Memahami Papua: Koops TNI Habema Menyalakan Kembali Asa Di Lembah Ugimba Intan Jaya Kebersamaan Para personel Koopd TNI Habema di Lembah Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, Papua Pegunungan, Kamis (17/9/2026)(Salampapua.com/Dokumen Koops TNI Habema)

Memahami Papua: Koops TNI Habema Menyalakan Kembali Asa Di Lembah Ugimba Intan Jaya

SALAM PAPUA (INTAN JAYA) – Papua selalu menghadirkan wajah alam yang luar biasa. Pegunungan menjulang, lembah terbentang luas, dan hutan yang masih terjaga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang telah lama mendiami tanah ini.

Namun, di balik keindahan alam tersebut, terdapat kisah panjang tentang perjuangan menghadirkan pelayanan, keamanan, dan pembangunan bagi masyarakat yang tinggal jauh di wilayah pedalaman.

Perjalanan menuju Distrik Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, bukanlah perjalanan mudah. Dari Timika, perjalanan dilanjutkan menuju Bilorai di Distrik Sugapa, sebelum menembus medan berat dan cuaca ekstrem menuju Ugimba.

Selama sekitar 15 tahun, masyarakat Ugimba menghadapi keterbatasan akses dan pelayanan pemerintahan. Wilayah tersebut hingga kini hanya dapat dijangkau melalui jalur udara, sementara melalui jalur darat harus menempuh sekitar 70 kilometer menuju distrik terdekat.

Pada Kamis (18/9/2026), sebuah langkah penting kembali tercatat. Panglima Komando Operasi TNI Habema Brigjen TNI Riyanto, S.I.P., M.M., M.T., bersama Bupati Intan Jaya Aner Maisini tiba di Ugimba.

Kedatangan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat setempat yang selama ini menantikan kehadiran langsung pemerintah di tengah kehidupan yang masih terisolasi.

Rombongan Pangkoops TNI Habema dan Bupati Intan Jaya disambut Kepala Distrik Ugimba Penias Kogoya bersama masyarakat. Bagi warga, pertemuan tersebut bukan sekadar kunjungan, tetapi menjadi ruang untuk menyampaikan harapan sekaligus mendengar langsung komitmen pemerintah.

Dalam pertemuan itu, TNI dan pemerintah membuka ruang dialog bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, terutama terkait kebutuhan dasar, pembangunan, pelayanan publik, dan akses wilayah yang selama ini terkendala medan serta kondisi keamanan.

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini menyampaikan bahwa pembangunan tidak dapat berjalan tanpa rasa aman dan kepercayaan masyarakat. Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda berkomitmen membangun kembali hubungan dengan masyarakat melalui pendekatan pelayanan dan kebersamaan.

Menurutnya, kehadiran negara harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga kepedulian terhadap kehidupan masyarakat, pendidikan anak-anak, serta terbukanya akses terhadap kebutuhan dasar.

Suasana haru terlihat ketika para pemimpin dan masyarakat duduk bersama dalam dialog terbuka. Para tetua adat, kepala distrik, tokoh agama, pemuda, mama-mama, hingga anak-anak menyampaikan cerita dan harapan mereka tentang masa depan Ugimba.

Dalam kesempatan tersebut, Brigjen TNI Riyanto mengajak masyarakat bersama-sama menjaga perdamaian dan membangun kehidupan yang lebih baik. Ia juga menyampaikan harapan agar pihak-pihak yang masih berada di gunung dan hutan dapat kembali bersama masyarakat untuk membangun kampung halaman.

Ugimba menyimpan perjalanan panjang. Wilayah yang pernah mengalami masa sulit akibat konflik dan keterisolasian itu kini berupaya membuka lembaran baru.

Salah seorang warga, Tius, menceritakan bahwa sebelumnya Distrik Ugimba jarang tersentuh unsur pemerintah dan disebut pernah menjadi basis kelompok bersenjata pimpinan Sabinus Waker.

Melalui warga Ugimba, Sabinus Waker juga menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat.

“Kami membutuhkan perhatian pemerintah dengan bantuan beras, sembako, bantuan desa, karena kami membutuhkan pembangunan. Kami juga bagian dari pemerintahan. Terakhir, kami mengucap syukur Bapak Bupati dan TNI dapat hadir di sini,” demikian pesan yang disampaikan melalui warga Ugimba.

Selama ini masyarakat menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan, terutama dalam memperoleh akses pembangunan dan pelayanan publik. Namun, kedatangan pemerintah dan aparat keamanan menjadi momentum tumbuhnya kembali harapan.

Sambutan masyarakat terlihat melalui pemberian hasil bumi berupa sayur dan ubi kepada rombongan. Bagi masyarakat, pemberian tersebut menjadi simbol persaudaraan, penghormatan, dan keinginan membangun hubungan yang lebih baik.

Di tengah keterbatasan, semangat anak-anak Ugimba juga menjadi gambaran tentang masa depan yang ingin mereka raih. Dengan penuh antusias, mereka menyampaikan impian untuk kembali bersekolah dan mengejar cita-cita. Ada yang ingin menjadi prajurit, ada pula yang bercita-cita menjadi pelayan masyarakat melalui pendidikan dan keagamaan.

Semangat perubahan juga terlihat dalam kegiatan gotong royong membangun fasilitas pendukung kehidupan warga. Prajurit bersama masyarakat mengangkat material pembangunan jembatan, memperlihatkan bahwa kemajuan tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari kebersamaan.

Salah satu simbol perubahan di Ugimba adalah berdirinya Jembatan Merah Putih. Bagi masyarakat setempat, jembatan tersebut bukan hanya menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga diharapkan membuka akses menuju pendidikan, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, serta mempererat hubungan antarwarga.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan bantuan sembako dan kebutuhan pokok kepada masyarakat. Kehadiran pemerintah dan aparat keamanan diharapkan menjadi bagian dari proses panjang memperkuat pelayanan publik dan membangun kepercayaan masyarakat.

Di tengah dinginnya udara pegunungan Ugimba, sebuah pesan kembali ditegaskan: memahami Papua bukan hanya tentang menghadapi medan yang sulit, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir, mendengar, dan berjalan bersama masyarakat.

Dari lembah Ugimba, harapan itu kembali tumbuh. Sebuah perjalanan panjang menuju kehidupan masyarakat yang lebih damai, maju, dan sejahtera. (Sumber: Koops TNI Habema)

Editor: Sianturi