SALAM PAPUA (TIMIKA) – Populasi Rusa di wilayah Mimika Barat Tengah hingga Mimika Barat Jauh dilaporkan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan kini menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

Warga Kampung Tapormai, Distrik Mimika Barat Tengah, Nikolaus Miata, mengungkapkan bahwa dulunya rusa cukup sulit ditemukan di wilayah tersebut. Namun kini, keberadaannya semakin melimpah.

“Dulu sangat susah melihat rusa di Tapormai dan kampung lain. Mungkin karena hutan di wilayah Manokwari, Nabire, dan Kaimana banyak ditebang, jadi rusa berpindah ke wilayah Mimika,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Menurutnya, saat malam hari dengan kondisi bulan terang, warga biasanya berburu dengan memasang jerat di sekitar kepala air. Metode ini cukup efektif karena hampir selalu ada rusa yang terjerat.

“Kalau bulan terang, pasti ada saja rusa yang kena jerat,” katanya.

Rusa hasil buruan kemudian dijual kepada pengusaha dengan harga berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Berat satu ekor rusa umumnya mencapai 30–35 kilogram. Setelah itu, daging rusa diolah menjadi produk seperti dendeng dan dipasarkan ke Timika.

“Yang dijual hanya daging tanpa tulang. Setelah ditangkap, langsung disembelih dan dijual,” jelasnya.

Populasi rusa juga dilaporkan tersebar di sejumlah wilayah lain seperti Pronggo, Uta, Mupuruka, hingga berbagai titik di Mimika Barat Tengah.

Hal senada disampaikan warga Potowaiburu, Distrik Mimika Barat Jauh, David Maeuta. Ia menyebut rusa bahkan kerap masuk hingga ke area kampung, sehingga semakin memudahkan warga untuk berburu.

“Di Potowaiburu, rusa bisa sampai ke tengah kampung. Makanya banyak yang dijerat, lalu dagingnya dijual dengan harga Rp 30 sampai Rp 40 ribu per kilo,” ujarnya.

Meningkatnya populasi rusa ini tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah pesisir dan pedalaman Mimika.

Penulis: Acik

Editor: Sianturi