Ketergantungan penuh pada pesawat membuat masyarakat sangat rentan setiap kali tarif udara naik. Jalan penghubung antardaerah, pelabuhan perintis, kapal penumpang reguler, dan distribusi logistik laut harus diperkuat agar masyarakat memiliki alternatif transportasi yang lebih murah.

Kelima, Pemda harus berani menjalin kerja sama langsung dengan maskapai. Pemerintah daerah bisa menawarkan insentif tertentu seperti pengurangan pajak daerah, dukungan promosi wisata, atau jaminan load factor pada rute tertentu agar maskapai membuka penerbangan tambahan dengan harga lebih kompetitif. Daerah wisata seperti Raja Ampat, Labuan Bajo, Biak, Timika, dan Ambon akan sangat terbantu jika akses udara lebih murah.

Keenam, DPR dan kepala daerah harus memperjuangkan harga avtur yang lebih adil di kawasan timur. Salah satu komponen mahalnya tiket adalah tingginya biaya bahan bakar di bandara tertentu. Jika distribusi avtur diperbaiki dan disparitas harga ditekan, maka ruang penurunan tarif akan lebih terbuka.

Yang tidak kalah penting, para pemimpin daerah harus berhenti menganggap mahalnya tiket sebagai hal biasa. Selama ini masyarakat seolah dipaksa menerima kenyataan bahwa tinggal di Papua atau Indonesia Timur berarti harus membayar lebih mahal untuk hampir semua hal. Cara pandang seperti itu harus diubah. Negara wajib hadir justru di wilayah yang paling sulit dijangkau.

 Papua dan Indonesia Timur tidak membutuhkan simpati sesaat. Yang dibutuhkan adalah kebijakan nyata, keberpihakan anggaran, dan perjuangan politik yang konsisten. Jika pemerintah daerah dan DPR benar-benar bekerja untuk rakyat, maka isu tiket pesawat harus menjadi agenda prioritas, bukan sekadar keluhan musiman setiap kali libur panjang tiba.

Pada akhirnya, tiket pesawat yang terjangkau bukan hanya soal transportasi. Itu tentang akses pendidikan, layanan kesehatan, pertumbuhan ekonomi, dan keadilan antarwilayah. Di Papua dan Indonesia Timur, pesawat bukan kemewahan. Pesawat adalah jembatan kehidupan yang seharusnya bisa dijangkau semua warga. Amolongo, Nimao Witimi, Saipa.

Penulis: Sampe Sianturi