Pertanian Mimika Harus Naik Kelas, Dari Penerima Bantuan Menjadi Kekuatan Ekonomi Lokal (Karikatur: salampapua.com)

Pertanian Mimika Harus Naik Kelas, Dari Penerima Bantuan Menjadi Kekuatan Ekonomi Lokal

SALAM PAPUA (EDITORIAL) - 24 September seharusnya bukan sekadar hari untuk mengunggah ucapan “Selamat Hari Tani Nasional.” Tanggal ini memiliki akar sejarah yang jauh lebih penting. Hari Tani Nasional berkaitan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau UUPA. Pemerintah sendiri menempatkan Hari Tani Nasional sebagai momentum untuk memperkuat keberlanjutan pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, mendorong regenerasi petani muda dan memperkuat ketahanan pangan.

Karena itu, di Kabupaten Mimika, Hari Tani Nasional semestinya menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan yang lebih keras: Mengapa daerah dengan tanah, hutan, air dan potensi pangan yang begitu besar masih harus bekerja keras untuk memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat ekonomi yang layak dari sektor pertanian?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan petani. Justru sebaliknya, yang harus dikritisi adalah sistem yang membuat petani bekerja keras, tetapi nilai ekonomi terbesar dari hasil produksinya belum tentu kembali kepada petani.

17.144 Rumah Tangga Pertanian: Potensi Besar yang Jangan Dibiarkan Berjalan Sendiri

Sensus Pertanian 2023 BPS menunjukkan bahwa Kabupaten Mimika memiliki basis rumah tangga usaha pertanian yang signifikan. Bahkan BPS secara khusus menerbitkan hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2023 untuk unit usaha tanaman pangan di Mimika.

Angka ini penting karena pembangunan pertanian tidak dimulai dari ruang kosong. Ada manusia yang bertani, ada keluarga yang menggantungkan kehidupan pada tanah, ada produksi, ada lahan, dan ada pasar.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dihubungkan menjadi sebuah sistem ekonomi. Sebab petani tidak membutuhkan pemerintah hanya ketika pembagian bantuan tiba.

Petani membutuhkan modal ketika mulai menanam, teknologi ketika berproduksi, pendampingan ketika menghadapi masalah, transportasi ketika mengangkut hasil, gudang ketika panen melimpah, pengolahan ketika komoditas harus diberi nilai tambah, dan kepastian pasar ketika hasil akhirnya siap dijual.

Tanpa rantai tersebut, program pertanian berisiko berhenti pada kegiatan administratif. Ada bantuan, ada laporan, ada dokumentasi, tetapi belum tentu ada perubahan besar dalam pendapatan petani.

Mimika Tidak Boleh Hanya Menjadi Pasar

Inilah persoalan yang harus dibicarakan secara terbuka. Mimika harus berhenti melihat pertanian hanya sebagai urusan ketahanan pangan. Pertanian juga harus dipandang sebagai strategi pembangunan ekonomi masyarakat lokal.

Data kemiskinan BPS menunjukkan bahwa pada Maret 2025 persentase penduduk miskin di Kabupaten Mimika masih mencapai 13,70 persen. Artinya, pembangunan ekonomi masih menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan ekonomi diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang lebih luas.

Dalam konteks ini, pertanian dapat menjadi salah satu instrumen penting. Bukan berarti pertanian harus menggantikan pertambangan. Tidak.

Pertambangan dan pertanian memiliki karakter ekonomi yang berbeda. Tetapi Mimika membutuhkan diversifikasi ekonomi.

Sebab ekonomi yang kuat bukan hanya ekonomi yang menghasilkan angka besar, melainkan ekonomi yang menyediakan ruang bagi sebanyak mungkin masyarakat untuk menjadi pelaku. Petani harus menjadi pelaku. Pemuda harus menjadi pelaku. Pelaku UMKM harus menjadi pelaku. Koperasi harus menjadi pelaku. Masyarakat adat harus menjadi pelaku.

Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi konsumen dari barang yang didatangkan dari luar, sementara sumber daya dan potensi produksi di daerah sendiri belum dikembangkan secara optimal.

Persoalannya Bukan Sekadar Produksi

Kita sering mendengar kalimat: “Mimika harus meningkatkan produksi pertanian.” Benar. Tetapi kalimat tersebut belum cukup. Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: Produksi untuk siapa? Dijual ke siapa? Berapa harga di tingkat petani? Siapa yang mengolah? Siapa yang mengangkut? Siapa yang mendapatkan margin terbesar?

Inilah yang sering hilang dalam pembicaraan tentang pertanian. Petani dapat meningkatkan produksi. Tetapi kalau harga jatuh ketika panen, petani tetap lemah. Petani dapat menghasilkan sayuran. Tetapi jika biaya transportasi tinggi, keuntungan dapat tergerus. Petani dapat menghasilkan padi. Tetapi jika tidak tersedia fasilitas pascapanen yang memadai, sebagian nilai ekonomi hilang.

Karena itu, masalah pertanian bukan hanya masalah produksi, ini masalah rantai nilai.

Iwaka Memberikan Pesan Penting

BPS Kabupaten Mimika pada Juni 2026 melaksanakan Survei Konversi Gabah ke Beras di Distrik Iwaka. Survei tersebut mengukur proses pengeringan dan penggilingan serta memperoleh data mengenai rendemen dan susut hasil. BPS menjelaskan bahwa data tersebut diperlukan untuk mendukung statistik pertanian dan perencanaan kebijakan yang lebih akurat.

Ini memberikan pelajaran penting. Pertanian modern harus berbasis data. Kita tidak dapat membangun pertanian hanya berdasarkan perkiraan. Pemerintah perlu mengetahui: berapa luas lahan produktif, berapa produksi aktual, berapa produktivitas per hektar, berapa biaya produksi, berapa harga di tingkat petani, berapa kehilangan hasil, berapa kebutuhan pasar, berapa kebutuhan pangan Mimika, berapa komoditas yang masih didatangkan dari luar, dan berapa nilai ekonomi yang sebenarnya dapat dipertahankan di Mimika?

Tanpa data tersebut, kebijakan mudah berubah menjadi program yang bagus di atas kertas tetapi lemah dalam hasil.

Jangan Bangga dengan Bantuan Kalau Pendapatan Petani Tidak Naik

Ini kritik yang harus dikatakan dengan terang. Ukuran keberhasilan program pertanian bukan jumlah proposal yang disetujui, bukan jumlah kelompok tani yang menerima bantuan, bukan jumlah alat pertanian yang dibagikan, bukan pula banyaknya kegiatan seremonial.

Ukuran paling sederhana adalah: apakah pendapatan petani meningkat? Kalau pendapatan petani meningkat, berarti ada dampak. Kalau produktivitas meningkat, berarti ada kemajuan. Kalau biaya produksi turun, berarti ada efisiensi. Kalau produk lokal masuk pasar hotel, restoran, rumah sakit, sekolah dan perusahaan, berarti ada perluasan pasar. Kalau anak muda mulai melihat pertanian sebagai bisnis, berarti terjadi regenerasi.

Itulah indikator yang harus dikejar. Pasar Sentral Mimika Harus Menjadi Kesempatan bagi Petani Lokal. Mimika memiliki pasar konsumsi yang besar. Karena itu, pemerintah daerah perlu membangun kebijakan yang menghubungkan petani lokal dengan pembeli besar.

Bayangkan apabila kebutuhan sayur-mayur, buah, umbi-umbian, telur, beras, ikan dan berbagai bahan pangan yang dibutuhkan institusi di Mimika dapat semakin banyak dipenuhi oleh produsen lokal.

Maka terjadi perputaran ekonomi: Petani lokal → pengepul/koperasi → pengangkutan → pengolahan → pasar → konsumen.

Uang berputar di Mimika, lapangan pekerjaan bertambah, UMKM tumbuh, Koperasi berkembang, Pendapatan rumah tangga meningkat, Dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar secara bertahap dapat dikurangi untuk komoditas-komoditas yang memang layak diproduksi secara lokal. Inilah pertanian sebagai mesin ekonomi.

Koperasi Harus Menjadi Kekuatan, Bukan Sekadar Nama

Salah satu kelemahan petani kecil adalah posisi tawar. Petani berhadapan dengan pasar secara sendiri-sendiri. Satu petani menjual sedikit, petani lain menjual sedikit. Akibatnya, posisi tawar mereka lemah.

Koperasi atau kelembagaan ekonomi petani dapat menjadi jalan keluar apabila dikelola secara profesional.

Koperasi dapat membeli hasil petani, menyediakan sarana produksi, mengatur transportasi, membangun gudang, melakukan sortasi, melakukan pengemasan, mengolah produk, melakukan pemasaran, dan melakukan negosiasi dengan pembeli besar.

Dengan begitu, petani tidak lagi sekadar menjadi price taker. Mereka dapat memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Tetapi koperasi juga harus profesional. Jangan membangun koperasi hanya karena ada program dan anggaran. Bangun koperasi karena ada bisnis yang nyata.

Pemuda Mimika Jangan Hanya Dipersiapkan Menjadi Pencari Kerja

Pertanian masa depan bukan pertanian yang identik dengan pekerjaan kasar semata. Pertanian membutuhkan teknologi, drone, data, mekanisasi, irigasi, pengolahan pangan, desain kemasan, pemasaran digital, logistik, pembiayaan dan manajemen bisnis.

Karena itu, pemerintah perlu mendorong lahirnya generasi muda agripreneur. Anak muda dapat mengelola rumah produksi. Mereka dapat menjadi pengolah hasil pertanian, mereka dapat membangun platform pemasaran, mereka dapat mengembangkan bisnis distribusi pangan, mereka dapat menjadi operator mesin pertanian, mereka dapat membangun merek produk lokal Mimika. Dengan demikian, pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor “tradisional”. Pertanian harus menjadi sektor bisnis modern.

Masyarakat Adat Jangan Hanya Menjadi Penonton di Atas Tanahnya Sendiri

Ada satu aspek yang tidak boleh diabaikan dalam konteks Papua: tanah. Pengembangan pertanian harus memperhatikan hak masyarakat adat dan memastikan bahwa masyarakat lokal terlibat sebagai subjek pembangunan.

Kementerian Pertanian pada 2026 juga menekankan pendekatan berbasis potensi lokal dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan pertanian Papua, termasuk pentingnya memperhatikan kesepakatan terkait hak ulayat. Prinsip ini harus menjadi pegangan di Mimika. Masyarakat adat tidak boleh hanya dilibatkan ketika proyek akan dimulai.

Mereka harus terlibat ketika: merencanakan → menentukan komoditas → menentukan model usaha → mengelola lahan → mengolah hasil → menjual → menerima keuntungan.

Jika pertanian dikembangkan di atas tanah masyarakat, maka masyarakat harus memperoleh manfaat ekonomi yang jelas dan berkelanjutan. Bukan hanya kompensasi sesaat.

Mimika Membutuhkan Peta Jalan Pertanian

Karena itu, pada momentum Hari Tani Nasional, sudah waktunya Mimika mempunyai peta jalan pertanian yang jelas dan terukur. Bukan sekadar daftar program tahunan.

Peta jalan tersebut setidaknya harus menjawab: Apa komoditas unggulan Mimika? Di mana sentra produksinya? Berapa kebutuhan pasar lokal? Berapa produksi lokal saat ini? Berapa kesenjangan antara produksi dan kebutuhan? Siapa yang membeli produk petani? Bagaimana sistem logistiknya? Bagaimana pembiayaannya? Siapa yang mengolah produk? Dan Berapa pendapatan petani sebelum dan sesudah program? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut harus berbasis data.

BPS Kabupaten Mimika sendiri menerbitkan Kabupaten Mimika Dalam Angka 2026, yang menjadi salah satu sumber penting untuk membaca kondisi sosial, demografi dan perekonomian daerah.

Data harus menjadi dasar kebijakan, bukan sekadar pelengkap laporan. Jangan Hanya Mengukur Pertumbuhan, Ukur juga siapa yang tumbuh, ini inti persoalannya. Pertumbuhan ekonomi daerah memang penting, tetapi pertanyaan pembangunan yang lebih mendasar adalah: siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?

Jika ekonomi tumbuh tetapi petani tetap kesulitan menjual hasil produksinya, ada masalah. Jika produksi meningkat tetapi margin terbesar justru dinikmati oleh rantai perdagangan setelah petani, ada masalah. Jika lahan masyarakat semakin banyak digunakan tetapi kapasitas ekonomi masyarakat tidak ikut meningkat, ada masalah. Jika anak muda terus meninggalkan sektor pertanian karena tidak melihat masa depan ekonomi di dalamnya, ada masalah.

Karena itu, keberhasilan pembangunan pertanian harus dilihat dari kemampuan masyarakat lokal naik kelas secara ekonomi. Hari Tani Nasional Harus Menjadi Titik Balik. Mimika tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah pendekatan.

Dari bantuan menjadi investasi, dari proyek menjadi bisnis, dari petani penerima menjadi petani pelaku, dari menjual bahan mentah menjadi menciptakan nilai tambah, dari program tahunan menjadi peta jalan jangka panjang, dan dari masyarakat sebagai objek menjadi masyarakat sebagai subjek pembangunan.

Pertanian Harus Menjadi Program Prioritas Lintas OPD

Peran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Mimika menjadi sangat penting. Bukan karena semua persoalan pertanian harus dibebankan kepada satu dinas, tetapi karena pembangunan pertanian memang membutuhkan kerja lintas OPD yang terintegrasi.

Persoalannya adalah bagaimana seluruh OPD tersebut bekerja dalam satu arah, menjadikan petani lokal sebagai subjek utama pembangunan ekonomi.

Bappeda harus merencanakan, Dinas Pertanian harus meningkatkan produksi dan mutu, Dinas Ketahanan Pangan harus memperkuat konsumsi dan pasar pangan lokal, Dinas Koperasi harus memperkuat kelembagaan ekonomi petani, Dinas Perindustrian dan Perdagangan harus membawa produk petani masuk ke industri dan pasar, Dinas Perhubungan harus memperkuat rantai distribusi, DPMK harus memperkuat ekonomi kampung, Dinas Peternakan dan Perikanan harus membangun ekosistem pangan yang saling terhubung, Dan seluruh OPD harus mempertanggungjawabkan hasilnya melalui indikator yang dapat diukur.

Sebab petani tidak membutuhkan terlalu banyak janji. Petani membutuhkan sistem yang membuat kerja keras mereka menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Dan masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penerima program. Mereka harus menjadi pemilik masa depan ekonomi Mimika.

Karena itu, pada Hari Tani Nasional ini, Pemerintah Kabupaten Mimika perlu menjadikan satu pertanyaan sebagai ukuran bersama: apakah setiap program pertanian benar-benar membuat petani lokal lebih berkualitas, lebih produktif, lebih berdaya saing dan lebih sejahtera?

Hari Tani Nasional bukan waktunya sekadar memuji petani. Ini waktunya membangun sistem yang membuat kerja keras petani benar-benar menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Mimika memiliki sumber daya ekonomi yang besar. Tetapi kekayaan daerah tidak otomatis menjadi kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan membutuhkan sistem, membutuhkan kebijakan, membutuhkan pasar, membutuhkan infrastruktur, membutuhkan modal, membutuhkan teknologi, dan yang paling penting membutuhkan keberanian untuk menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama.

Karena itu, pesan Hari Tani Nasional untuk Mimika sangat sederhana, jangan biarkan tanah Mimika kaya, sementara petaninya tetap miskin. Jangan biarkan pasar Mimika besar, tetapi petani lokal hanya menjadi penonton. Dan jangan biarkan pertanian hanya menjadi program pemerintah tanpa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Mimika membutuhkan pertanian yang bukan hanya mampu menghasilkan pangan. Mimika membutuhkan pertanian yang menghasilkan pendapatan, pekerjaan, usaha, kemandirian dan masa depan. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah seberapa banyak program yang dilaksanakan.

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa banyak keluarga masyarakat lokal yang kehidupannya benar-benar menjadi lebih baik.

Selamat Hari Tani Nasional. Dari tanah Mimika, mari tumbuhkan ekonomi masyarakat lokal.

Penulis: Jimmy