SALAM PAPUA (TIMIKA)- Cara menghilangkan bau mulut saat
puasa penting diketahui agar Anda tetap percaya diri saat menjalani ibadah dan
aktivitas sehari-hari. Saat berpuasa, mulut memang cenderung terasa lebih
kering karena tidak ada asupan makanan dan minuman selama beberapa jam.
Akibatnya, napas bisa terasa kurang segar.
Bau mulut saat puasa umumnya terjadi karena produksi air
liur menurun. Air liur berperan penting menjaga kebersihan mulut dengan
membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Ketika mulut menjadi kering, bakteri
lebih mudah berkembang dan menghasilkan aroma tidak sedap, sehingga cara
menghilangkan bau mulut saat puasa menjadi solusi yang banyak yang dicari.
Cara Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa
Berikut ini adalah beberapa cara menghilangkan bau mulut
saat puasa agar napas tetap segar selama menjalani ibadah:
1. Membersihkan gigi dan mulut secara rutin
Menyikat gigi setelah sahur dan sebelum tidur membantu
membersihkan sisa makanan yang dapat memicu bau mulut. Saat menyikat gigi,
pastikan seluruh permukaan gigi dibersihkan secara merata.
Jangan lupa membersihkan lidah juga, ya. Bagian lidah sering
menjadi tempat menumpuknya bakteri yang dapat menimbulkan bau mulut saat puasa
jika tidak dibersihkan dengan baik.
2. Menggunakan benang gigi
Selain menyikat gigi, membersihkan sela-sela gigi dengan
benang gigi juga penting. Flossing membantu mengangkat sisa makanan yang
terselip di antara gigi dan tidak terjangkau oleh sikat gigi.
Jika sisa makanan dibiarkan menumpuk, bakteri bisa
berkembang dan menyebabkan napas menjadi kurang segar. Dengan flossing secara
rutin, cara menghilangkan bau mulut saat puasa bisa menjadi lebih efektif.
3. Menggunakan obat kumur
Berkumur menggunakan obat kumur setelah menyikat gigi dapat
membantu menyegarkan napas. Pilih obat kumur yang tidak mengandung alkohol agar
mulut tidak terasa semakin kering.
Obat kumur juga membantu mengurangi jumlah bakteri di dalam
rongga mulut. Dengan begitu, bau mulut saat puasa dapat lebih mudah dicegah.
4. Memperbanyak minum air putih
Mencukupi kebutuhan cairan tubuh merupakan salah satu cara
menghilangkan bau mulut saat puasa yang penting. Saat sahur dan berbuka,
usahakan minum air putih yang cukup agar tubuh tetap terhidrasi. Anda bisa
memanfaatkan pembagian 2–4–2, yaitu 2 gelas air saat berbuka puasa, 4 gelas air
di malam hari hingga menjelang tidur, dan 2 gelas air saat sahur.
Mulut yang cukup lembap akan membantu menekan pertumbuhan
bakteri penyebab bau mulut. Selain itu, air putih juga membantu membersihkan
sisa makanan di dalam mulut.
5. Mengonsumsi makanan kaya serat
Menambahkan buah dan sayur saat sahur dan berbuka juga bisa
membantu menjaga kesegaran napas. Makanan berserat membutuhkan proses mengunyah
yang lebih lama sehingga dapat membantu membersihkan rongga mulut.
Selain baik untuk pencernaan, buah dan sayur juga membantu
mengurangi penumpukan sisa makanan di gigi. Kebiasaan ini dapat mendukung cara
menghilangkan bau mulut saat puasa secara alami.
6. Menghindari makanan berbau tajam serta merokok
Beberapa makanan memiliki aroma yang cukup kuat, seperti
bawang, petai, atau jengkol. Aroma dari makanan tersebut dapat bertahan cukup
lama di dalam mulut dan memengaruhi bau napas saat puasa.
Agar cara menghilangkan bau mulut saat puasa lebih optimal,
sebaiknya batasi konsumsi makanan tersebut saat sahur. Selain itu, hindari
merokok karena dapat memperburuk bau mulut dan kesehatan gigi.
7. Membatasi makanan dan minuman manis
Membatasi makanan dan minuman yang tinggi gula saat sahur
dan berbuka juga termasuk cara menghilangkan bau mulut saat puasa yang penting.
Sebab, gula dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri di dalam mulut.
Ketika bakteri memecah gula, hal ini menghasilkan senyawa
yang dapat menimbulkan bau tidak sedap. Oleh karena itu, sebaiknya batasi
konsumsi makanan manis, seperti permen, kue, atau minuman manis berlebihan,
terutama saat sahur.
Pada sebagian besar orang, bau mulut saat puasa sebenarnya
merupakan hal yang wajar dan biasanya akan membaik setelah makan dan minum saat
berbuka. Selama kebersihan mulut terjaga dengan baik, kondisi ini umumnya tidak
berbahaya. (Sumber: Alodokter)
Editor: Sianturi

