SALAM PAPUA (TIMIKA)- Turnamen bulu tangkis paling
legendaris di dunia, All England Open 2026, menjadi panggung pembuktian bagi
pasangan muda Indonesia Raymond Indra / Nikolaus Joaquin.
Datang sebagai debutan di turnamen level BWF World Tour
Super 1000, tidak banyak yang memprediksi perjalanan mereka akan melaju sejauh
ini. Namun justru dari situ cerita besar mulai tercipta.
Perjalanan mereka tidak dimulai dengan mudah. Di babak
pertama, Raymond/Joaquin langsung menghadapi pasangan Korea Selatan, Kang Min
Hyuk / Ki Dong Ju. Setelah kehilangan gim pertama, mereka bangkit dengan
determinasi tinggi dan membalikkan keadaan menjadi 17-21, 21-12, 21-19.
Tantangan berikutnya bahkan lebih emosional. Di babak 16
besar, mereka harus menghadapi senior sendiri, Fajar Alfian / Muhammad Shohibul
Fikri. Sempat tertekan di gim pertama dengan skor 8-21, Raymond/Joaquin kembali
menunjukkan mental kuat. Mereka bangkit dan menutup pertandingan dengan
kemenangan 21-14, 21-16, sekaligus memperpanjang rekor kemenangan atas
seniornya menjadi tiga kali berturut-turut.
Kejutan terbesar terjadi di perempat final. Menghadapi
unggulan ketiga asal China, Liang Wei Keng / Wang Chang, pasangan peringkat 17
dunia ini tampil tanpa rasa takut. Dengan permainan cepat dan penuh percaya
diri, mereka menyingkirkan pasangan elite tersebut 21-18, 21-12 hanya dalam 36
menit.
Nama Raymond/Joaquin pun mulai menjadi perbincangan di
Utilita Arena Birmingham. Namun perjalanan indah itu akhirnya terhenti di
semifinal. Menghadapi ganda putra nomor satu dunia sekaligus juara bertahan
asal Korea Selatan, Kim Won Ho / Seo Seung Jae, mereka harus mengakui
keunggulan lawan dengan skor 19-21, 13-21
Meski kalah, Raymond menyebut pengalaman di All England kali
ini sebagai pelajaran luar biasa. Sejak babak pertama, mereka tidak pernah
menghadapi lawan yang mudah. Setiap pertandingan terasa seperti final karena
level persaingan yang sangat tinggi.
Joaquin juga mengaku merasakan aura berbeda dari pasangan
nomor satu dunia tersebut. Menurutnya, konsistensi Kim/Seo sudah terlihat sejak
sesi pemanasan hingga pertandingan berakhir, sebuah standar yang ingin mereka
capai di masa depan.
Meski langkah mereka terhenti di semifinal, perjalanan ini
justru menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Bagi Raymond dan Joaquin,
All England 2026 bukanlah akhir cerita, melainkan batu loncatan untuk menantang
dunia.
Dengan penuh semangat, mereka menyampaikan pesan kepada para
pendukung bulu tangkis Indonesia bahwa mereka akan terus berkembang dan
belajar, sembari berharap dukungan masyarakat Indonesia selalu menyertai
perjalanan mereka.
Dari Birmingham tahun ini, dunia mulai melihat bahwa masa
depan ganda putra Indonesia sedang tumbuh. (Sumber: Suara Sport)
Editor: Sianturi

