SALAM PAPUA (TIMIKA) – Jumlah pasien cuci darah (hemodialisis) di RSUD Mimika mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun 2025. Tercatat sebanyak 60 pasien menjalani hemodialisis, meningkat 28 persen dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 47 pasien.

Direktur RSUD Mimika, dr. Antonius Pasulu, Sp.THT-KL, M.Kes mengatakan, lonjakan tersebut didominasi oleh pasien dengan penyakit tidak menular yang tidak tertangani secara optimal.

“Untuk tahun 2025, kita tangani 60 pasien cuci darah. Jumlah penanganan ini memang meningkat 28 persen dari tahun 2024,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Menurut dr. Anton, penyebab utama pasien harus menjalani cuci darah adalah komplikasi penyakit seperti Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis serta hipertensi (tekanan darah tinggi) yang tidak terkontrol.

“Penyebabnya memang beragam, tapi penanganan ini karena fungsi ginjal yang tidak sehat. Jadi kami sangat berharap masyarakat teredukasi. Jika sudah didiagnosis DM atau hipertensi, wajib melakukan kontrol rutin ke fasilitas kesehatan agar fungsi ginjal tetap terjaga,” jelasnya.

Dalam pelayanan hemodialisis, RSUD Mimika saat ini memiliki 10 unit mesin HD. Sebanyak 9 unit diperuntukkan bagi pasien non-infeksi, sementara 1 unit khusus untuk pasien dengan kondisi infeksi guna mencegah penularan silang.

“Kami memiliki 10 unit HD, 9 untuk non-infeksi, 1 untuk pasien infeksi. Sebenarnya pasien tidak perlu khawatir, cuci darah bukanlah akhir dari segalanya. Ada perbedaan besar antara kondisi ginjal kronis dan akut,” ungkap dr. Anton.

Ia mencontohkan, kasus malaria berat dapat menyebabkan gagal ginjal akut yang bersifat reversible atau dapat kembali normal setelah menjalani prosedur cuci darah.

Terkait pembiayaan, dr. Anton memastikan bahwa hampir seluruh pasien hemodialisis menggunakan jaminan dari BPJS Kesehatan.

“Hampir seluruh pasien cuci darah kami menggunakan jaminan BPJS Kesehatan. Tidak ada pembayaran tambahan sama sekali, selama mengikuti prosedur rujukan yang benar dari FKTP,” tegasnya.

RSUD Mimika juga menyediakan layanan tambahan bagi pasien Orang Asli Papua (OAP) kategori tidak mampu melalui program “Sa Antar Ko”. Layanan ini bertujuan membantu pasien agar dapat menjalani hemodialisis secara teratur sesuai jadwal dokter.

“Layanan tambahan yang diberikan kepada pasien OAP adalah layanan ‘Sa Antar Ko’, hal ini juga bertujuan agar pasien dapat menjalani hemodialisis sesuai jadwal yang diberikan oleh dokternya,” tutup dr. Anton.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi