SALAM PAPUA (TIMIKA) – Anggota Komisi II DPR RI, Komarudin Watubun, mengkritisi PT Freeport Indonesia (PTFI) yang mengeruk keuntungan ekonominya dari tanah Papua namun tidak begitu dominan berkontribusi bagi pembangunan di Papua.

Hal ini ditegaskan Komarudin saat menjadi pemateri pada Forum Koordinasi Strategis Percepatan Pembangunan Papua bertajuk “Koordinasi Implementasi Kebijakan Otonomi Khusus Papua Dalam Rangka Mewujudkan Papua yang Lebih Sejahtera,” yang diselenggarakan di Timika, 11-12 Mei 2026.

“Perusahaan-perusahaan yang bangun di sini (Tanah Papua, Red) harus beri kontribusi kepada PAD (Papua), dengan cara kantor-kantor perwakilan dan pabrik harus bangun di Papua. Seperti Freeport, uangnya ditaruh di Jakarta. Freeport ini kan pajak besar di Jakarta. Sekarang ada bangun juga Smelter di Gresik, jadinya pendapatan besar di sana (Gresik). Dia (Freeport) ambil barang (SDA) di Papua lalu bawa pergi, sehingga tidak ada kontribusi yang maksimal untuk Papua,” tegas anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI ini yang disambut tepuk tangan seluruh peserta kegiatan, yang dihadiri seluruh Gubernur, Bupati serta Walikota di seluruh Provinsi di Tanah Papua, dan yang diinisiasi oleh Asosiasi Kepala Daerah se-Tanah Papua yang diketuai Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa ini.

Sebagai narasumber pertama pada sesi diskusi di kegiatan tersebut, Komarudin memaparkan tentang “Implementasi Otonomi Khusus Papua UU Nomor 2 Tahun 2021 dalam Perspektif Legislatif: Evaluasi dan Arah Baru untuk Percepatan Kesejahteraan OAP.”

Ketua Pansus RUU Otsus Papua Jilid II ini awalnya mengungkapkan bahwa selama 25 tahun Otsus Papua, negara hadir namun hasilnya belum optimal, seperti IPM Papua masih terendah di Indonesia, tingkat kemiskinan Papua masih tinggi, ketimpangan terjadi antarwilayah, dan layanan dasar belum merata.

Menurut dia, kunci dari Otsus itu adalah bersinergi untuk pembangunan Papua. Tidak bisa membangun sektor per sektor. Dia mengutip sebuah pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

Dia bahkan mengutip dan sekaligus setuju dengan pernyataan Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa sebagai Ketua Asosiasi Kepala Daerah se-Tanah Papua, bahwa Papua itu “satu dari 6 (provinsi), dan 6 (provinsi) dalam satu (kesatuan Papua).”

“Penyataan Gubernur Papua Tengah itu sesungguhnya adalah roh dari Otsus Papua,” tegasnya.

Dia juga menegaskan bahwa masa depan dan keberhasilan Otsus Papua adalah melalui 3 pilar, yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Di samping itu, dia mengungkapkan salah satu hambatan Otsus Papua selama ini adalah adanya perbedaan antara perspektif pemerintah pusat dan Papua pada umumnya. Seperti halnya, pemerintah pusat telah membuat regulasi dan memberikan dana Otsus, namun kebijakan-kebijakan dan regulasi masih tersentralistik ke pusat tanpa melihat kebutuhan utama dan kondisi riil di Papua.

Komarudin kemudian kembali menegaskan bahwa syarat utama agar Otsus Papua berhasil direalisasikan adalah penyusunan tata kelola harus berbasis data, perlu ada kontrol publik yang berkelanjutan agar Otsus tepat sasaran, perlu mengelola dana Otsus dengan integritas dan bertanggungjawab, harus zero penyimpangan, serta output dari Otsus harus benar-benar memberi dampak bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Selain itu, Dia mengatakan bahwa orang Papua harus dilibatkan di semua sektor pembangunan di Papua.

“Sepanjang masih ada kebijakan pusat tentang keuangan ke daerah (Papua), dan sumber daya alam masih ada, para pemimpin daerah di Papua saat ini, manfaatkan itu dengan sebaik-baiknya bagi kemakmuran dan kesejahteraan Papua. Kalau kau tidak bisa menolong seribu orang, tolonglah yang bisa kau tolong. Jangan sampai kau tidak bisa berbuat apa-apa,” tutupnya.

Penulis/Editor: Jimmy