SALAM PAPUA (NABIRE) – Pemerintah Provinsi Papua Tengah
melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah terus memperkuat
kualitas pendidikan berbasis kearifan lokal dengan meluncurkan empat buku
pembelajaran kontekstual bagi siswa SMA Negeri Meepago di Nabire.
Peluncuran buku tersebut dilakukan dalam kegiatan
sosialisasi dan implementasi pembelajaran kontekstual Papua yang berlangsung di
aula sekolah pada Jumat (13/3/2026).
Empat buku karya Yermias Degei tersebut dirancang khusus
untuk memperkaya referensi pembelajaran bagi siswa Papua, yakni Bahasa dan
Sastra Indonesia Kontekstual Papua untuk SMA-SMK Kelas X, Pers Sekolah Era New
Media: Teori dan Praktik, Menulis Karangan Kontekstual: Dari Kehidupan Siswa
Papua untuk Pembelajaran yang Bermakna, serta Buku Panduan Pintar Memilih
Perguruan Tinggi dan Akses Beasiswa.
Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Fasilitas Pendidikan
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo
mengatakan, keterlibatan pemerintah provinsi di sekolah tersebut merupakan
bagian dari komitmen gubernur untuk menjadikan SMA Negeri Meepago sebagai
sekolah unggulan di wilayah Meepago.
Ia menjelaskan bahwa meskipun berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 106 Tahun 2021 kewenangan pengelolaan SMA-SMK telah dialihkan
ke pemerintah kabupaten sejak 2023, pemerintah provinsi tetap memberikan
dukungan melalui pembiayaan program pendidikan.
“Sekolah ini secara kelembagaan merupakan milik Kabupaten
Nabire, namun pemerintah provinsi tetap memberikan intervensi pembiayaan
sebagai bagian dari komitmen gubernur untuk menjadikan SMA Negeri Meepago
sebagai sekolah unggulan,” ujar Kuayo.
Kuayo juga memberikan apresiasi kepada penulis buku, Yermias
Degei, yang telah menyusun materi pembelajaran kontekstual tersebut selama
lebih dari satu dekade.
Menurutnya, buku-buku tersebut tidak dimaksudkan untuk
langsung menggantikan kurikulum yang ada, tetapi menjadi bahan referensi
tambahan yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas.
“Kami berharap buku-buku ini dapat memperkaya referensi bagi
siswa, termasuk memberikan informasi terkait peluang beasiswa serta akses
pendidikan tinggi bagi generasi muda Papua,” katanya.
Ia menambahkan, implementasi buku kontekstual ini akan
terlebih dahulu dievaluasi oleh para guru. Jika memberikan dampak positif, maka
dinas berencana mendistribusikannya ke sekolah-sekolah lain, khususnya sekolah
yang menerapkan sistem asrama.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri Meepago, Otopianus
Tebai menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah atas
dukungan yang diberikan terhadap pengembangan sekolah tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa sekolah sempat mengalami masa sulit
saat masih berada di Kalibobo selama tiga tahun tanpa dukungan bantuan sebelum
akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah provinsi.
Menurutnya, sejak terbentuknya Provinsi Papua Tengah,
berbagai pembangunan mulai dilakukan, termasuk pembangunan asrama pada 2023,
perbaikan infrastruktur jalan, hingga rehabilitasi fasilitas sekolah pada 2024
sehingga pada 2025 kegiatan belajar mengajar dapat dipindahkan ke lokasi baru.
Otopianus berharap dukungan pemerintah terhadap pendidikan
di Papua Tengah dapat mendorong lahirnya generasi muda yang mandiri dan mampu
mengembangkan potensi diri.
“Harapan kami, anak-anak di sini dapat mengaktualisasikan
potensi mereka untuk masa depan, sehingga tidak hanya bergantung pada pekerjaan
sebagai pegawai negeri, tetapi mampu mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.
Penulis: Elias Douw
Editor: Sianturi

