SALAM PAPUA (TIMIKA)- Hubungan seksual seharusnya
menyenangkan, tapi ada beberapa orang yang sangat takut melakukannya karena
alasan yang terkadang tidak rasional. Kondisi yang disebut fobia seks ini ada
berbagai jenis dan dapat disebabkan oleh beragam faktor.
Orang yang mengalami fobia seks lebih dari sekadar tidak
suka atau enggan berhubungan seksual. Fobia ini membuat penderitanya panik atau
terus-menerus merasa takut tanpa alasan yang jelas setiap akan berhubungan
seksual. Bahkan, memikirkan aktivitas
seksual saja sudah bisa membuat penderita fobia seks ketakutan.
Berbagai Jenis Fobia Seks
Erotophobia adalah sebutan untuk berbagai fobia yang
berhubungan dengan seks. Erotophobia sendiri terdiri dari beberapa jenis,
yaitu:
1. Genophobia
Jenis fobia ini juga dikenal sebagai coitophobia, yaitu rasa
takut akan penetrasi atau senggama. Pada kondisi ini, penderitanya mengalami
kesulitan ereksi dan tidak mampu mencapai orgasme. Orang yang mengalami
genofobia mungkin masih dapat menikmati interaksi seksual seperti berpelukan
dan berciuman, tapi takut untuk melakukan senggama.
2. Paraphobia
Orang yang mengalami fobia ini menganggap bahwa hubungan
seksual adalah hal yang menyimpang dan dapat menodai diri mereka.
3. Haphephobia
Haphephobia atau chiraptophobia adalah rasa takut disentuh.
Tidak hanya memengaruhi hubungan dengan pasangan, fobia ini bahkan membuat
orang yang mengalaminya tidak ingin disentuh oleh kerabat sendiri.
4. Gymnophobia
Penderita Gymnophobia adalah perasaan takut akan telanjang.
Penderitanya juga merasa takut atau cemas ketika melihat orang lain telanjang.
Meski tidak selalu, fobia ini bisa disebabkan oleh persepsi negatif akan tubuh.
5. Philematophobia
Philematophobia adalah rasa takut berciuman. Fobia seks ini
terjadi karena berbagai sebab, umumnya dikaitkan dengan masalah fisik, seperti
kekhawatiran tentang takut kuman atau bau mulut.
Gejala dan Penyebab Terjadinya Fobia Seks
Orang yang mengalami fobia seks biasanya merasakan reaksi
psikologis dan fisik yang tidak bisa diabaikan. Mereka jadi cemas, gelisah,
ketakutan, bahkan panik ketika dihadapkan dengan hal-hal berbau seks.
Secara fisik mereka mungkin merasa kelelahan, sakit kepala
atau pusing, hingga mual jika memikirkan atau berada di dekat hal yang menjadi
sumber fobianya. Beberapa hal yang dinilai menjadi faktor penyebab timbulnya
fobia seks, antara lain:
Trauma akibat kekerasan seksual
Kekerasan seksual dapat membuat korbannya mengalami
post-traumatic stress disorder (PTSD) hingga mempengaruhi intimasi dengan
pasangan. Kondisi ini bisa terjadi pada orang yang menjadi korban pemerkosaan
atau KDRT.
Korban pemerkosaan atau kekerasan ini dapat mengalami trauma
psikologis yang butuh waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk sembuh.
Rasa malu akan bentuk tubuh
Merasa malu akan bentuk tubuh (dysmorphia) dapat membuat
orang yang mengalaminya menghindar atau takut beraktivitas, termasuk
berhubungan seksual.
Cemas akan kemampuan berhubungan seksual
Tidak sedikit orang yang kurang berpengalaman dalam
berhubungan seksual merasa khawatir tidak bisa memuaskan pasangannya. Meski
tampak ringan, tapi beberapa orang bisa merasa sangat ketakutan hingga berisiko
menimbulkan genophobia.
Takut akan penyakit
Berhubungan seksual memang dapat meningkatkan risiko
penularan penyakit berbahaya, seperti HIV. Risiko ini sebenarnya dapat
dikurangi dengan menggunakan kondom dan setia pada pasangan. Namun, orang yang
mengalami fobia seks, tidak dapat berpikir logis dan menganggap bahwa hubungan
seksual adalah hal yang terlalu berbahaya.
Jika kamu atau orang yang kamu kenal mengalami fobia seks,
jangan terlalu sedih karena kondisi ini dapat disembuhkan. Penanganan fobia
seks disesuaikan dengan penyebab yang menyertainya.
Maka dari itu, bila kamu atau pasangan mengalami gejala
fobia seks, coba konsultasikan kepada psikolog atau psikiater. Hal ini
bertujuan agar penyebab fobia dapat segera diketahui sehingga penanganannya pun
tepat. Dengan penanganan yang tepat, ketakutan akan seks akan berkurang,
sehingga pasien dapat menikmati hubungan seksual bersama pasangannya. (Sumber:
Alodokter)
Editor: Sianturi


