SALAM PAPUA (TIMIKA) – Solidaritas Pemuda Muslim bersama sejumlah warga menyalakan lilin duka sebagai bentuk belasungkawa atas meninggalnya Nalince Wamang yang diduga ditembak di lokasi pendulangan emas Wini Kalikuluk, Mile 69, Distrik Tembagapura, pada 7 Mei 2026 malam. Aksi doa bersama dan penyalaan lilin tersebut digelar di Bundaran Timika Indah, Selasa (12/5/2026) sore.

Ketua Solidaritas Pemuda Muslim Mimika, Arivin Letsoin, dalam orasinya menyatakan bahwa pihaknya mengutuk keras tragedi yang merenggut nyawa Nalince Wamang. Menurutnya, Nalince merupakan generasi muda Mimika yang tengah berjuang untuk masa depannya, namun harus kehilangan nyawa akibat selongsong peluru.

“Sore ini, kami nyalakan lilin sebagai bentuk belasungkawa. Kami sebagai pemuda muslim berkomitmen untuk menuntut keadilan atas peristiwa yang menimpa generasi muda Mimika,” tegasnya.

Aksi tersebut diiringi doa bersama dan orasi dengan harapan tragedi serupa tidak kembali menimpa masyarakat sipil lainnya di Papua.

Pantauan di lokasi, aksi bakar lilin turut dihadiri sejumlah keluarga almarhum Nalince Wamang, Ketua YBLH Papua Tengah, serta Yosep Temorubun.

Dalam aksi itu, Solidaritas Pemuda Muslim bersama massa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya:

Pertama, mendesak Panglima TNI dan Kapolri mengusut tuntas penembakan warga sipil di Mile 69–71 Tembagapura yang menyebabkan korban luka-luka dan meninggal dunia. Kedua, menuntut pembentukan tim investigasi independen yang melibatkan Komnas HAM, tokoh gereja, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat sipil agar proses hukum berjalan transparan dan adil.

Ketiga, menuntut aparat yang terlibat segera dicopot dan diproses hukum sesuai aturan yang berlaku tanpa perlindungan institusi. Keempat, menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap warga sipil yang menjadi korban operasi bersenjata di wilayah Tembagapura.

Kelima, mendesak negara memberikan santunan dan pemulihan trauma kepada korban luka dan keluarga korban meninggal dunia. Keenam, menuntut permintaan maaf resmi dari institusi keamanan kepada keluarga korban dan masyarakat Papua Tengah.

Ketujuh, mendesak evaluasi total terhadap Operasi Damai Cartenz agar tidak lagi menimbulkan korban dari masyarakat sipil. Kedelapan, menuntut jaminan keamanan bagi masyarakat sipil di Tembagapura, terutama perempuan, anak-anak, pelajar, dan masyarakat adat.

Kesembilan, mendesak DPR RI, DPR Papua Tengah, dan DPRD Mimika turun langsung ke lokasi kejadian untuk mendengar kesaksian korban dan masyarakat. Kesepuluh, mMenuntut penghentian penggunaan kekuatan berlebihan dalam operasi keamanan di Papua yang mengorbankan hak hidup masyarakat sipil.

Kesebelas, mendesak Komnas HAM segera membuka penyelidikan dugaan pelanggaran HAM atas insiden penembakan di Mile 69. Keduabelas, menyerukan solidaritas seluruh rakyat Papua dan Indonesia untuk mengawal kasus ini sampai keadilan ditegakkan bagi Nalince Wamang dan seluruh korban.

Massa aksi juga menyuarakan seruan: “Nyawa rakyat bukan target operasi! Darah anak Papua bukan tumbal konflik! Tangkap pelaku, adili penembak, tegakkan keadilan!”

Penulis: Acik

Editor: Sianturi