Mengenal Mina Natkime, Perempuan Amungme Binaan Freeport Yang Tumbuh Bersama Usaha Lokal Papua Mina Natkime, pemilik PT Namung Pingam Owil binaan PT Freeport Indonesia bersama bus karyawan yang berhasil dibelinya dari usaha selama ini usai launching, Selasa (17/3/2026)(Salampapua.com/Sianturi)

Mengenal Mina Natkime, Perempuan Amungme Binaan Freeport Yang Tumbuh Bersama Usaha Lokal Papua

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Keberanian untuk memulai dari hal kecil menjadi salah satu kunci perjalanan Mina Natkime dalam membangun usaha di Kabupaten Mimika. Perempuan asal Suku Amungme ini membuktikan bahwa menjadi pengusaha bukan semata-mata tentang mengejar keuntungan, tetapi juga tentang membuka kesempatan dan meningkatkan kualitas hidup orang lain.

Di usia 38 tahun, Mina kini dipercaya memimpin PT Namung Pingam Owil (PT NPO), perusahaan lokal Papua yang bergerak di bidang kontraktor, leveransir, serta perdagangan barang dan jasa miliknya.

Perjalanan Mina menjadi pengusaha tidak datang secara tiba-tiba. Latar belakang keluarga, pengalaman pendidikan, pekerjaan, hingga keberaniannya mencari peluang menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk dirinya sebagai seorang entrepreneur.

Mina Natkime (3 dari kiri) bersama pihak PT AVCO dan PT Freeport Indonesia pada launching bus karyawan di Terminal Keberangkatan Bandara Mozes Kilangin, Selasa (17/3/2026)(Salampapua.com/Sianturi) Mina Natkime (3 dari kiri) bersama pihak PT AVCO dan PT Freeport Indonesia pada launching bus karyawan di Terminal Keberangkatan Bandara Mozes Kilangin, Selasa (17/3/2026)(Salampapua.com/Sianturi)

Mina merupakan putri almarhum Silas Natkime, seorang tokoh masyarakat yang juga pernah menjadi salah satu petinggi di PT Freeport Indonesia (PTFI). Namun, bagi Mina, latar belakang tersebut bukan alasan untuk bergantung pada nama keluarga.

Justru dari sanalah tumbuh keinginan untuk ikut memberikan kontribusi bagi masyarakat, khususnya dalam membangun kemandirian ekonomi orang asli Papua.

Dari Asrama Tembagapura hingga Australia

Mina lahir di Tembagapura pada 13 September 1988. Masa kecilnya dihabiskan dalam lingkungan pendidikan yang dekat dengan aktivitas PTFI. Ia menempuh pendidikan di lingkungan Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Tembagapura dan pernah tinggal di asrama Tomawin Tembagapura.

Kesempatan kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke St John's College, Darwin, Australia. Pendidikan tersebut menjadi pengalaman penting karena Mina tidak hanya memperoleh pengetahuan akademis, tetapi juga berkesempatan mengenal lingkungan dan budaya kerja yang berbeda.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Australia, Mina melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Tarumanagara, Jakarta, dan meraih gelar Sarjana Ekonomi pada 2016.

Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia usaha, Mina sempat bekerja sebagai kasir di sebuah restoran di Darwin, Australia. Ia kemudian bekerja sebagai tenaga administrasi di Bengkel Waanal, Timika.

Pengalaman tersebut menjadi bekal awal dalam memahami bagaimana sebuah pekerjaan dijalankan, bagaimana keuangan dikelola, serta bagaimana berkomunikasi dengan orang lain dalam lingkungan kerja.

Berani Mengetuk Pintu PTFI

Keberanian menjadi modal penting ketika Mina mulai mencari peluang untuk mengembangkan usaha. Alih-alih menunggu kesempatan datang, Mina justru mengambil langkah dengan mengirimkan email kepada pimpinan PTFI untuk mengajukan kerja sama.

Ia melampirkan dokumen yang menunjukkan kemampuan dan kesiapan dirinya dalam menjalankan usaha.

Langkah sederhana tersebut kemudian membuka pintu kesempatan. Mina diterima mengikuti program pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) PTFI melalui Community Economy Development (CED) Department Multi Affairs Division.

Bagi Mina, program tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan usahanya.

“Dulu saya tidak banyak memiliki pengalaman, namun dengan pembinaan dari PTFI saya mendapatkan banyak pengetahuan dan kesempatan yang sangat besar,” ujar Mina yang ditemui pada 17 Maret 2026 lalu.

Melalui program tersebut, Mina mendapatkan pelatihan, pendampingan, coaching, advokasi, hingga bimbingan rutin. Ia juga mendapatkan konsultasi mengenai pengelolaan bisnis dan diarahkan untuk memahami kebutuhan pengguna jasa.

Pembinaan itu tidak hanya berbicara mengenai bagaimana mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bagaimana membangun perusahaan yang mampu bertahan dan berkembang secara mandiri.

Membangun PT Namung Pingam Owil

Mina kemudian membangun PT Namung Pingam Owil. Perusahaan tersebut didirikan pada 18 Oktober 2018 dan berkembang menjadi salah satu usaha lokal yang dipimpinnya langsung.

PT NPO bergerak di bidang kontraktor, leveransir, serta perdagangan barang dan jasa. Sejak awal, perusahaan berupaya membuka peluang kerja sama dengan perusahaan swasta, BUMN, BUMD maupun instansi pemerintah.

Perjalanan usaha tersebut mulai menunjukkan perkembangan ketika pada Desember 2020 PT NPO beroperasi sebagai subkontraktor PT Airfast Aviation Facilities Company (AVCO) di Bandara Mozes Kilangin, Timika.

Dalam kerja sama tersebut, PT NPO menangani pekerjaan housekeeping di Bandara Lama Mozes Kilangin, meliputi area terminal, perintis, hanggar hingga ground support equipment (GSE).

Dari pekerjaan tersebut, PT NPO kemudian berkembang dengan mempekerjakan sekitar 30 karyawan.

Bagi Mina, jumlah karyawan tersebut bukan sekadar angka dalam laporan perusahaan. Mereka adalah orang-orang yang ikut menggantungkan kehidupan keluarganya pada usaha yang dijalankan. Karena itu, kesejahteraan karyawan menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnisnya.

Minibus untuk Karyawan

Salah satu pencapaian yang menjadi kebanggaan Mina adalah pengadaan minibus untuk mendukung mobilitas sekitar 30 karyawannya. Pengadaan kendaraan tersebut diresmikan melalui acara syukuran di Bandara Mozes Kilangin pada 17 Maret 2026.

Keberadaan kendaraan itu sangat membantu para pekerja, terutama karena aktivitas pekerjaan di bandara dimulai sejak pagi.

Bagi Mina, penyediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan.

“Memang usaha saya di bidang penyediaan tenaga kebersihan, tetapi saya tidak malu. Dari usaha kecil ini saya bisa membantu meningkatkan kualitas hidup orang lain dan perekonomian karyawan,” katanya.

Ia menegaskan, ukuran keberhasilan seorang pengusaha tidak hanya dilihat dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

PTFI Dorong Kemandirian, Bukan Ketergantungan

Perwakilan Program Pembinaan Usaha Kecil dan Menengah CED Department Multi Affairs Division PTFI, Roby Santika, mengatakan pembinaan terhadap Mina dilakukan berdasarkan hasil assessment kebutuhan usaha.

Menurutnya, pembinaan diarahkan agar bisnis yang dijalankan dapat berkembang sekaligus meningkatkan kapasitas Mina sebagai pengusaha.

“Kami memberikan berbagai pendampingan, mulai dari pelatihan, coaching, advokasi hingga bimbingan rutin, agar usahanya berjalan baik dan terus berkembang,” jelas Roby.

PTFI juga memberikan konsultasi bisnis dan mendorong Mina menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pengguna jasa, termasuk PT AVCO.

Menurut Roby, mengelola sekitar 30 karyawan bukan pekerjaan sederhana. Karena itu, pembinaan juga mencakup pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, hingga penguatan jaringan bisnis dengan lembaga perbankan.

“Pembiayaan pengadaan kendaraan ini berasal dari modal sendiri dan dukungan perbankan. Kami dorong agar pelaku usaha terbiasa berinteraksi dengan lembaga keuangan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama program pembinaan adalah menciptakan kemandirian usaha.

“Kami harapkan ke depan Ibu Mina bisa mandiri dalam mengelola usahanya, baik dari sisi operasional maupun manajerial. Sejauh ini, perkembangan usahanya berjalan baik,” katanya.

Menurut Roby, salah satu kekuatan Mina adalah semangatnya sebagai perempuan pengusaha atau woman entrepreneur.

Selain usaha utama, Mina juga mengembangkan bisnis lain, termasuk penjualan produk khas Papua di Bandara Timika.

“Dalam kata pengusaha ada kata ‘usaha’. Artinya harus terus berusaha, belajar, dan tidak mudah menyerah. Kesempatan datang karena kemampuan, bukan karena memaksa,” kata Roby.

AVCO: Responsif dan Peduli Karyawan

Penilaian positif juga datang dari pihak AVCO sebagai mitra kerja PT NPO.

Manager Airfast Aviation Facilities Company (AVCO), Edward Hutahayan, mengatakan kerja sama dengan PT NPO selama ini berjalan baik dan profesional.

Menurut Edward, PT NPO mampu merespons setiap masukan dengan cepat, terutama berkaitan dengan keselamatan dan peningkatan kinerja.

“Selama ini kerja sama berjalan baik. Mereka mudah diajak koordinasi dan cepat merespons setiap masukan, terutama terkait keselamatan. Secara umum, performa mereka juga cukup baik,” ujarnya.

Edward juga mengapresiasi keputusan PT NPO menyediakan kendaraan bagi karyawan setelah sekitar lima tahun menjalankan kerja sama.

“Ini langkah yang luar biasa. Dengan adanya transportasi, karyawan lebih mudah berangkat kerja, apalagi aktivitas di bandara sudah dimulai sejak pagi, sekitar pukul 05.30 WIT,” jelasnya.

Menurut Edward, pengadaan kendaraan tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola pendapatan sekaligus menginvestasikannya kembali untuk kebutuhan karyawan.

Mendorong Generasi Muda Papua

Bagi Mina, perjalanan menjadi pengusaha masih jauh dari selesai. Ia menyadari bahwa dunia usaha selalu membutuhkan kemampuan beradaptasi, keberanian mengambil keputusan, serta kemauan untuk terus belajar.

Karena itu, ia mengajak generasi muda Papua, terutama perempuan, untuk tidak takut memulai usaha meskipun dari skala kecil.

“Anak muda Papua tidak boleh gengsi dan tidak boleh terlibat dalam hal-hal negatif,” tegasnya.

Pesan tersebut lahir dari pengalaman pribadinya. Mina memahami bahwa membangun usaha membutuhkan proses panjang. Ada kesempatan yang harus dikejar, ada kemampuan yang harus terus diasah, dan ada kepercayaan yang harus dibangun melalui kerja nyata.

Selain memimpin perusahaan, Mina juga aktif dalam organisasi, salah satunya sebagai Ketua UMKM pada Kamar Adat Pengusaha (KAP) Papua.

Ia juga terus mengikuti berbagai pelatihan, seminar, serta program pengembangan kepemimpinan dan kewirausahaan. Mina bahkan pernah mengembangkan usaha butik yang menjual berbagai produk khas Papua, seperti noken, kaos dan aksesori.

Kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, Inggris, maupun bahasa Papua turut menjadi modal dalam membangun jaringan usaha.

Tumbuh dari Akar Papua

Kisah Mina Natkime pada akhirnya bukan hanya tentang seorang perempuan yang berhasil memimpin sebuah perusahaan.

Di balik perjalanan tersebut terdapat cerita tentang keberanian seorang perempuan Amungme untuk mengambil peluang, belajar dari pengalaman, membangun usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.

PT Namung Pingam Owil tumbuh dari semangat kemandirian. Perusahaan tersebut menjadi ruang bagi tenaga kerja lokal untuk memperoleh penghasilan sekaligus pengalaman profesional.

Mina ingin perusahaan yang dipimpinnya tidak berhenti sebagai usaha lokal, tetapi terus berkembang dan mampu bersaing hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Baginya, keberhasilan usaha memiliki makna yang lebih luas ketika pertumbuhan perusahaan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dari Tembagapura, pengalaman pendidikan di Australia dan Jakarta, hingga memimpin puluhan pekerja di Timika, perjalanan Mina menunjukkan bahwa perempuan Papua memiliki ruang yang sama untuk tumbuh dan menjadi penggerak ekonomi.

Ia memilih untuk tidak gengsi memulai dari usaha penyediaan tenaga kebersihan. Sebab dari pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana itu, Mina menemukan makna besar tentang kemandirian, keberanian dan tanggung jawab.

“Dari usaha kecil ini saya bisa membantu meningkatkan kualitas hidup orang lain.”

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang prinsip yang terus dibawanya: usaha bukan hanya tentang seberapa besar perusahaan tumbuh, tetapi tentang berapa banyak orang yang dapat ikut tumbuh bersamanya. (Sampe Sianturi– Salampapua.com)